Kakak Rumah Tangga

Iya, ini yang saya alami semenjak pulang dari Taiwan hingga akhirnya berangkat ke Korea untuk melanjutkan studi saya ke jenjang akhir.

Sepanjang masa kecil saya, saya ingat betul ajaran mama yang mengatakan bahwa sebagai perempuan saya nggak boleh diam dirumah aja dan nggak mempunyai penghasilan apa-apa. Masuk akal sih penjelasan yang diutarakan oleh Mama saat itu. Katanya dalam rumah tangga memang benar laki-laki memiliki tanggung jawab untuk menafkahi, tapi bukan berarti perempuan harus berpangku tangan dan menunggu turunnya uang dr suami. Sebagai perempuan ya kita berhak punya penghasilan sendiri, senang-senang dg penghasilan kita itu. Lagipula, kalau misalkan si suami di PHK ato nggak punya penghasilan, kalo istri nggak kerja, mau makan apa?
Nah, disini saya pun termotivasi, menjadi seorang perempuan yang mandiri, terbiasa ‘dilepas’ sendirian, suka menghabiskan waktu diluar rumah, melakoni segala aktivitas yang mampu saya lakoni.
Dan sepanjang masa remaja saya, saya selalu membayangkan bahwa saya akan kerja diluar rumah, berpenghasilan, dan tidak tergantung pada siapapun. Jadilah saya selalu giat belajar, ekstrakurikuler, kursus, organisasi dan sebagainya.
Karena saya sudah capek sekolah dan teman-temannya, saya jadi mengabaikan apa yang bisa saya lakukan dirumah. Saya nggak peduli, mau rumah kotor apa nggak, mau bisa masak apa nggak, mau baju dicuci atau nggak, saya benar-benar nggak peduli.
Saya tumbuh menjadi anak perempuan yang egois dan acuh terhadap apa yang ada dirumah saya. Yang saya pedulikan hanya “karier” saya.
Masa SMP-SMA adalah 6 tahun yang indah bagi saya. Rasanya impian apapun bisa saya capai. Saya merasa sudah mengalami segalanya dan merasa mampu untuk menghadapi tantangan di depan.
Sayangnya Allah SWT merencanakan hal lain bagi saya. Justru selepas SMA banyak sekali kejadian menyakitkan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya alami sebelumnya.
Saya sakit di semester pertama perkuliahan sehingga harus cuti selama satu semester. Sedih, karena harus tertinggal dari teman-teman yang lain. Tapi karena sering dirumah (karena kadang2 masih bolak balik ke rumah sakit) saya jadi banyak memperhatikan, bagaimana Mama dan pembantu saya kalau sedang mengurus rumah. Bagaimana caranya memasak. Dan mengerjakan urusan-urusan rumah lainnya.
Kemudian saat akhirnya kembali kuliah, saya tinggal di kos2 an yg cukup wah di jalan Gebang Lor, dimana penghuni2 nya dibagi atas blok-blok. Tiap blok terdiri dari 4 kamar, maksimal dihuni 8 orang dengan satu kamar mandi. Jadilah, ketika tiba waktunya piket saya harus urun tenaga membersihkan kamar mandi yg sama sekali belum pernah saya lakukan. Lalu membenahi kamar, mencuci piring, mencuci baju, semuanya harus dilakukan sendiri. Luar biasa capek awalnya namun entah kenapa saya sangat menikmati.
Memang sih, kalau penyakit malas kumat saya enggan sekali membereskan kamar, dan sering dikomentari sama teman-teman kos yang lain. Dan Mama masih saja suka mengomel kalau melihat kamar dirumah berantakan banget atau aku acuh begitu saja sama keadaan rumah. Pelan-pelan sih baru aku belajar mempedulikan semuanya.
Kemudian ketika Mama nggak ada, jadilah, sebagian besar tanggung jawab ada pada saya. Jujur, semua itu berat sekali ditanggung oleh seseorang yang berumur 21 tahun dengan kemampuan mengurus rumah seperti saya. Sering sekali saya melarikan diri karena “galau” dengan keadaan dirumah. Tapi saya akhirnya selalu kembali dan berusaha lagi. Nggak sampai hati kalau rumah nggak terurus.
