Tentang Mama

Hari ini, saya ingin menuliskan hal yang sangat sulit saya tulis dan saya bahas beberapa tahun belakangan ini. Mama. Ya, Mama. Mama saya adalah seorang wanita sederhana dengan kehidupan sederhana yang bisa ditiru. Mama saya, adalah seorang kelahiran Solo, Jawa Tengah, yang kental dengan adat, budaya, dan kehalusan budi pekertinya. Seorang wanita bertubuh kurus, kecil dan pendek, mata cenderung sipit, kulit kuning, dan rambut yang awet hitam. Sepintas, Mama terlihat seperti wanita kantoran yang lain. Namun tubuh kecil itu sudah menyimpan banyak kisah. Sejak dia masih sangat kecil untuk mengingat kehidupannya sendiri.

Masa kecil Mama tidaklah sebahagia dan sebagus masa kecil saya, yang apa-apa tinggal minta. Yang Kung, bapaknya Mama adalah seorang guru, yang kehidupannya sangat sederhana. Sementara Yang Ti hanya seorang ibu rumah tangga. Penghasilan pas-pasan Yang Kung kurang bisa mencukupi kebutuhan mulut 9 orang. Ditambah lagi Mama, yang merupakan anak ke-empat dari tujuh bersaudara ini, sewaktu kecil sakit-sakitan karena “kesundulan” (istilah untuk bayi yang belum berumur setahun tapi ibunya sudah hamil lagi). Menurut mitos, ASI ibu hamil itu berbahaya bagi bayi. Karena itulah, Mama sakit-sakitan dan pertumbuhannya kurang optimal (pendek sendiri dan kurus sendiri). Ketika mereka semua sedang berkunjung ke Surabaya, ke rumah Yang Dhe (Kakak perempuan Yang Kung), dan Yang Dhe mengetahui bahwa Yang Ti sedang kesundulan, Yang Dhe pun meminta agar diijinkan mengasuh Mama, karena Yang Dhe dan suaminya belum memiliki keturunan. Lagipula, saat itu keluarga Yang Dhe cukup berada, sehingga lebih dari mampu untuk merawat Mama yang sakit-sakitan. Maka, Mama yang masih bayi pun diasuh oleh keluarga Oesoep (Oesoep adalah nama suami Yang Dhe). Selisih sekian tahun, keluarga Oesoep kedatangan satu anak angkat lagi. Kali ini berasal dari keluarga Oesoep, namanya Murjiati, biasanya saya panggil Bu Mur (sama Mama nggak boleh nyebut Lik Mur, karena kasar). Dan dimulailah kehidupan keluarga Oesoep yang bahagia yang terdiri dari Ibu, Ayah dan 2 anak angkat perempuan.

Sayangnya kebahagiaan tersebut hanya sebentar. Ketika Mama masih ABG, Yang Dhe Oesoep (Ayah angkat Mama) pensiun. Kehidupan mereka yang tadinya berkecukupan lambat laun semakin kekurangan. Mama yang masih tanggung itu pun memutar otak, bagaimana caranya untuk mendapatkan uang. Minimal buat jajan. Mama pun iseng-iseng meniru Mbah Kecil (Adiknya Yang Kung) yang saat itu berprofesi sebagai pedagang. Mama membeli jajanan dalam bentuk partai, kemudian dijual satu per satu ke teman-temannya dan memperoleh keuntungan. Banyak sekali yang bisa didagangkan oleh Mama selain camilan dan sebangsanya sampai akhirnya uangnya cukup untuk membiayainya bersekolah sampai lulus sarjana. Dengan kondisi sedemikian, Yang Kung dan Yang Ti bukannya lepas tangan atas kondisi Mama, namun, lama akhirnya Mama baru dijenguk karena kondisi ekonomi di Solo pun sedang sulit. Saya ingat Papa pernah bercerita, bahwa pertama kali Mama dijenguk dan diberitahu bahwa sebenarnya Mama adalah anak dari Yang Ti dan Yang Kung adalah saat Mama sudah SMP. Reaksi Mama sangat keras terhadap kenyataan tersebut. Merasa dibuang oleh kedua orang tuanya, Mama menolak bertemu lagi dengan mereka berdua dan menolak untuk kembali ke Solo. Papa pun tidak secara sengaja mengetahui kenyataan tersebut. Saat mereka berpacaran di bangku kuliah, suatu malam, saat jam sudah hampir menunjukkan pukul 21.00, Mama tidak kunjung minta diantar pulang. Padahal biasanya jam 20.00 sudah ribut minta diantar pulang (jadi, Mama sangat strict soal pergaulan antara laki-laki dan perempuan seperti: nggak boleh pegang-pegang, nggak boleh pulang larut, nggak boleh pergi ke tempat sepi-sepi, dsb). Nah, akhirnya karena Papa merasa bertanggung jawab, Mama pun dipaksa untuk diantar pulang, tapi Mama tetap keras menolak. Disitulah Mama bercerita bagaimana dia membenci kedua orang tua yang sudah membuangnya tersebut. Mama bilang “Sekarang aku sudah sukses, baru dicari!”. Papa pun dengan sabar memberi pengertian, bahwa bisa jadi kondisinya tidak demikian. Bisa saja Yang Ti dan Yang Kung memang lama baru baik kondisi ekonominya. Akhirnya Mama pun menurut dan kembali ke rumah. Setelah itu, Mama pun berangsur-angsur rujuk dengan kedua orang tua kandungnya.

