Me and My Hijab

(sebelumnya telah di posting di Kompasiana dengan akun saya sendiri)

 

Kisah ini sangat sederhana, namun karena seorang sahabat me-request agar cerita ini ditulis dengan manis, because she do believe that somebody out there will be inspired after reading it, jadi saya tulis dengan gaya bahasa saya. Hehe.. Seperti yang sering di salah dugai oleh beberapa orang, saya tidak tumbuh dalam keluarga agamis, ayah saya bukan seorang da’i, atau pemilik pesantren. Rumah saya pun tidak di sekitaran kampung arab atau makam wali seperti yang dikira kebanyakan orang (karena saya dari Gresik). Bahkan kedua orang tua saya belum berhaji, jadi apa yang menjadi citra diri saya sekarang, benar-benar sesuatu yang saya cari sendiri. Mari saya ceritakan sedikit tentang kedua orang tua saya. Ibu saya adalah orang yang modern dan menginginkan kami semua demikian. Beliau tidak mau anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang picik, yang hanya tahu rumah dan sekolah. Saat saya masih anak-anak, Ibu suka sekali mengikutkan saya les tari, menyanyi, ataupun fashion show. Setiap kesempatan untuk tampil itu ada, Ibu selalu mengikut sertakan saya. Saya dibentuk menjadi ikon panutan. Wanita yang modis, modern dan serba bisa. Lain halnya dengan Ayah. Ayah adalah anak pulau yang terdampar di kerasnya kehidupan Jawa. Memiliki prinsip hidup yang keras, memegang teguh norma-norma dan nilai-nilai ketimuran. Ayah saya termasuk orang kolot yang lebih suka melihat saya berambut panjang dengan gaun-gaun cantik dan bersikap lemah lembut. beliau lebih suka bila anak-anak gadisnya menjadi anak yang anggun dan santun. Seringkali beliau menentang ide-ide ibu saya untuk mengajarkan segala hal tentang menjadi modern dan modis. Tapi pada akhirnya, Ayah memutuskan agar anaknya bisa menilai dan membuat keputusan sendiri seiring dengan pertambahan umur anak-anaknya. Namun kedua orang tua saya setuju akan satu hal. Kami harus bisa survive mengikuti perkembangan jaman. Malah, kalau bisa, kami adalah bagian dari perkembangan jaman tersebut. Maka sedari kecil saya dilepas agar mandiri. Saya terbiasa kemana-mana sendiri tanpa ada yang mengikuti. Namun tentu saja, orang tua tidak pernah lepas kontrol, dan saya tidak sebodoh itu sehingga berkeinginan untuk menyalahi kepercayaan orang tua saya. Kembali ke masalah berjilbab. Tentu saja, saya sangat ingin berjilbab sejak saya remaja, sejak saya SMP, ketika saya menyadari bahwa kakak sepupu saya yang kuliah kedokteran terlihat sangat anggun mengenakan jilbab dan baju panjang. Saya pun merengek kepada Ayah dan Ibu. Pada dasarnya Ayah mengijinkan, bahkan mensupport, namun Ibu kurang setuju. Karena saat itu beliau khawatir bila saya berjilbab penampilan saya jadi kampungan, tidak menarik, dan saya tidak akan punya pacar (mengingat jeleknya sifat saya saat menghadapi laki-laki). Alhasil, Ibu menjanjikan saya untuk berjilbab ketika sudah SMU. Dan waktu kelulusan tiba, saya berhasil masuk SMU yang saya inginkan. Saya tagih lagi janji tersebut. Ibu beralasan, kalau SMU nanti saya bakal pakai rok panjang yang akan menyusahkan saya dalam bergerak, Ibu khawatir saya tambah sering jatuh kalau pakai rok panjang. Alasan Ibu masuk akal menurut saya saat itu. Dan Ibu menjanjikan, nanti kalau sudah kuliah, saya bisa mengenakan jilbab dengan alasan, saya bisa pakai celana saat kuliah. Jadi nggak terganggu