Tentang Papa

(sebelumnya sudah diposting di Kompasiana pada 29 Juni 2011)

Er…

Ini sebenarnya bisa dibilang common story..

Hari ini saya jadi agak sedikit melankolis karena Papa saya ulang tahun dan saya nggak bisa berada dirumah buat sekedar mengucapkan, membuatkan teh manis dan membuatnya tersenyum. Dan saya membaca tulisan kompasianer tetangga yang membuat saya pun ingin sedikit curhat tentang Papa.

Sejak kecil, Papa adalah idola buat saya. Dari beliaulah prototype saya tentang laki-laki terbangun. Karena memang beliaulah laki-laki pertama yang saya cintai dan kagumi. Saya suka sekali saat Papa saya menggendong saya tinggi-tinggi, mengajak keliling kota naik sepeda motor, dan saat kami pergi ke pusat perbelanjaan, Papa tidak pernah berkata ‘tidak’ pada setiap yang saya minta. Akan tetapi beliau tidak memanjakan hingga membuat kami terlena, beliau selalu mengajari dan mengarahkan kami agar selalu membuat keputusan yang tepat.

Papa saya berlaku demikian pun bukan tanpa alasan. Saya tahu sekali masa kecilnya yang dihabiskan di Pulau Wanci di sudut Sulawesi Tenggara sangat berat. Sejak kecil, beliau dididik dengan keras oleh Kakek yang merupakan mantri yang cukup dihormati di pulau kecil itu. Walaupun Kakek saya mantri, tapi mereka hidup dalam kondisi yang sangat prihatin. Bagi Kakek, nama baik lebih berharga daripada uang. Jadi Kakek mati-matian membuat anak-anaknya berhasil tanpa harus mengemis, curang atau mencuri. Akan tetapi, kondisi ekonomi keluarga pada saat itu memang sangat buruk, hingga saat SMP papa saya harus beranjak ke pulau lain untuk bersekolah sekaligus mencari nafkah. Agak mirip dengan cerita Laskar Pelangi ya?! Tapi memang itulah kenyataannya. Di usia semuda itu Papa harus bekerja banting tulang demi mencukupi kehidupannya sendiri. Berangkatlah beliau merantau, berdua dengan kakak sepupunya. Melewati tahun demi tahun sampai beliau SMA dengan kondisi serba pas-pasan.

Dan ketika tiba saatnya hendak kuliah, Papa pun meminta izin untuk pergi ke Jawa, merantau, bekerja sekaligus mencari ilmu disana. Akan tetapi Kakek tidak mengizinkan. Kakek tidak menyangka bahwa anaknya akan merantau hingga ke Jawa. Pulau yang keras bagi para perantau. Pulau dengan tingkat ketidak pastian yang begitu tinggi. Kakek pun bersikeras tidak membolehkan Papa berangkat, namun Papa jauh lebih keras kepala hingga berani melawan kata-kata Kakek yang sekalipun tidak pernah dilawannya itu. Akhirnya, Papa berangkat dengan bekal seadanya, keluar dari pulau kecil itu dan mengejar mimpi yang jauh lebih besar. Bukan tanpa pengorbanan keputusan Papa ini. Papa harus mencari uang dengan cara berlayar selama setahun di kapal ekspedisi kenalannya demi mengumpulkan rupiah agar bisa bertahan hidup di pulau Jawa.

Gabungan antara kerasnya hidup, sulitnya pilihan-pilihan yang harus dibuat, membuatnya menjadi pengambil keputusan yang cukup kompeten di bidangnya. Papa selalu mengkader anak-anaknya sejak dini, agar pandai dalam mengambil keputusan. Bila kami meminta sesuatu pada beliau, beliau selalu menanyakan,

“Apa rencana jangka panjangmu dengan benda ini?”

Bila kami tidak bisa menemukan jawaban yang tepat, atau terkesan mengada-ada, maka Papa akan menunda permintaan kami, sampai kami bisa menemukan jawaban yang tepat. Bila kami tidak berani memperjuangkan apa yang kami minta, itu artinya kami tidak sungguh-sungguh ingin atau butuh benda tersebut.