Mama adalah seorang pekerja keras yang ulet. Beliau mengajarkan saya bagaimana menjadi wanita yang mandiri. Jujur, waktu kecil saya adalah anak yang sangat manja, keras kepala, suka melawan tapi sensitif dan penakut. Sehingga ketika Mama menasehati (memarahi, memberikan perumpaan, membandingkan, dsb) saya, walaupun saya keras kepala dan nggak bisa dibilangin, tapi nasehat-nasehat tersebut lekat terus di kepala saya. Mama selalu bilang, “Mama ini marah karena Mama ini sayang sama kamu!”, waktu itu saya nggak percaya. Sayang kok marah-marah? Bohong ah. Tapi akhirnya saya menyadari, Mama selalu mengusap sudut matanya saat marah-marah atau menasehati panjang lebar. Yah, ibu mana sih yang tega menyakiti anaknya sendiri?! Betul?

Mama, walaupun dari kecil bersekolah di sekolah Kristen (karena tahun segitu yang bagus adalah sekolah Kristen) tapi semangatnya untuk belajar islam sangat tinggi. Saya ingat Mama sering bercerita, betapa susahnya ketika beliau ingin belajar mengaji. Walaupun Yang Dhe sekeluarga adalah seorang muslim, namun mereka menganggap bahwa mengaji adalah pekerjaan yang sia-sia bila dibandingkan dengan belajar atau bekerja. Maka, tiap sore, tiga kali seminggu, Mama menyelipkan kerudung dan buku mengaji di balik bajunya dan sembunyi-sembunyi pergi mengaji. Hingga suatu ketika, ibu angkatnya memergoki dan marah besar. Akhirnya Mama berhenti mengaji dan pelajaran mengajinya tidak bisa tuntas. Sampai-sampai membaca Al-Qur’an pun gratul-gratul (kurang lancar). Mungkin didasarkan atas pengalamannya saat kecil, Mama ingin sekali anak-anaknya belajar islam dengan lebih mendalam dan secara luas. Akhirnya Mama mensyaratkan kami bertiga anak-anaknya untuk masuk ke TK islam Bhakti 3 dan SD Muhammadiyah 1 Gresik untuk belajar apa-apa yang tidak sempat beliau pelajari. Mama juga mensyaratkan kami untuk belajar membaca Al-Qur’an setiap hari di Mushola dekat rumah, sore hari mulai jam 15.00-17.00 WIB. Saya ingat, dulu pernah mengajari Mama mengaji. Saat itu, itu adalah pengalaman yang menyebalkan bagi saya karena Mama nggak bisa-bisa dan nggak paham-paham biar berapa kali pun saya ulangi. Sekarang bila diingat kembali jadinya sedih, karena saya nggak berempati dengan kondisi Mama saat itu, jadi pada akhirnya kemampuan mengaji Mama tetap pas-pasan. Alhamdulillah, walaupun ngajinya nggak lancar saat kecil, tapi setidaknya Mama bisa mengenal bacaan sholat yang sangat membantunya dalam beribadah tiap hari. Waktu saya masih kecil, Mama hanya hafal sedikit surat untuk dibaca saat sholat. Dan itu semua diajarkan pada saya. Ketika saya sudah SD, Mama membantu saya hafalan surat-surat pendek yang lain (untuk tugas sekolah) sambil menghafal untuk dirinya sendiri. Mama juga yang mengajarkan dan mengingatkan kami untuk bisa sholat lima waktu dan puasa ramadhan tanpa bolong. Yang paling bikin Mama jengkel adalah bangun shubuh, karena kami semua paling susah bangun shubuh (alasan saya waktu itu adalah karena masuk SD jam 6 pagi dan pulang jam 3 ato 4 sore,pulang sekolah langsung ngaji dan malamnya belajar, karenanya waktu itu bagi saya waktu tidur sangat berharga). Tapi sedikit pun Mama nggak pernah menyerah. Mama yang bekerja di Surabaya juga sebenarnya berlomba berangkat pagi dan pulang sore seperti kami. Saat kami berangkat sekolah dengan mobil antar jemput, maka Mama juga berangkat ke kantor dengan naik angkot dari jalan raya depan rumah. Begitu juga kalau pulang kantor, jam 4 kami baru sampai rumah, maksimal sejam kemudian Mama sudah pulang sambil teriak “Ayo, sapa yang nggak berangkat ngajiii??”. Mepet sekali memang waktu-waktu yang ada saat itu, karenanya Mama suka marah-marah kalau kami telat bangun, telat sarapan apalagi sampai telat masuk sekolah. Pernah suatu kali Mama mengikuti pendidikan selama sekian bulan di luar kota, dan hidup kami semua (Papa, saya dan adik-adik) jadi kacau balau, serba telat, serba ketinggalan, pokoknya jadi nggak teratur. Karenanya, sejak kecil saya terbiasa bangun pagi, sarapan, dan melakukan segala sesuatu jauh sebelum jamnya, karena kalau telat, rasanya saya sudah bisa membayangkan wajah marah-marah Mama.

