Panggilan “Jeng” dan “Wa/La”

Yaa yaa,,
Orang Indonesia mana pun pasti udah umum manggil adik dengan sebutan “Dik” ato tinggal sebut nama aja dan manggil kakak dengan sebutan “Mbak” atau “Mas” atau yang umum seperti “Kak”. Begitu pula dengan saya. Pasti kalo baru kenalan sama orang, cenderung saya panggil Mbak/Mas walaupun dia lebih muda daripada saya. Buat saya, sebagai orang yg baru kenal, pasti ingin menghormati lawan bicara saya.
Naaaahhh, dilahirkan dan dibesarkan dengan dua budaya yg jauh berbeda, yaitu Jawa dan Sulawesi (walopun buanyak yg nggak percaya bahwa saya ada darah sulawesi-nya karena saya medok banget), membuat saya berkesempatan mengenal cara memanggil yg agak nggak umum dari orang biasa. Dan yang akan saya bahas disini adalah kebiasaan keluarga kami dalam memanggil sesama sodara.
Solo style
Adalah mama saya (thanks Mom!) yang memperkenalkan dan mengajari bagaimana menjadi orang jawa yang njawani. Karena kedua orang tua Mama termasuk golongan piyayi yang menjunjung tinggi adat, sopan santun, dan derajat. Maka, Mama pun mengajari saya untuk mulai memanggil adik saya dengan sebutan Jeng.

Sewaktu saya tanya “kenapa sih Ma dipanggil Jeng? Kan nggak ada Jeng-nya namanya?”, Mama bilang “Lho, kalo di keraton, manggil adik itu dengan sebutan Jeng! Coba lihat Pakdhe dan Budhe Wisnu, anak2nya kan dipanggil Jeng Diding, Jeng Wiwin, Jeng Nita! Bagus kan kedengarannya?”. Saya yg mungkin waktu itu masih TK ya cuma manggut-manggut aja dibilangin kayak gitu. Konon, sebelum punya adik, saya juga sering dipanggil Jeng sama Mama. Nah, karena saya udah jadi kakak, akhirnya naik pangkat jadi “Mbak”. Jadilah anak nomor dua menyandang pangkat “Ijeng” artinya adik. Selama 6 tahun sejak kelahiran adik saya ini, saya terus menerus berpikir, kalo lahir adik lagi, berarti kami manggil yg terakhir itu dengan sebutan yg sama dong? Nah, yang tengah ini dipanggil sapa? Benar juga, saat saya berumur 9 tahun lahirlah adik perempuan satu lagi (walopun saya berharap laki2 waktu itu biar nggak pusing soal nama panggilan) dan akhirnya juga menyandang gelar “Jeng”. Kemudian, demi menjawab kebawelan saya, biar nggak repot dan supaya tradisi “Jeng” tetap terjaga, maka si bungsu ini kami panggil “Ajeng”. Dan si tengah naik pangkat menjadi “Mbak Ijeng”, yang artinya Mbak seorang adik, dan adik seorang Mbak. Haha, pusing ya?!
Pusing banget, awalnya kedua adik saya yang suka sekali berantem ini, bisa praktis datang dengan satu kali panggilan “Jeng!” atau “Jeeeennnnggg!!”. Tapi lama kelamaan, mereka jadi pinter dan nunggu sampe dipanggil beberapa kali oleh Mama supaya mau datang atau sekedar bangun. Soalnya kalo manggilnya agak lama, bisa dipastikan siapa yg dicari. Hehe.
Kalo di keluarga besar Solo, cara memanggil nggak ada yang berbeda sih dengan orang2 kebanyakan. Paling yang bikin pusing, kalo sepupu saya itu lebih tua dari saya, tapi harus saya panggil “Adik” karena ortunya adalah adik Mama saya. Waaaahhh, pusing tuh. Saya yakin, kebanyakan orang Jawa pun mengalami hal yang sama. Mungkin minus pusingnya saja. Soalnya kan dari kecil diajarin, kalo lebih muda dipanggil “Dik” dan kalo lebih tua dipanggil “Mbak” ato “Mas” untuk menghargainya. Lhah, dulu saya sering bandel, dengan tetap memanggil “Mbak” kepada orang yg seharusnya saya panggil “Dik”, tapi karena Keluarga Solo merasa kurang dihargai karena kebiasaan saya, maka saya pun nurut dan memanggil sebagaimana mestinya. Tapi akhir2nya, saya berhasil menghasut beberapa keponakan saya yg di Solo untuk tetap memanggil “Mbak” kepada saya, walopun manggil “Om” atau “Tante” kepada yg lain. Biar awet muda ajaa :p ^^
Perusak pohon keluarga saya ini emang, Hihi.