Seperti yang sudah saya sebutkan, Papa adalah seorang pengambil keputusan yang kompeten. Tak ayal, Papa pun menjadi orang penting di kota tempat kami tinggal. Tidak ada yang tidak mengenal beliau. Bahkan sering kali, kami semua harus menyembunyikan kenyataan siapa orang tua kami hanya agar orang-orang tidak berlaku “special” pada kami. Papa sadar betul dan banyak belajar, dari kehidupan masa lalunya, bagaimana beratnya tumbuh sebagai seorang anak yang memiliki orang tua yang sangat disegani. Tidak jarang, masyarakat bisa jadi demikian kejam dalam menilai dan membandingkan dua manusia yang berbeda jaman. Ayah dan anak.

Papa selalu mendidik kami untuk tidak malu pada keadaan. Mungkin sebagian besar dari anda mengira, bahwa hidup kami mewah, dihormati orang banyak, dan berlimpah kenyamanan sepanjang masa kecil saya hingga sekarang. Hidup tidak pernah sesederhana itu. Papa adalah seorang pengambil keputusan yang sangat kompeten. Beliau selalu berusaha sedapat mungkin untuk bersikap jujur dan adil saat mengambil keputusan. Tidak jarang, keputusan-keputusan beliau sangat bertentangan dengan kepentingan para penguasa pada masa itu. Hingga tidak jarang bila beliau dituduh sebagai orang yang sok jujur dan tidak mau diajak hidup enak. Dan kompensasi dari tindakan berani beliau itu, biasanya tidak jauh-jauh dari turun jabatan, gaji kecil dan dikucilkan oleh teman-temannya sendiri.

Dan Papa saya bukanlah nabi yang senantiasa sabar dalam menghadapi cobaan. Beliau pun mengalami masa-masa terluka, dimana beliau merasa tidak dihargai, dan tidak memiliki eksistensi sebagai manusia. Tapi satu, Papa tidak pernah malu oleh keadaan. Ditengah-tengah emosi yang tidak stabil dan ditengah-tengah usahanya untuk bangkit kembali, beliau selalu berusaha menjaga agar anak-anaknya hidup lurus dan jujur. Papa tidak pernah menggunakan koneksi agar anak-anaknya bisa bersekolah di tempat yang bonafide. Saat DANEM saya tidak bisa mencapai SMP favorit, Papa tidak lantas memaksakan untuk masuk sekolah tersebut dengan mengandalkan jabatannya saat itu, yang saya percaya pasti saya bisa masuk dengan sangat mulus. Beliau memasukkan saya ke sekolah yang pantas untuk DANEM saya saat itu. Jujur, awalnya saya kecewa, namun lama kelamaan saya bersyukur, karena mampu beradaptasi dan akhirnya menjadi siswa yang berpretasi hingga bisa masuk SMA unggulan. Hal yang sama terjadi pada kedua adik saya. Saat DANEM mereka terlalu jelek hingga hanya SMP swasta yang mampu menerima, maka mereka berdua pun bersekolah disana. Hingga akhirnya, mereka berdua berhasil membuktikan, seperti halnya saya, bahwa dimana pun kami bersekolah, bila kami mau, kami pasti bisa berprestasi.

Saya masih ingat dengan baik, ketika saya akan memutuskan untuk berkuliah. Ketika saya sedang getol-getolnya belajar untuk SPMB, Papa menanyakan pada saya ingin masuk jurusan apa untuk kuliah. Dengan bangga saya katakan, bahwa saya ingin masuk jurusan kedokteran. Papa hanya mengangguk-angguk, kemudian bertanya lagi, seandainya tidak lolos, saya mau masuk jurusan apa, saat itu saya jawab bahwa saya ingin masuk jurusan Psikologi. Kemudian Papa langsung menawarkan untuk mendaftar pada salah satu universitas swasta yang memiliki jurusan Psikologi terbaik di Surabaya. Saya tahu betul universitas tersebut. Selain terkenal dengan banyaknya mahasiswa keturunan tionghoa dan non-muslim, universitas tersebut juga sangat mahal. SPP satu semesternya sama dengan SPP satu semester saya di NTUST untuk master degree. Saat saya menyampaikan keberatan karena SPP yang mahal dan sebagainya, Papa langsung memotong kata-kata saya,

“Uang itu bisa dicari, tapi pilihan dan kesempatan untuk sekolah itu sangat langka!”.