Mama juga adalah sosok perempuan yang halus dalam bertutur kata dan bertingkah laku. Karena Yang Ti dan Yang Dhe membekalinya dengan petuah-petuah Jawa yang terus menerus beliau amalkan dan beliau teruskan kepada kami. Dari Mama saya memperoleh ilmu-ilmu sederhana seperti jangan mengeluarkan bunyi waktu makan (bunyi mulut mengecap, bunyi sendok berdenting dengan piring, berbicara, kentut, sendawa, dsb), kemudian jangan membuat kegaduhan dengan barang-barang di rumah (seperti membanting pintu saat menutup, berbicara dengan suara keras padahal jaraknya dekat, menyetel suara TV keras-keras, banyak gerak di kasur karena suara seprai yang bergesekan itu berisik), kemudian tidak menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia kepada siapapun KECUALI saya sudah pintar Krama Inggil. Kemudian nggak boleh makan di ruang tamu atau membawa makanan ke luar rumah karena nanti tetangganya kepingin, dan banyak lagi. Mama juga hafal rempah-rempah dan jamu-jamu tradisional serta tips-tips wanita jawa dalam menjaga kesehatan dan kecantikan tubuh. Mulai dari jamu temulawak untuk menambah nafsu makan dan menggemukkan badan (percayalah, saat kecil badan saya seperti tiang listrik. Terlalu kurus) sampai mencuci rambut dengan merang supaya awet hitamnya. Ketika saya menginjak remaja, setiap kali usai datang bulan, Mama tidak bosan-bosannya mengingatkan saya untuk minum jamu, katanya biar badannya nggak mekar dan darah kotornya nggak tersisa.

Walaupun Mama adalah perempuan yang njawani, namun jalan pikiran Mama sangat modern. Beliau tidak setuju kalau perempuan itu harus di rumah saja atau bahkan di dapur saja. Buat Mama, perempuan itu harus serba bisa, minimal bisa membantu dirinya sendiri. Memasak bisa, mbetulin busi motor pun harus bisa, contoh ekstrimnya demikian. Makanya sedari kecil, Mama mengikutkan saya kursus ini itu, dan kegiatan ini itu. Mulai dari kegiatan akademis (les pelajaran, les bahasa inggris, dll) sampai kegiatan non-akademis (menggambar, fashion show, menari). Mama senang sekali kalau anaknya tampil dan berprestasi. Sayangnya, setiap ikut perlombaan apapun anaknya ini (tunjuk diri sendiri) nggak pernah menang, jadi nggak pernah ada piala yang bisa saya bawa pulang. Mama mengajarkan saya untuk mandiri dan berani. Sejak TK, saat semua teman sekelas saya ditunggu, saya sudah ditinggal begitu saja. Hanya diantar berangkat, pulangnya jalan sendiri atau dengan tukang becak. Mama suka sekali bila saya berpenampilan mbois (boyish) seperti laki-laki. Pakai celana panjang, t-shirt dan rambut dipangkas pendek. Mama saya yang bertubuh kecil itu bisa mengendarai berbagai macam kendaraan seperti motor, motor berkopling tangan dan mobil. Karena menurut beliau, nggak ada alasan buat perempuan untuk tidak bisa mengerjakan apa-apa sendiri. Kenapa harus merepotkan orang lain kalau bisa mandiri?. Mama juga mengajarkan saya untuk berani berbicara di depan umum, tidak diam saja bila tidak suka atau tidak bisa (setelah diusahakan untuk bisa terlebih dahulu). Hal-hal seperti ini yang terus saya ingat dan menjadikan saya mandiri dan berani melanglang buana kemana pun seperti sekarang. Pesan Mama adalah “Cuma Allah sama diri sendiri mbak yang patut diandalkan pertama kali, bukan orang lain!”.