Ikatan batin antara saya dengan rumah (tsah!) menguat saat saya pergi ke Taiwan. Saya sendiri nggak percaya, bahwa saya sebagai manusia yang tumbuh dan suka menghabiskan waktu diluar rumah bisa kangen dan begitu khawatir dengan kondisi dirumah. Waktu itu keadaan sungguh2 terbalik 180 derajat. Memang banyak faktor yang mendukung, tapi judulnya sama saja. Saya kangen rumah.
Dan benar saja, ketika saya pulang dari Taiwan, entah mengapa,seolah2 saya berubah drastis. Jauh lebih suka menghabiskan waktu dirumah dan mulai berkutat dengan hal2 didalamnya. Hanya beberapa minggu pertama saya doyan pergi untuk wisata kuliner, sekedar window shopping atau traveling ke solo. Tapi selebihnya saya nggak keluar2 dari kandang. Bahkan sekarang, saya merasa kemampuan menyupir jarak jauh saya sudah menurun dengan signifikan. Biasanya Gresik-Solo pulang pergi bisa nyupir sendiri nggak pake diganti, sekarang sudah nggak kuat lagi. Bahkan menyetir malam-malam pun sudah enggan saya lakoni kalau nggak kepepet. Ngebut di jalan tol dengan kecepatan hingga 120 km/jam saja sudah ogah. Nggak ada lagi Ludi tukang jalan suka ngebut dan ratu belanja itu. Sebisa mungkin saya dirumah saja. Makan dirumah, pengen yang rada enak, masak sendiri setelah googling resepnya. Mau baju, lebih suka lihat2 kain, nyonto model di majalah terus dibikin versi simpelnya. Trus, kalau ngeliat barang apa dan pengen bener2 mikir harga, kalo mahal alamat ditinggal aja. Biasanya kalau saya nemenin belanja nih, malah saya yang ngeborong. Sekarang kalau nggak perluuu banget, males mau beli. Entah mengapa. Bahkan Papa sempat pusing lihat saya dirumah aja. Sering kalau akhir pekan ditanya kenapa kok nggak keluar. Dipikir saya depresi, stres atau apa gitu sampai nggak mau keluar rumah. Tapi lama-lama ya dibiarkan saja. Hihi.
Dan 6 bulan ini saya mendapati nggak hanya beberapa kerjaan rumah yang mulai bisa saya kerjakan, tapi juga kepedulian saya terhadap penghuninya (papa, adik2, sepupu2) pun meningkat. Saya ingin semuanya nyaman dirumah dan merasa sebagai satu keluarga. Ah, betapa saya menyayangi mereka.
Sekarang saya jadi jauh lebih menghargai pekerjaan seorang Ibu Rumah Tangga setelah belajar melakoninya. Dan dalam hati, saya nggak lagi memandangnya sebelah mata seperti sebelumnya. Pendidikan yang bagus nggak akan mencegah seorang wanita untuk menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik. Pun, menjadi wanita karir tidak selalu melahirkan anak-anak yang egois seperti saya, haha (saya sudah lihat buktinya, makanya saya percaya).
Sudah percaya diri sekarang, dan nggak takut lagi membayangkan jadi ibu yang seperti apa saya.
Kemudian tiba-tiba pertanyaan ini pun melintas,
Sudahkah saya pantas menjadi ibu rumah tangga?
Belum ah, masih buuaannyyaaakk yang harus dipelajari. Jangan maruk Ludi, one at a time.
Semangat semuanya!! Karena semangat kalian pasti akan menular.

Salam kakak rumah tangga

-Ludi-

Advertisements

One thought on “Kakak Rumah Tangga

  1. Pelajaran dan hikmah memang bisa didapat dengar cara bermacam dan waktu yang gak pernah kita duga, aku bahagia Dee mampu melewatinya dengan sukses :’)

    *ttd temanmu yg sukanya nambahin masalahmu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s