Saya hanya mampu diam mendengar kata-kata Papa saya yang demikian. Dan ketika saya malah akhirnya lebih memilih hasil SPMB saya yaitu jurusan Teknik Sipil, Papa pun kecewa dengan pilihan saya. Beliau sangat menyayangkan mengapa saya harus memilih jurusan yang tidak saya sukai, hanya karena prestise, biaya dan sebagainya. Dan dengan penuh malu, saya bersekolah di tempat tersebut selama 1 tahun, hingga akhirnya saya bermasalah dengan IPK. Saya mengalami nasib satu koma (NASAKOM) selama satu tahun, hingga membuat saya ingin berhenti kuliah dan pindah ke tempat lain. Pada titik tersebut, Papa pun turun tangan dan menasehati saya,

Papa: “Mbak kenapa kok pengen pindah?”

Saya:”Habis nggak tahan, Pa. Masa kuliah ngulang melulu. Nilai ancur lebur semuanya!”, saya bertutur dengan mata hampir menangis. Suara tercekat, dan nafas satu-satu.

Papa:”Mbak nggak suka dengan tempat kuliahnya atau pelajarannya atau nggak suka karena nilainya jelek?”

Saya:”Semuanya, terutama karena nilainya jelek. Mungkin harusnya aku nggak ngelawan Papa dan masuk Psikologi aja, pasti nilaiku lebih bagus!”

Papa:”Kalo ternyata enggak? Mbak mau pindah juga?”

Aku diam. Memikirkan kata-kata yang sepenuhnya benar. Papa hendak memberi tahu, bahwa aku sedang berusaha lari dari kesulitan.

Papa:”Mbak nggak boleh terus-terusan seperti ini. Semua tempat itu pasti punya hambatan dan rintangannya masing-masing Mbak! Kalo misalkan Mbak keluar dari Teknik Sipil dan pindah, terus ditempat yang baru juga ada masalah, apa mau pindah juga? Kalau pindah-pindah terus kapan selesainya? Masalah itu ya harus dihadapi. Sampai tuntas!”

Dari kasus ini lah saya belajar tentang komitmen dan konsisten. Dari kasus ini, Papa mengajarkan pada saya, bahwa ketika kita sudah mulai mengambil keputusan, yang sudah kita pikir matang-matang dan menurut kita itu paling baik, maka kita harus konsisten dalam mengusahakannya. Dan ketika ada rintangan dan hambatan, maka kita harus berkomitmen penuh pada jalur yang kita tempuh supaya menemukan solusi yang terbaik. Sejak saat itu, saya mulai berusahs menyukai jalan yang saya tempuh, menyelesaikan apa yang saya mulai, hingga akhirnya saya melanjutkan master dan mendapat beasiswa disini.

Pukulan paling berat adalah ketika Mama meninggal dunia hampir 4 tahun yang lalu. Saat itu, karier Papa sedang diatas. Dimana itu berarti, beban pekerjaan Papa sedang berat-beratnya. Adik-adik saya pun sedang menghadapi Ebtanas, dimana itu berarti, saya juga mendapatkan load mengawasi dan mengasuh yang cukup besar disamping ujian akhir semester yang saya hadapi. Namun Alhamdulillah, kami semua tidak berlarut-larut dalam kesedihan, walaupun dalam hati kami semua, kami memiliki penyesalan masing-masing. Contohnya: Papa menyesal karena belum sempat mengajak Mama naik haji. Saya menyesal, hingga sampai Mama meninggal, saya belum menemukan calon pendamping yang pas. Tapi kami semua berusaha menguatkan dan kompak. Walaupun ada saja masalah kecil dan besar yang mengganggu keharmonisan kami sebagai keluarga.

