Ketika saya belajar tari rantak

Ya benar,
Saya dulu pernah nari. Sejak kecil saya selalu belajar nari. Sejak TK sampai SMP tapi sayang, saya juarang banget berkesempatan buat tampil. Terakhir kali saya tampil untuk menari adalah saat saya kelas 3 SD. Selebihnya saya cuma latihan doang, nggak pernah tampil. Pun saat saya SMP. Padahal saat itu saya udah jadi murid kesayangan guru saya, karena gerakannya banyak yg bener (bukan karena saya luwes dan kelihatan bagus –‘)
Daaannn, pengalaman menari itu kembali saat saya berkesempatan buat studi di Taiwan. Awalnya nggak sengaja saya ketemu dengan dua orang penari, yg belakangan saya tahu bahwa mereka adalah performer profesional. Yang selalu sibuk manggung di panggung2 bergengsi.
Wong solo yang ramah. Namanya Mbak Galuh dan Mas Danang. Awalnya hanya hang out berame2 dg mereka. Lama kelamaan saya ikut direkrut menjadi penari. Dan tarian pertama yg menjadi tanggung jawab saya adalah Rantak. Tari tradisional dr sumatera barat.
Sedikit cerita, basic tari rantak adalah pencak silat. Dimana gerakan2nya tidak selalu luwes malahan harus bertenaga. Dan seiring berjalannya waktu timbul kekhawatiran bahwa gerakan2 tarian tersebut akan kehilangan “akarnya”, maka para pakar berpendapat tarian tersebut harus dilestarikan keaslian gerakannya. Tidak boleh ada modifikasi. Karena nilai2 tersebutlah, kedua guru tari saya nggak mau merubah gerakan2 itu sedikit pun. Bukan mau mempersulit, tapi khawatir menghilangkan nilai warisannya.
Pertama kali saya diminta menari rantak, awalnya karena harus menggantikan mas danang yang kebetulan tidak bisa pentas. Keputusan yang sangat nekad, karena mau menggantikan penari pro seperti beliaunya. Dan ketika diminta jeda waktu yang ada hanya 10 hari. Jadi, saya yang sudah bertahun-tahun tidak menari harus bisa menguasai seluruh rangkaian gerakan dalam waktu kurang dari 10 hari.
Mau tahu seperti apa rasanya?
Luar biasa!! Kaki tangan kaku semua, H-4 pentas, saya baru bisa 1,5 set (dari total 10 ato 11 set, lupa) dan ditambah saya koprol dari kasur pas bangun pagi dari ranjang susun di kamar asrama. Jadilah saya harus absen latihan satu hari demi “memperbaiki” kaki yang keseleo.
Detik2 terakhir akhirnya saya nggak jadi menarikan tari rantak. Mas Danang dan Mbak Galuh (yang akhirnya kasihan) memutuskan mengganti dengan Tari Marpangir (Asal batak, kalo ga salah) yang menurut mereka lebih mudah. Walaupun agak kecewa karena saya nggak bisa memenuhi ekspektasi, tapi saya bersyukur, latihannya nggak sesusah sebelumnya.
Gerakan Tari Marpangir ternyata memang lebih sederhana dan lebih “perempuan” daripada rantak. Dalam tiga hari saya mampu menghapal semua gerakan dan formasi, ditambah rehearsal di TNUA (Taipei National University of Art-MRT jalur hijau arah Danshui. Tiga stasiun sebelum Danshui. Maaf kalo salah inget :p) sehingga siap untuk tampil di Taipei Travel Expo di Exhibiton Center di dekat Taipei 101. Kesempatan pertama tampil untuk nari Rantak batal.
Ternyata, jodoh saya dengan rantak nggak hanya sampai disitu saja. Sekitar dua bulan kemudian, ada tawaran nari di Taipei Flora Expo. Dan Mbak Galuh-Mas Danang lagi2 ingin menampilkan rantak. Kali ini berenam, selain saya dan kedua guru tari saya ada juga Mbak Tun, Erick Mamoy dan Hadziq sebagai anggota tim. Waktu persiapan sebenarnya satu bulan. Namun, baru empat kali-an kami latihan, ada pemberitahuan bahwa kami ga jadi menampilkan rantak. Kesempatan kedua buat latihan Rantak sampai selesai dan tampil batal juga.
Sempat berpikiran bahwa nggak akan bisa mempelajari tari rantak sampai selesai dan menampilkannya didepan umum. Namun ternyata memang sudah suratan takdir (lebay dikit) untuk mempelajari tarian tersebut sampai selesai.
Ketika musim ICE (Indonesian Cultural Exhibition) tahun 2011, Mbak Galuh dan Mas Danang kembali didaulat untuk menjadi pengajar tari seperti ICE tahun sebelumnya. Dan bisa ditebak, mereka ingin Rantak ditampilkan lagi, dan yang menjadi tim rantak kali ini adalah saya, Mbak Tun, Hadziq, Alief dan Ibad. Erick Mamoy awalnya direkrut juga,tapi dia nggak bersedia nari dua tarian, sedangkan sebelumnya dia sudah menerima “pinangan” tim Kayau. Jadilah kami berlima yang berangkat latihan Rantak. Sayangnya ditengah jalan, kami harus kehilangan Alief dan Ibad sebagai anggota tim (quit for a good reason (: )Dan akhirnya hanya tinggal kami bertiga yang tampil untuk tari rantak di ICE 2011.
Waktu yang dimiliki oleh Mbak Galuh dan Mas Danang untuk mengajarkan tarian tersebut hanya sekitar 27 hari. Karena mereka berdua akan pulang ke Indonesia untuk seterusnya dan menikah. Jadilah, kami harus bersaing dengan tim tari lainnya (total 9 jenis tarian yang akan tampil pada Malam Puncak ICE 2011) untuk latihan selama sekian puluh hari dan merampungkan semua set plus formasi.
Perjuangan saya untuk berlatih tari rantak, kayau (saya juga diminta nari Kayau waktu itu) serta kehebohan sebagai panitia ICE 2011 menyita begitu banyak waktu dan pikiran saya. Sampai2 saya ditegur oleh Professor dan teman-teman di laboratorium. Namun, ada kesenangan tersendiri sepanjang saya berlatih tari. Sebagian rasa stres saya hilang juga saya bisa membuktikan diri bahwa saya bisa dan berani untuk menari. Kenapa saya bilang berani? Karena saya hampir nggak pernah tampil di hadapan orang banyak, jadi gampang minder kalau dilihatin banyak orang. Dan karena latihan narinya di tempat terbuka, mau nggak mau harus siap untuk selalu dilihatin orang. Lama kelamaan saya terbiasa untuk bisa berkonsentrasi penuh supaya latihan bisa maksimal. Bohong kalo saya bilang nggak capek saat ngerjakan thesis nyambi nari seperti itu. Karena itu kali pertama saya harus berbagi perhatian antara kuliah dan non-kuliah.
Kembali ke rantak, 27 hari sudah terlewati. Tanpa terasa Desember hampir berakhir, dan tiba saatnya Mbak Galuh-Mas Danang harus kembali ke Indonesia. Unfortunately, rangkaian untuk membentuk tarian rantak yang utuh itu masih kurang satu set yaitu pada bagian closing. Sedangkan belajar formasinya baru sampai set ketiga. Latihan-latihan terakhir, hanya tinggal saya dan Mbak Tun yang memaksakan untuk belajar gerakan closing dan formasi set ketiga. Dan akhirnya kami ditinggal oleh Mbak Galuh-Mas Danang tarian yang jauh dari sempurna.
Pasrah, karena tarian belum fix, anggota lainnya pun jauh lebih sibuk dari saya karena mereka Ph.D candidate, dan di bulan februari saat acara ICE kurang sebulan, salah satu anggota tim pulang ke Indonesia. Sedih sebenarnya karena tarian kami jauh dari selesai untuk dipelajari, tapi tetap ada segi positifnya. Yaitu, saya jadi berkesempatan buat numpang dibelikan barang di Indonesia, jadi mencegah kami untuk menari dengan kostum sangat seadanya. Haha. Terima kasih buat Hadziq (and his supporter) yang sudah susah2 nyarikan pesenan plus pernak-pernik tambahannya.
Saya lupa tepatnya kurang berapa hari kami mau tampil, saat akhirnya kami full team dan meneruskan “penyiksaan” rantak tersebut, karena sejak si Hadziq ini pulang, saya dan Mbak Tun hanya sempat latihan bersama sekali saja. Saya sibuk ngurusin sisa persiapan acara ICE sedangkan Mbak Tun sibuk kejar setoran ke profesornya. Kostum sudah, melatih sisa set yang belum mantap pun sudah, tinggal formasi yang belum selesai. Lumayan ngoyoh saat kami bikin formasi agar tarian tersebut komplit dan bisa maksimal tampilannya. Dengan sedikit imajinasi dan mengedepankan kesederhanaan (karena daya khayal kami nggak sanggup bikin formasi yang aneh2), Alhamdulillah, kami bisa menampilkan tarian tersebut dengan “selamat”, akhirnya.