Kehidupan masa kecil Mama yang kurang mampu membuat Mama sangat berhati-hati dalam memakai uang. Hal tersebut tercermin dari kesehariannya yang sangat sederhana. Sepanjang 20 tahunan beliau bekerja, beliau hanya punya kurang lebih 3 pasang sepatu fantofel. Sepatu yang ketiga masih belum sempat dipakai sampai beliau wafat. Dan saya juga ingat, dulu beliau hanya punya 3 tas kerja. Yang satu beli, yang lain dikasih. Beliau berprinsip, bila satu saja bisa dipakai sampai rusak, kenapa harus beli lagi?. Kami pun saat kecil juga diperlakukan demikian. Untuk baju misalnya, dari kecil saya selalu dibelikan kaos-kaos yang kebesaran supaya bisa muat sampai sekian tahun. baju yang bagus hanya punya beberapa, dipakai hanya untuk lebaran atau bertamu ke rumah orang lain. Berhubung anaknya perempuan semua, Mama selalu membeli pakaian dalam jumlah partai agar lebih murah. Kadang kalau kebanyakan sisa baju akan dijual ke teman sekantornya. Buat Mama, anak kecil itu nggak tahu mode. Jadi dipakaikan baju bagus atau jelek sama saja buat anak kecil itu. Ego dan gengsi masing-masing orang tua-lah yang membuat isi lemari mereka beraneka macam seperti mau pergi peragaan busana. Papa suka jengkel dengan sifat Mama yang satu ini, karena buat Papa uang itu bisa dicari. Jadi, nggak sepantasnya bila penghasilan mereka berdua yang lumayan itu nggak “kelihatan”. Tapi, sifat hemat Mama yang ini justru yang paling menyelamatkan kami. Karena, simpanan Mama sejak kami kecil lah yang menyelamatkan sekolah kami bertiga dan mampu mengantarkan saya sampai ke luar negeri. Dulu, saya setuju-setuju saja dengan Papa, karena menurut saya waktu kecil, Mama cenderung pelit ketimbang hemat. Karena saya kalau minta apa-apa harus bertengkar dan merengek dulu sama Mama. Tapi sekarang saya paham, bila sedari kecil anak-anaknya dibiasakan bermanja-manja dengan uang yang banyak, kalau sudah besar gimana? Kalau nggak bisa cari uang sendiri mau manja model apa? Kalau suaminya nggak kerja (Naudzubillah) apa mau makan batu anak-anaknya? Begitulah. Sayangnya, Mama lupa, nggak selalu “berhemat” itu berada di posisi teratas. Ada hal-hal yang nggak bisa diukur dengan menggunakan uang. Poin ini yang saya catat.

Mama itu dikenal sebagai pribadi yang luar biasa tegas namun penuh kasih sayang. Bila Mama sudah bilang enggak, maka sampai kapan pun jawabannya tetap nggak. Saya beri contoh: saya minta digendong untuk pergi ke dapur dan mengambil makanan karena saya lapar. Padahal saya bisa jalan sendiri. Maka sampai saya jalan sendiri dan mengambil makanan, Mama nggak akan menggendong saya. Biar saya menangis keras-keras sampai mau pingsan, saya nggak akan digendong. Seperti itulah. Namun, Mama itu sangat penuh kasih sayang kepada siapapun. Bila ada yang membutuhkan bantuan, secapek apapun atau bahkan se-tidak suka apapun Mama terhadap orang tersebut, akan dibantunya. Biar sedikit, pasti dibantu. Ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang-orang yang dekat dengan Mama. Bila ada yang salah paham, akan dibantu bicara pelan-pelan. Bila ada tetangga yang nggak bisa makan, dikirimin makanan. Atau ada rekan kerja yang kesulitan uang, pasti dibantu bila Mama mampu. Pernah saat SD saya dibekali buah oleh Mama, jatah saya hari itu hanya satu, tapi karena saya suka sekali buah itu, saya bawa dua. Maka Mama pun berpesan “boleh dibawa, tapi yang satu nggak boleh dimakan sendiri, harus dikasih sama temannya!”. Tapi hari itu buah tersebut tetap nekad saya makan, alhasil saya sakit perut dan diare. Mama pun nyeletuk “Pasti buah yang satu nggak dikasih temannya, tapi dimakan sendiri!”, saya diam saja. Agaknya saya kuwalat (hehe).