Dan saat saya disini, supporter terbesar saya adalah Papa. Bukan hanya dari segi materi, tapi juga dari segi psikis. Kendala ilmu dan komunikasi dengan tempat belajar saya yang baru serta kendala jarak yang cukup jauh dengan rumah (selain homesick, juga karena saya selalu mengkhawatirkan perkembangan adik-adik saya di rumah) membuat saya sering kali menangis, mutung dan meninggalkan apa-apa yang menjadi kewajiban saya sebagai seorang mahasiswa master. Namun, Papa tidak menyerah dalam mengingatkan saya, bahwa saya harus konsisten dan harus berkomitmen dengan apa yang saya tempuh. Mengingatkan, bahwa saya selama ini sudah bisa beribadah dengan baik (walau rasanya masih kurang) dan mengingatkan untuk tetap berikhtiar. Pelan sekali, baru saya bisa mendapatkan “ritme hidup” dalam menyelesaikan tugas saya disini. Agak sedikit terlambat memang, tapi masih bagus daripada tidak sama sekali. Papa selalu mengatakan, selalu ada alasan dibalik setiap kejadian. Terlambat bukan berarti tidak bagus, hanya sedikit tertunda. Dan bila itu untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus, kenapa tidak?

Disela-sela waktu curhat rutin saya dengan Papa, saya mendapati, Papa berminat sekali ingin menjadikan saya seorang dosen. Beliau menganggap bahwa karakter saya pas bila ingin bekerja sebagai seorang dosen. Awalnya saya menolak, karena untuk menjadi seorang dosen, saya pasti dituntut untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan saya merasa tidak siap untuk menghadapi load belajar seorang calon doktor. Lalu, kami pun berbicara tentang tujuan hidup. Tujuan hidup saya. Papa mulai bertanya, apa yang ingin saya capai dalam hidup. Sedikit banyak, saya bergurau, bahwa saya ingin sekali menirunya. Bekerja sebagai seorang “decision maker”. Menghadapi banyak orang, persuasive, dan mengambil peran dalam hajat hidup orang banyak. Lalu beliau pun berkata “Setiap orang itu, seperti pohon, berdiri di akarnya sendiri-sendiri. Mungkin bibitnya dari pohon yang sama, air dan tanahnya juga, tapi tumbuhnya bisa berbeda-beda. Itu yang namanya jalan kehidupan, Mbak! Mungkin kita tahu awalnya orang itu hidupnya bagaimana, tapi nggak akan pernah tahu berakhir seperti apa. Yang bisa diperbuat ya cuma usaha. Dan membuat pilihan yang matang, adalah langkah pertama”.

Saya menyadari, selama ini Papa selalu menjadi idola saya. Saya buta dengan kata-kata idola itu sendiri, sehingga sering saya berbuat dzalim dengan mendewakan beliau. Seolah-olah beliau tidak pernah salah, seolah beliau tidak pernah keliru. Saya selalu lupa bahwa Papa hanya seorang manusia biasa, yang bisa jadi, dibalik usahanya untuk hidup lurus dan jujur, beliau pun bisa terjebak dalam suatu situasi yang tidak baik sehingga beliau pun khilaf dan berbuat salah. Dan jujur, saya tidak ingin seperti itu, mendapati bahwa saya terjebak pada situasi yang sama dengan Papa saya, dan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi saya tetap berkeinginan untuk menjadi seseorang yang mirip Papa. Orang yang dibutuhkan dan mengayomi orang banyak. Bisa jadi, hobi saya untuk belajar ini bisa berguna, dan akhirnya saya bisa mengajari orang banyak. Bila tidak berilmu, maka tidak bisa beramal kan?!

Dan akhirnya saya teryakinkan, untuk melanjutkan studi, walaupun saya sudah tahu sendiri kengerian untuk “bertahan hidup” sebagai seorang calon doktor itu seperti apa. Namun saya paham betul, saya ingin jadi manusia yang bagaimana. Mudah-mudahan pilihan ini tidak salah. Karena komitmen dan konsistensi saya dipasrahkan pada pilihan penting ini. Semoga Allah SWT memudahkan. Amin.

Jadi Pa,

Walaupun sampai umur seperempat abad Saya masih suka cengeng, penakut, dan “bingungan”, tapi saya nggak akan pernah malu buat manja sama Papa. Dan nggak ada kebahagiaan yang lebih besar, selain bikin Papa senang. Dan kami sayang sama Papa, bukan karena Papa adalah orang tua yang tersisa, tapi karena Papa memang butuh untuk disayangi, seperti kami butuh kasih sayang Papa. We will always be your little daughters.

Happy Older Dad’s, semoga sisa umurmu benar-benar barokah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s