Beberapa teman dari angkatan saya dan Spring 100 (saya Fall 99) punya keinginan untuk belajar tarian tersebut usai melihat kami rehearsal dan tampil. Tentu saja saya antusias untuk mengajari. Sayangnya waktunya yang kurang tersedia. Karena saya benar-benar harus menyelesaikan thesis secepatnya, padahal waktu yang saya punya sempit. Hanya 1 set saja yang berhasil saya ajarkan. Sungguh, saya menyesal karena belum bisa mengajarkan keseluruhan tarian tsb sampai selesai *tunduk kepala. Terima kasih atas antusiasmenya belajar tarian tersebut.
Secara keseluruhan, saya sungguh senang dan bersyukur karena punya kesempatan buat belajar Tari Rantak. Tidak hanya karena tarian tersebut memiliki nilai tradisi yang kuat, susah dipelajari, tapi juga membantu saya untuk membuktikan bahwa, saya bukan “quiter”, sesusah apapun gerakannya dan sesakit apa badan saya waktu mempelajarinya. In the end, i just finish it ^^.
Saya berharap sekali, suatu saat saya bisa melihat langsung (lagi), tarian yang udah bikin saya nangis karena capek lahir dan batin (karena suka dimarahi) itu.

ini dia bukti kalo saya pernah tampil nari (akhirnya :D)

Salam Rantak

-Ludi-

Advertisements

One thought on “Ketika saya belajar tari rantak

  1. Ludi, nanti kalau ketemu lagi, selesaikan mengajarkan Rantak ya…?? ya….?? ya….?? 😀 Gerakan set pertama saya masih hapal, dan set kedua sudah coba2 sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s