Seminggu pertama di Busan, Korea Selatan

Assalamualaikum, halo semuanya yang udah menunggu-nunggu reportase dari saya. Hehe. Sayangnya saya kesini bukan untuk liburan, melainkan untuk belajar. Jadi mungkin ceritanya akan sedikit membosankan. Busan memang kota yang besar, ramai dan cukup terkenal. Tapi pada dasarnya sebagian besar hidup saya hanya berkutat di sekitar Pusan National University. Tempatnya lumayan minggir tapi ramai. Kampus saya di kelilingi oleh warung makan, pertokoan, dan apartemen. Khusus untuk teman-teman ITS/Surabaya yang pernah/sedang kuliah di Taiwan, mungkin bisa membayangkan kalo PNU ini seperti ITS yang dikelilingi oleh Gebang dan Keputih tapi diupgrade menjadi Ximen-ding dan Yong-He. (Maaf kalo deskripsinya nggak imbang) Jadi, banyak apartemen-apartemen murah seperti di Yong-He tapi jalanannya sempit dan padat seperti di Keputih/Gebang.
image
Terus, disini banyak pertokoan seperti Ximen-ding tapi juga banyak tempat makan dari yang mahal sampai yang murah seperti di Gebang/Keputih/Kertajaya. Disini pejalan kaki dihormati oleh pengendara motor/mobil nggak seperti di Gebang/Keputih. Tapi di bagian pertokoan2, motor/mobil boleh masuk, nggak kayak di Ximen-ding yang areanya khusus pejalan kaki aja. Orang-orang disini cukup tertib karena pada dasarnya patuh pada peraturan, walaupun disana sini masih terlihat jorok oleh sampah yang berserakan. Orang meludah sembarangan pun bukan pemandangan aneh disini. Jadi, saya sempat shock juga, kirain seperti di Taipei, yang bahkan daerah seperti Yong-He pun bisa rapi dan bersih. Atau mungkin saya yang berlebihan dalam membandingkan karena Taipei adalah ibukota, sedangkan Busan bukan.

Kesan pertama adalah Dingin. Yap, dingin.
image
Pasti beberapa teman sudah hapal dengan deskripsi saya yang satu ini. Hampir selalu tiap kali di tanya tentang “Gimana Lud, di Korea?”, jawabannya adalah “Dingin”, atau “Adeem” atau “Uwwwaaaadddeeeemmmm!” dan sesekali saya menjawab “It’s freezing here!”. Bukan hendak mengutuk atau mencela atau mengeluhkan tentang udara yang Subhanallah ini. Tapi memang badan saya selama ini selalu beradaptasi dengan udara yang hangat cenderung panas. Jadi kalau kena dingin sedikit saja sudah langsung “bereaksi”. Jangankan disini. Di Malang aja (pasti udah hapal deh temen2 yang pernah saya inepin rumahnya) kalo suhu udara sudah turun, baik itu menjelang malam atau pagi hari, pasti akan mendengar komentar2 saya tentang udara dingin. Apalagi kalo turun kabut, suara saya bisa turun satu oktaf (baca: serak). Ada juga yang suka nanyain, “Masa nggak kuat dingin sih? Kan dulu di Taiwan juga dingin?”. Silahkan tanya temen2 sekampus saya jaman di Taiwan dulu. Pasti deh, sepanjang winter melihat saya pake mantel dan baju lapis-lapis. Baik itu didalam ruangan, diluar ruangan atau ketika sedang tidur. Dan lagi, winter di Taiwan rata-rata suhunya masih dua digit (dalam Celcius). Suhu paling dingin yang pernah saya rasakan di Taiwan adalah 7 derajat celcius. Kalau disini, 7 derajat itu sudah anget. Rata-rata selalu 5 dan masih turun lagi. Beberapa minggu sebelum saya datang suhunya sempat minus dan bersalju. Jadi teman-teman, this place is seriously freezing me.

Kemudian ada lagi yang bertanya, makanan disana susah enggak? Ada halal food nggak? Mahal nggak?. Akan saya jawab pertanyaan terakhir dulu. Disini, apa-apa mahal. Baik bila dikurskan ke rupiah maupun bila dibandingkan dengan biaya hidup di Taiwan. Dan makanan yang merupakan kebutuhan pokok setiap manusia pun terhitung mahal. Jadi, bisa dibayangkan. Di Negara yang mana kaum muslim adalah minoritas, halal food pasti harganya mahal. Mahal dari segi biaya dan mahal dari segi tenaga untuk mendapatkan halal food tersebut. Baru hari minggu kemarin saya pergi ke masjid dan menemukan tempat yang menjual halal food. Untuk mencapainya saya harus menggunakan metro (semacam MRT atau KRL) dan berjalan kurang lebih 1 kilometeran (total dari rumah ke stasiun dan dari stasiun ke masjid). Jarak ini bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda bila ingin berhemat. Sayangnya cuaca yang dingin tidak memungkinkan bagi saya untuk memakai sepeda. Dengan pertimbangan sedemikan, untuk menghemat waktu saya lebih memilih aman food seperti vegetarian atau seafood. Namun jangan khawatir, Alhamdulillah saya memutuskan nggak tinggal di dorm (karena di dorm mahal, for sure) jadi tiap hari kami (saya dan teman-teman di kontrakan) bisa mengatur jadwal masak yang menghindarkan kami dari mengonsumsi makanan-makanan yang nggak boleh kami makan. Jadi, makanan di sini nggak terlalu susah juga, asal pintar-pintar mengakali supaya kebutuhan empat sehat lima sempurna sekaligus halah dapat tercukupi supaya badan tetap sehat.
image
Ada lagi yang nanya “Lho, Ludi tinggal diluar? Nggak jauh Lud dari kampus?”. Hmm, mari kita berhitung. Kalau diukur secara horizontal, kira jarak tempuh dari rumah ke gedung lab saya kurang lebih 1 kilometer. Sayangnya, perjalanan tersebut ditambah lagi oleh factor “curam”. Yap, curam.