aktifitasnya alias tetap lincah. Saya pun bersabar lagi dan melupakan sejenak keinginan saya berjilbab. Suatu ketika saya berada dalam fase setengah-setengah. Kalau sekolah tidak pakai jilbab, sedangkan kalau diluar saya pakai jilbab. Saya merasa senang, saat itu. Akan tetapi yang menyakitkan adalah pacar saya saat itu malah tidak suka saya berjilbab, dan dengan nada bercanda menyuruh saya melepas jilbab, padahal jelas-jelas kami sedang ada di atas sepeda motor di tengah jalan. Terus terang saya merasa terhina. Saya jadi bertanya-tanya, mengapa keinginan saya untuk berjilbab terus menerus menemui halangan? Apa saya tidak pantas? Apa saya tidak cukup baik untuk berjilbab? Tak berapa lama saya diterima masuk di sebuah universitas negeri di Surabaya. Dan saat itu saya sudah putus dengan pacar saya. Saya menemukan bahwa, ketika saya tidak berjilbab, laki-laki yang “tidak benar” lebih mudah saya tarik, seakan-akan saya ini magnet. Saya jadi kesal sendiri dan memutuskan untuk bersembunyi saja, tidak usah terlihat cantik lagi. Tidak mau lagi saya gerai rambut atau pakai pakaian modis. Dan mulailah saya mengoleksi jaket-jaket besar dan gombor supaya bentuk badan tidak terlihat, supaya saya seperti laki-laki. Supaya tidak ada lagi cowok iseng yang menoleh. Lalu saya berpikir, mengapa tidak berjilbab saja sekalian?? Dan saya pun mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian demi mewujudkannya. Masa bodoh dengan kekhawatiran Ibu saya tentang saya dan laki-laki (isu yang paling disukai Ibu saya). Akhirnya di suatu sholat saya memohon pada yang membuat malam “Ya Rabb, ijinkan aku menjadi salah satu orang sholeh yang selalu aku kagumi, dan berikanlah aku teman-teman dan sahabat yang mampu mendekatkan aku selalu pada-Mu”. Dan dengan Basmallah dan kenekatan, saya memutuskan berjilbab. Sejak pertama berjilbab, saya tahu bahwa saya tidak seharusnya memakai pakaian yang ketat (yang saat itu saya disuplai oleh Ibu, baju lengan panjang modis yang rata2 pas badan). Dan karena saya dari dulu suka memakai pakaian kakak2 sepupu laki-laki saya yang longgar, jadilah baju tersebut menjadi andalan-andalan saya. Pertama kali, teman-teman sepermainan saya mengolok-olok saya “lanang jilbaban (laki-laki berjilbab)”. Saya cuek saja. Dan dengan tenang saya memakai gaya pakaian tersebut selama beberapa lama. Saya merasa aman dari gangguan cowok-cowok “jahil”. Saya merasa aman karena di kampus, banyak juga yang penampilannya seperti saya namun dengan wajah yang lebih cantik sehingga (dalam pikiran saya) dijadikan pilihan kesekian untuk diisengin. Kemudian saya bertemu dengan gadis cantik ini. Gadis cantik yang dikerubutin banyak kumbang. Yang dimata saya, dia selalu cantik. Dan tambah cantik saat mengenakan setelan baju kurung dan rok panjang serta jilbab yang lebar. Tak lama saya jadi bersahabat dengannya, sehati dengannya, dan akhirnya saya berakhir dengan meniru gaya pakaiannya. Ketika dia sudah mulai mengenakan gamis, saya pun mulai mengoleksi dengan sembunyi-sembunyi, gamis cantik yang saya cita-citakan untuk saya pakai. Saya berharap suatu saat, saya berani mengenakan busana tersebut dan benar-benar menjadikannya gaya hidup saya, persis seperti gadis cantik tersebut. Yang tidak benar pada jalan berpikir saya waktu itu, adalah, saya sangat tidak acuh dengan konsep “inner beauty” dari berjilbab itu. Saya lupa dan sengaja tidak mau