Mama adalah seorang pemimpi, dari kecil Mama yang mengajari saya bermimpi dan berimajinasi. Mama suka sekali mendongengi saya atau mengajak mendengarkan sandiwara radio bila hendak tidur. Mama juga suka memotivasi kami, seperti misalnya  “Kalau Mbak Ludi pintar bahasa inggris, pasti bisa sekolah di luar negeri!”. Mama membiasakan kami untuk tidak meniru orang lain. Seperti mode pakaian, kenapa harus ikut-ikutan orang lain beli baju yang sama, kalau bisa beda. Atau mainan, kenapa harus beli mainan yang sama dengan teman bila bisa punya yang lain. Untuk pakaian, Mama biasa menjahit sendiri pakaian-pakaian kami. Selain lebih irit, juga supaya modelnya bisa ganti-ganti (lagipula dari kecil ukuran tubuh saya nggak proporsional sehingga susah cari baju jadi). Bahkan boneka pun saya pernah dibikinkan sama Mama. Biar beda. Mama memiliki banyak mimpi tentang kami ketika kami sudah dewasa. Dulu, Mama sering sekali bercanda bahwa nanti kalau sudah tua ingin tinggal bersama Ajeng, soalnya saya galak dan Ijeng nakal. Mama selalu bermimpi, bahwa anaknya ada yang jadi dokter (waktu itu saya yang disuruh masuk FK, ternyata yang tembus Ijeng). Lalu Mama juga sering bermimpi bisa naik haji dan merancang acara pernikahan kami dengan mewah. Saat-saat terakhirnya, Mama ingin sekali melihat ka’bah dan ingin melihat saya menikah, minimal tahu, dengan siapa saya akan menikah. Saya masih ingat, bagaimana beliau selalu mengigau ingin berangkat umroh di kala sakitnya. Yah, bagaimana lagi, takdir berkata lain. Allah SWT terlalu menyayangi Mama. Mungkin, Mama memang tidak memiliki rizki untuk melihat Ka’bah, tapi mudah-mudahan Mama memiliki kesempatan untuk tinggal di surga, aamiin. Sedari kecil, Mama yang mengajarkan tentang surga dan neraka. Bagaimana surga adalah tempat terbaik dan terindah yang bisa saya bayangkan dan bagaimana neraka itu sangat pedih dan kejam, ditambah lagi waktu disana berjalan sangat lama. Saya sedih, karena belum bisa membahagiakan Mama dalam bentuk apapun sejak saya kecil. Dan ketika Mama sudah tidak ada lagi, penyesalan saya tidak terbayangkan dalam dan besarnya. Moga kami, anak-anaknya bisa mengantarkan beliau menuju surga. Sehingga tidak hanya menjadi anak-anak yang membanggakan bagi beliau di dunia, tapi juga bisa berkumpul lagi se keluarga di surga. aamiin

Sebetulnya, masih banyak lagi yang bisa saya ceritakan tentang Mama. Dan percayalah, Mama saya hanya manusia biasa yang memiliki kekurangan. Namun seorang sahabat selalu mengingatkan saya untuk mengingat selalu kebaikan Mama. Sayangnya, baik kebaikan atau keburukan yang saya ingat, semuanya selalu mampu membuat saya sedih, karena keduanya mengingatkan saya apa-apa yang belum sempat saya lakukan atau apa yang seharusnya saya lakukan kepada beliau.

Mama itu tidak bisa diceritakan dalam satu kali duduk, karena Mama itu bukan sekedar mitos yang selesai dalam satu kali bicara. Mama adalah pribadi kami, karena kami semua besar dengan cara Mama. Dan walaupun kami semua kelak menemukan ibu-ibu yang akan kami hormati di luar sana, tidak ada satupun yang bisa menggantikan Mama. Karena selamanya buat kami, hanyalah Mama seorang, yang terbaik untuk kami.

Salam-kangen-banget-sama-telor-dadar-Mama

 

-Ludi-

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Mama

  1. mom is the best human ever in this life.mari qt bersyukur karena qt diciptakan sbgai wanita yg akan mnjdi ibu jg.thanks mom.we love u so much

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s