Jadi untuk berangkat jalanan yang saya lalui adalah mendaki, untuk turun ya tinggal meluncur aja (nggelundung, koprol, atau apapun juga boleh). Intinya, untuk menempuh jarak diagonal tersebut benar-benar memakan tenaga dan waktu yang lumayan (15-20 menit). Jadi, kalau pas keluar dari rumah sudah sepi, artinya saya udah telat banget (masuk kantor jam 9 pagi). Beratnya sementara ini karena belum biasa aja. Kalo udah biasa entar pasti nggak kerasa. Masa kalah sama orang local yang dandan cantik pake high heels tapi tetap bisa jalan cepat dan sampai kantor tepat waktu.

“Udah ketemu Lee Min Ho belum Lud?”, jujur, tiap kali saya dapet pertanyaan kayak gini saya jadi merasa udik. First of all, saya nggak ngikuti drama korea jadi saya nggak ngeh sapa itu Lee Min Ho. Jadi, buat kemaren yang mengamanahi saya untuk kirim salam ke Lik Min Ho ini, saya mohon maaf, karena bisa jadi kemungkinan bertemunya akan sangat kecil sekali. Jangan Min Ho, wong disini saya sering salah membedakan (terutama perempuan) orang local yang masih remaja kinyis-kinyis, orang dewasa, dan paruh baya. Karena baik ukuran baju maupun cara berpakaian rata-rata sama. Unyu semua. Maksudnya unyu disini adalah modis, modelnya unik dan mirip kayak di majalah-majalah apa di tivi-tivi. Saking modisnya orang-orang local, saya sering di “peringatkan” tiap kali membeli baju. Hampir selalu ada yang bilang “Ini baju untuk laki-laki!”. Padahal yang saya pilih itu sweater atau jaket yang menurut saya bisa multigender. Yah, mau gimana lagi, saya paling cuma senyum-senyum aja nanggapi tatapan aneh mereka tentang selera pakaian saya. Soal komunikasi, ini yang paling lemah buat saya. Pasalnya, saya masih buta bahasa korea sama sekali. Jadilah saya harus selalu bergantung pada teman-teman untuk sekedar membeli, bertanya atau untuk pergi kemana-mana. Berarti, setelah ini bener-bener harus belajar supaya nggak ngerepotin orang! Fighting!

Last but not least, saya kesini untuk melanjutkan kuliah semata-mata karena saya meneruskan dan mewujudkan niat. Monggo bila saya dianggap menunda kata “mbuh” atau terkesan melarikan diri (lagi) dan melepas tanggung jawab. Tapi keputusan besar ini saya ambil dengan banyak sekali pertimbangan. Dan Insya Allah, saya sudah menyiapkan dengan baik segala sesuatu untuk sesiapa saja yang saya tinggalkan di rumah.

Nggak, saya kuliah lagi di Korea bukan karena Korean Wave atau biar keren. Benar, saya memang benar memanfaatkan umur saya yang masih muda, tapi bukan berarti dengan sekolah lagi maka didalam kepala saya yang ada cuma senang-senang. Belum, saya belum pernah bekerja sebelumnya, saya juga belum jadi dosen dimanapun di Indonesia, dan belum tahu akan jadi dosen/kerja dimana, ikut supirnya saja. Belum tahu, saya belum tahu kapan akan selesai, atau bahkan kapan saya bisa pulang ke Indonesia.

Jadi, mohon doanya saja ya, supaya saya cepat selesai dan cepat ketemu sama kalian lagi. Keep in touch dan mari saling mendoakan.

Salam Dingin dari lantai 6

image
-Ludi-

Advertisements

3 thoughts on “Seminggu pertama di Busan, Korea Selatan

  1. keren euy mbak Mugniyah Ludiansari… mantap, semangat terus mbak… Mudah-mudahan apa yang dicita-citakan segera tercapai. Ditunggu reportase selanjutnya… hehehe…

    Salam hangat dari Bandung
    (onlyhadi.wordpress.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s