belajar, bahwa ada tanggung jawab besar sebagai seorang pribadi muslim yang tidak sepantasnya untuk ditinggalkan. Yakni belajar, mengerti, memahami serta mengamalkan apa yang saya yakini. Karena jilbab tidak semata-mata pada pakaian, tapi juga hati. Dan akan lebih baik bila hal itu bisa sampai menjadi karakter. Tidak ada (bagi saya, saat ini) istilah “lebih dulu” antara yang dijilbabi hatinya dulu atau badannya dulu. Karena seperti halnya jilbab, mencari ilmu juga adalah kewajiban. Masa kita mengikuti sebagian perintah, tapi mendustakan perintah yang lain (monggo dicari di qur’an. Insya Allah ada). Jadi jilbab hati dan jilbab badan, harus berjalan selaras, seimbang dan bersama-sama. Waktu itu saya takut, bila saya mempelajari islam secara mendalam, karakter saya akan berubah. Saya takut dibenci dan dijauhi oleh teman-teman, keluarga dan orang-orang yang saya sayangi di masa lampau. Saya takut kehilangan saya, karakter saya, semua sifat saya, semua hal yang mensupport eksistensi saya. Saya setakut itu hingga memaksa diri untuk menutup mata dan telinga tentang kewajiban yang satu itu. Sampailah saya pada fase “setengah-setengah season 2” yaitu, saya dari luar terlihat seperti seorang wanita sholehah yang alim, namun dalamnya kosong. Persis seperti tahu pong. Dan benar saja, ketika masa-masa konflik itu datang, saya pun kehilangan arah. Sembunyi-sembunyi saya mulai kepada pribadi sebelum saya berjilbab, bahkan dalam beberapa hal semuanya jadi terlalu parah (menurut saya, dan tidak akan saya ceritakan disini). Dan puncaknya, saya bertengkar hebat dengan sahabat yang saya kasihi itu. Perempuan yang saya idolakan itu menjadi seperti pengecut (maaf) dimata saya. Dan seketika, saya tidak mau seperti dia. Dan seperti layangan putus, saya melayang seenak saya, sesuka saya, mencari lagi jati diri saya dari nol. Saya pergi kemana angin berhembus. Saya menjadi bunglon. Berubah-ubah sesuai dengan lingkungan di sekitar saya. Saya justru jadi kehilangan jati diri. Eksis namun tidak nyata. Ada tapi kosong. Tersenyum namun sedih. Dan saat saya jadi terlalu sedih, saya menghilang. Menghibur diri dengan kesenangan-kesenangan semu. Menghambur-hamburkan waktu, tenaga, dan uang, bersenang-senang, tapi saya sendirian. Kosong dan sendirian. Dan ketika konflik demi konflik dalam kehidupan saya mulai muncul, saya menjadi orang yang sangat tidak terkendali. Saya menjadi orang yang mudah meledak-ledak, saya menjadi pribadi yang saya benci, saya menjadi orang yang sangat bertolak belakang dengan yang saya inginkan. Masya Allah, bila diingat, saya sangat malu dan sedih bahwa saya pernah menjadi pribadi yang demikian. Saya putus asa. Saya jadi suka menyiksa diri dengan mengejar impian-impian yang menurut saya semu, yang ketika impian tersebut sudah diujung sukses, saya takut, karena tidak tahu harus mengejar atau mengerjakan apalagi. Terus menerus demikian. Saya “Nampak” sukses, namun sungguh, saya tidak mengerti, sebelah mana yang harus saya banggakan. Saya sungguh-sungguh hilang arah. Namun Allah SWT sungguh menyayangi saya. Saya diberi kesempatan untuk pergi sangat jauh ( jauh banget sampai susah pulang) untuk merenungkan lagi apa saja yang saya inginkan. Apa yang saya cita-citakan. Saya “daftar” kembali orang-orang yang saya sayangi, dan apa yang harus saya lakukan untuk mereka. Mencoba menggali lagi, apa arti dari eksistensi saya di