“Ludi di korea ya? Kok bisa?”

Judul diatas adalah pertanyaan yang sudah saya dapatkan sejak dua-tiga bulan terakhir. Karena sudah banyak yg tahu kalo akhirnya saya diterima di Pusan National University untuk doctoral degree. Yang belum banyak tahu adalah bagaimana saya akhirnya sampai kesini. Banyak banget yang tanya gimana caranya apply S3 di kampus ini.
Untuk diketahui di awal, proses saya mendapatkan beasiswa ke Korea, sama sekali beda dengan proses saya mendapatkan beasiswa di Taiwan. Kalau di Taiwan dulu, saya memang secara sengaja apply lewat beasiswa kampus dulu disana, baru dapat professor. Sedangkan disini, justru kebalikannya, saya nyari professor dulu yang mau jadi sponsor buat ngebiayain saya kuliah.
Proses pencarian professor ini sebenarnya iseng2 berhadiah. Pun saya tadinya tidak berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Barangkali masih lekat di kalangan teman-teman SMA dan S47 (sipil 04) siapa Ludi ini. Sejak SMA saya tidak pernah memiliki prestasi yang mencolok. Tidak pernah menang kejuaraan apapun, baik akademis, seni, apalagi olahraga. Apalagi saat sudah kuliah, saya cuti dan tertinggal satu tahun. Jadi, saya agak malu sebenarnya kalo dibilang pintar atau cepet lulusnya. Padahal di luar sana banyak teman2 yang jauh lebih muda yang juga mengambil doctoral program.
Kembali ke masalah professor, jadi,sebelum saya lulus Master, teman saya ada yang diterima di jurusan civil engineering di Pusan National University, dan dia bercerita bahwa mahasiswa Indonesia di departemen tersebut hanya dia. Lagipula di labnya dia master student. Iseng2 saya tanya ada website resmi untuk labnya atau nggak. Setelah saya buka websitenya ternyata bidang riset Prof teman saya tersebut tidak jauh beda dengan lab saya ketika kuliah Master. Tapi saat itu, doctoral student di lab tersebut cukup banyak, sehingga saya sendiri maju-mundur mau apply untuk doctoral program ke Professor tersebut. Dengan modal nekad dan cuek abis, saya iseng meng-imel Professor tersebut untuk menanyakan, adakah peluang atau lowongan untuk mahasiswa doctoral yang baru. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, belum seminggu saya imel, Professor tersebut membalas dan bersemangat untuk menerima saya di labnya.
Tapi, giliran Prof-nya yakin bahkan sampe meminta resume saya dan mengirimi saya paper untuk dipelajari, saya yang ragu-ragu dan malah berniat melepaskan kesempatan tersebut. Karena saat itu banyak hal yang belum bisa saya putuskan dengan pasti.
Tapi, setelah saya banyak berdiskusi dan memantapkan hati, akhirnya saya memutuskan berangkat dan melalui segala proses yang merepotkan orang banyak hingga akhirnya sampai kesini.
Senang sekali rasanya menerima banyak pertanyaan tentang melanjutkan studi diluar negeri, karena hal itu berarti minat generasi muda untuk melanjutkan studi ke tempat yang lebih tinggi semakin meningkat. Tapi, sebelum memutuskan untuk melanjutkan, ada baiknya mencari info sebanyak-banyaknya dan sevalid-validnya tentang universitas yang dituju. Salah satu faktor yang membuat saya berani berangkat kesini, selain karena bidang risetnya, juga karena banyak temen2 Indonesia yang pernah berkuliah disini. Dalam kepala saya, semakin banyak alumni Indonesia di kampus tsb, maka semakin familiar dan semakin baiklah reputasi Indonesia di kampus tersebut. Sehingga mereka nggak akan merasa asing atau aneh saat kita minta bantuan. Lagipula, teman2 Indonesia pasti mau membantu apa2 yang kita butuhkan sebelum akhirnya kita bisa mandiri sendiri. Kemudian silahkan mencari segala kemungkinan untuk mendapatkan beasiswa di kampus/negara tersebut. Jangan hanya puas dengan iming2 beasiswa profesor. Bisa jadi, beasiswa lain akan jauh lebih besar dan lebih menjamin kehidupan studi kita. Contohnya, beasiswa pemerintah, kalo di Taiwan bisa cari info di websitenya Taiwan Education Center, tentang beasiswa pemerintah Taiwan. Sedangkan di Korsel, yang populer adalah beasiswa KGSP (Korean Government Scholarship Program).
Dapetnya lebih besar, tapi ada jangka waktunya sih, jadi baca yang teliti ya. Bisa juga mencari dengan membaca-baca blog teman2 yang sudah lebih dulu belajar di luar negeri.
Terus, cari tahu juga, bagaimana kondisi geografis dan iklim di negara tersebut. Terutama teman2 yg punya penyakit tertentu sehingga harus berada pada kondisi tertentu. Jangan sampai sakit di negeri orang, selain rasanya ngenes, biayanya pasti mahal.
Sedikit pesan dari dosen saya jaman dulu “Melanjutkan pasca sarjana, adalah keputusan yang mengubah hidup. Karena membutuhkan komitmen yang luar biasa”. Memang, itulah yang saya rasakan, ketika berkuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Ketika saya harus meninggalkan hampir semua yang membuat saya nyaman hanya untuk menyelesaikannya. Apakah saya kapok? Tidak. Buat saya, ilmu adalah harta didunia yang nggak akan habis dan bermanfaat bagi orang banyak sehingga menjadi sangat berharga. Jadi, saya merasa, perjuangan dan pengorbanan yang saya lakukan, adalah layak untuk saya lalui. Karena pada akhirnya seberharga itulah harta yang saya dapat.
Padahal sudah banyak yang mengingatkan bahwa jenjang S3 nggak punya batas waktu yang pasti untuk menyelesaikannya. Bukan seperti sarjana atau master yang jangka waktunya rata2 4 dan 2 tahun.
Naaahhh, mudah2an sedikit info dari saya bisa membantu teman2 yg ingin berangkat studi lagi.

Advertisements

3 thoughts on ““Ludi di korea ya? Kok bisa?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s