Wanci style
Buat yang nggak tahu wanci, jadi wanci adalah salah satu pulau yang terletak di Kabupaten Wakatobi. Wakatobi sendiri adalah singkatan nama dari empat pulau terbesar yg termasuk dalam kabupaten tersebut, yaitu Wanci, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Letaknya di provinsi Sulawesi Tenggara. Kalau mau kesana, bisa menggunakan jalur udara atau laut. Kalo laut biasanya memakan waktu 3 hari 2 malam dari Surabaya ke Bau Bau, lalu menyeberang menggunakan kapal keesokan harinya dengan kapal dari Bau Bau ke Wanci. Sedangkan kalo jalur udara, sudah ada rute Surabaya-Kendari-Wanci dan Surabaya-Makassar-Bau Bau-Wanci semuanya kurang lebih bisa ditempuh sekitar 6-8 jam.
Kembali ke topik cara memanggil.
Jadi, kalau di Jawa ada sebutan “Mas” atau “Mbak”, maka di Wanci ada sebutan “La” atau “Wa”. La adalah sebutan untuk laki-laki dan Wa adalah sebutan untuk perempuan. Dan di suku Buton (sama seperti suku Jawa atau suku Sunda) ada juga gelar kebangsawanan yang turun ke anak cucunya. Biasanya turun dari bapak ke anak. Jadi, bila anaknya adalah perempuan dan menikah dengan laki-laki non bangsawan, maka gelar tersebut tidak layak disandang oleh keturunan berikutnya. Gelar tersebut adalah “Laode” dan “Waode”. Aturannya sama, Laode untuk laki-laki dan Waode untuk perempuan. Gelar tersebut setara dengan “Raden (dengan embel2 apapun)” kalo di Jawa. Nah, disini, kadang2 nggak dibedakan kalo manggil yang lebih tua atau yang lebih muda. Jadi kalo saya manggil sepupu saya yang lebih tua, misalkan namanya Heni, awalnya saya panggil “Kakak Heni”, kemudian berubah menjadi “Wa Heni” dan ketika dia sudah memiliki anak, panggilannya menjadi “Mama Kiki”. Begitu juga dengan yang laki-laki, misalkan namanya Nasrun, awalnya saya panggil “Kakak Nasrun” kemudian saya panggil “La Nasrun” atau sebut nama aja (nggak marah lho kalo sebut nama aja! Beneran!” dan ketika sudah punya anak dipanggil “Bapa Ryan”.
Yang agak menyimpang dari panggilan atau pangkat di keluarga kami adalah, kadang-kadang kami asal panggil Om atau Tante saja, hanya karena selisih umur terlalu jauh padahal menurut pohon keluarga masih terhitung sepupu. Jadi, beberapa sepupu saya ini memang jarak umurnya lebih dari 10 tahun dengan saya, dan ketika pertama kali dikenalkan dengan saya, Papa mengajari untuk memanggil “Om Dadang” (misal namanya Dadang). Padahal, dia adalah keponakan Papa, harusnya saya panggil apa sodara2??? Yak benaaarr, harusnya saya cukup manggil “La Dadang” atau “Dadang” saja. Akhirnya keribetan pun terjadi, karena akhirnya Papa saya dipanggil Pakdhe oleh anak2 sepupu saya tersebut dan saya yang harusnya berpangkat “Tante” duduk manis dengan sebutan “Mbak”, hehe. Biar awet muda (lagi!).
Sebenarnya kami keluarga wanci cenderung tidak peduli siapa dipanggil dengan sebutan apa, namun yang kasihan adalah generasi-generasi setelah kami, pasti susah mendeteksi, kami keturunan keberapa, atau sebenarnya hubungan darahnya adalah sepupu, atau keponakan atau justru terhitung cucu. Haha, susah kan?!
Pengeeeennnn rasanya mengusulkan ide untuk membuat pohon keluarga (plus poto terunyu) biar anak cucu bisa mengenal dengan jelas pendahulu2nya. Hehe, yooo yang di Wanci, sapa yang mo bikin secara sukarela?? Di mulai dari Kakek Saini Konde dan Waina Pongo saja, biar gampang. Hehe

Fyi, sebenarnya kalau mau saya dan adik2 saya bisa saja menyandang gelar kebangsawanan dari kedua suku, namun sejak kakek Saini Konde (Wanci) melepas gelar tersebut dari namanya dan nama anak-anaknya, maka Papa juga berkeinginan yang sama bagi kami bertiga. Alasannya sederhana, biar kami nggak merasa sombong dan perlu untuk diperlakukan istimewa dimana pun kami berada. Jangan sampai belum-belum kami udah bangga dengan gelar yang disandang, tapi nggak memiliki kemampuan buat berkontribusi bagi lingkungan sekitar.

Bagaimana?? Udah bingung atau masih ngerti?? Hehe.
Yah, ribuan pulau yang tertata rapi di negara kita itu sungguh menarik untuk di eksplor. Jadi, jangan cepet bangga kalo sering keluar negeri, paham bener adat cina, adat inggris, adat korea atau adat negara mana pun, tapi adat dari suku2 di Indonesia nggak banyak tahu. Rugi dong, sodara2! 😀
Kalau bisa, kenali dan cicipilah negara kita secara langsung, jangan hanya via tivi atau internet aja. Biar tumbuh rasa cinta, sehingga berkeinginan untuk melestarikan.
Jadi? Mau ke Solo atau ke Wanci?
Titip salam ya kalo kesana.

Salam rindu buat semua Keluarga Solo dan Wanci

Mbak Ludi a.k.a Wa Sari

Advertisements

3 thoughts on “Panggilan “Jeng” dan “Wa/La”

  1. mbak aku siap jadi sukarela…… n bapa aku juga sudah membuat itanya saja yang tinggal melanjutkannya. hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s