muka bumi. Dan Alhamdulillah, dengan sedikit pemicu yang manis, Allah SWT mengembalikan lagi saya ke jalur yang seharusnya. Jalur yang ingin saya tempuh. Jalur yang takut-takut untuk saya jalani, namun sesungguhnya saya idamkan. Saya bersedia belajar dari nol. Saya bersedia menebus seluruh waktu yang hilang untuk mendapatkan semua yang saya cita-citakan. Tentu saja, perubahan ini sungguh-sungguh tidak mudah. Saya masih ingat, dulu sekali sewaktu saya masih S1, adik saya pernah berkata “Mbak, jangan pakai baju kayak gitu ta, njomplang(bertolak belakang) banget lho sama aku!”. Saya sungguh tidak ingin dibeda-bedakan. Dan saya nggak pernah berpikir, apa yang terjadi pada tampilan fisik saya akan menjadi milestone yang berat bagi adik-adik saya. Tentu saja, saya akan senang sekali bila adik-adik saya juga bisa menjadi teman seperjuangan saya dalam mencari hidayah dan rahmat Allah SWT. Namun, apabila tidak, saya pasti akan tetap menyayangi mereka dengan sepenuh hati saya. Tanpa syarat apapun. Kemudian keluarga ibu saya yang separuhnya non-muslim. Awalnya tidak terlalu suka dengan pilihan gaya berpakaian saya, bahkan ada yang terang-terangan menyuruh saya buka jilbab dengan alasan agar saya lebih menarik dan lebih mudah mendapatkan jodoh. Mau tidak mau, saya geli, namun dengan tegas nan halus saya menolak. Lama kelamaan, mereka pun membiarkan saja sesuka saya. Toh, pada dasarnya mereka menghargai saya dan menghormati apa yang saya anut. Saya pun menyayangi mereka, saya hanya tidak sependapat saja dengan apa yang mereka anut. Namun itu tidak menghentikan saya untuk menyayangi mereka tanpa syarat. Teman-teman sepermainan pun tidak terelakkan pula herannya. Apalagi, teman main saya adalah teman-teman ngeband jaman masih SMA dulu. Malah ada yang terang-terangan bilang, “Harusnya pulang dari Taiwan tuh pake baju bulu-bulu, modis kayak artis dorama! Kok kamu malah pake baju kayak gini?!”, saya sejujurnya bingung bukan main harus menjawab seperti apa. Namun karena pada dasarnya saya jago ngeles, pasti ada saja jawaban lucu yang tidak sengaja terucapkan, demi menjaga hubungan silahturahmi saya dengan mereka. Dan kesinisan mereka atas perubahan saya pun tidak sedikitpun mengubah rasa sayang saya pada mereka yang juga tanpa syarat. Tidak sedikit yang mengira usia saya sudah 30-an atau bahkan sudah menikah (tapi biasanya orang langsung sadar begitu saya nggak pakai cincin) dengan pilihan baju yang saya pilih. Dulu mungkin saya akan bête dan berusaha supaya lebih terlihat muda, atau minimal berusaha nampak lebih modis, supaya perkiraan umurnya nggak jauh-jauh. Tapi sekarang, entah mengapa saya benar-benar nggak ambil pusing. Walaupun saya suka bercanda dengan seorang teman bahwa saya kesal karena bertampang emak-emak, namun di dalam hati, saya sungguh menyukai saya yang sekarang. Sesulit apapun hal tersebut untuk dipercaya. Saya nggak akan menghakimi, atau setidaknya berusaha untuk tidak demikian terhadap orang-orang yang penampilannya tidak sama seperti saya, atau bahkan orang-orang yang tidak menganut keyakinan yang sama terhadap saya, karena apa yang saya lalui adalah proses saya. Versi saya. Maka teman-teman carilah prosesmu sendiri, dan ceritakan pada dunia, karena mungkin (seperti yang sahabat saya bilang) seseorang diluar sana mungkin saja terinspirasi dengan kisahmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s