Missing Taiwan (part 1)

Lunch box saya hari ini isinya adalah sarden, ayam dan sisa lontong balap kemarin. Setelah sekian suap nasi plus sarden, ingatan saya terbang ke masa-masa setahun yang lalu ketika saya berkesempatan belajar di Taiwan selama setahun untuk menyelasaikan Dual Degree Master Program di National Taiwan University of Science and Technology. Memori-memori yang manis berkelebat di kepala saya, membuat saya gatal ingin menuliskan semuanya. 😀

Saya tiba di Taiwan bulan Agustus, baru sepuluh hari puasa di rumah, langsung pindah negara dan merasakan puasa disana. Awalnya memang berat, karena setibanya disana masih summer vacation alias liburan musim panas. Indonesia memang panas, Gresik apalagi, tapi musim panas di Taiwan sungguh berbeda. Udaranya cenderung kering, dan angin sesekali berhembus. Terik dan silau pun melengkapi hari-hari puasa saya di Taiwan. Disana, saya tinggal di dalam asrama. Di NTUST ada 3 asrama atau dormitory, Dormitory 1 untuk laki-laki, Dormitory 2 juga untuk laki-laki (harganya berbeda, lebih mahal) dan ada guest house di atasnya, sedangkan Dormitory 3 untuk perempuan. Mayoritas mahasiswa Internasional akan memilih tinggal di asrama karena memang bisa menekan pengeluaran kami tiap bulannya. Di hari pertama kedatangan saya, saya dan Erma sudah dibawa berkeliling oleh Mbak Tun untuk mencari makan. Kebetulan waktu itu, dia dan Erma sedang berhalangan, sedangkan saya memutuskan untuk berbuka karena sepanjang 5 jam penerbangan saya mabok udara (nggak keren ya?!). kantin letaknya hanya 300 meter-an dari asrama. Dan ada jam bukanya, karena dalam sehari kantin hanya buka dua kali. Saat makan siang dan makan malam. Makanannya bermacam-macam, tapi tentu saja, buat yang muslim seperti saya terbatas sekali pilihan menunya. Alhamdulillah, di semester  akhir saya berada disana, kantin halal sudah dibuat sehingga saya nggak kesulitan mencari makanan halal yang memang agak jauh dari kampus, sekaligus meragamkan makanan saya yang biasanya hanya berputar-putar di menu vegetarian.

Teman-teman Indonesia yang ada di NTUST (baik yang tergabung dalam ISA-Indonesian Student Association- ataupun tidak) sungguh kompak dan baik. Di bandara saya dan rombongan dijemput oleh Finie, dan diantar sampai kamar dimana kami tinggal. Setelah itu, kami diperkenalkan dengan Cuit (Citra) yang saat itu menjadi Presiden NTUST-ISA dan diantar berbelanja oleh Mbak Tun, Rama, dan teman-teman lainnya (saya kurang ingat, maaf) sampai kami mendapatkan kebutuhan pokok seperti kasur, selimut, sabun cuci, alat makan, dan sebagainya.


Kasur? Saya membeli kasur? Benar, karena di dalam kamar yang berisikan 6 orang di masing-masing kamar itu, kami masing-masing mendapatkan dipan, lemari dan meja belajar. Kasur, selimut dan pernak-pernik lainnya dilengkapi sendiri oleh penghuni. Malamnya, kami diantar oleh teman-teman muslim seperti Bu Husni, Mbak Tun, dan Mbak Lilik ke Masjid besar (sebutan kami untuk Taipei Grand Mosque) dengan mengendarai sepeda untuk berbuka bersama dan sholat tarawih berjama’ah. Menyenangkan sekali suasananya. Ramai namun teratur.
image
Awalnya saya kikuk dengan suasana seperti itu. Makan dengan satu mangkok dan satu sumpit, ta’jil berupa buah, gorengan atau sup, dan makan malam usai magrib yang bermenukan kare daging (sapi dan kambing), roti nan, tumis sayur dan banyak lagi.



Usai makan, masing-masing orang membawa sendiri alat makannya ke dapur untuk di cuci oleh jama’ah laki-laki. Yang perempuan bantu membereskan meja, mengelapnya dan setelah selesai, menunggu isya’ dengan duduk-duduk di luar masjid sambil bersenda gurau. Demikian seterusnya sepanjang puasa, dan karena masih liburan, saya sering sekali jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat seperti Taipei Main Station yang mirip seperti JMP di Surabaya atau hanya sekedar bersepeda ke NTU untuk melihat-lihat dan mengambil beberapa foto.

Ada kebiasaan di kalangan teman-teman Indonesia sebagai wujud kasih sayang dan keakraban. Yakni surprise party bagi yang berulang tahun.



Saya masih ingat, beberapa teman yang berulang tahun pernah dibuatkan surprise party di kantin sampai di tegur oleh keamanan kampus. Kemudian kalau laki-laki biasanya surprise party akan diakhiri dengan upacara penutupan berupa di lempar ke kolam terdekat. Ekstrim ya? Hehe. Saya masih ingat, dua ulang tahun yang menghebohkan yang pernah saya rencanakan adalah ulang tahun teman2 sekamar saya. Yang pertama adalah ulang tahun Asri.



Saat itu, kami sedang keras-kerasnya latihan menari buat persiapan ICE. Dan kebetulan guru tari kami yang bernama Mbak Galuh terkenal keras dalam mengajar. Dan Asri memang yang paling banyak kena marah, karena diawal tarian dia harus menari sendiri. Jadi, kesalahan harus sesedikit mungkin. Kebetulan, hari ulang tahun Asri ada di hari minggu dan memang ada jadwal kami untuk latihan. Lama sekali kami merencanakan kejutan ulang tahun untuk Asri, mulai membagi tugas siapa yang membeli kado, kue, sampai siapa yang mau mengajak Mbak Galuh bekerja sama untuk mengerjai Asri. Kejutan tersebut berjalan dengan sukses. Kami semua sukses mengerjai hingga yang sedang berulang tahun lumayan shock. Kemudian, surprise party yang kedua yang saya atur dengan lumayan sukses adalah ulang tahun Ayhiel.



Bersama Anti, saya merancang “scenario” dimana seolah-olah penghuni 305 yang waktu itu terdiri dari saya, Asri, Erma, Ayhiel, Lia dan Ika pecah. Dan diakhir “drama” kami pun mengeluarkan kue dengan heboh. Sayangnya, Ayhiel nggak berhasil kami buat nangis waktu itu.

Lalu, bagaimana dengan acara ulang tahun saya? Hehe, malu sebenarnya mau bercerita, tapi baiklah, saya akan bercerita demi menghormati mereka-mereka yang sudah berbaik hati membuatkan pesta kejutan saya yang pertama :D. Ketika tiba akhirnya ulang tahun saya, bulan tersebut, saya harusnya sudah mencapai progress lebih dari 70% dari riset saya, tapi nyatanya separuh saja belum. Dengan dibantu dan dimotivasi oleh Pak Trijoko dan Pak Supani, saya akhirnya bertekad untuk ngebut menyelesaikannya. Dan bulan itu, memang sudah jadi kebiasaan saya untuk berangkat ke lab pagi hari dan pulang pagi buta. Begitupun dengan hari itu. Hari itu malam minggu, malam sebelum ulang tahun saya. Seperti biasa, saya di lab dengan beberapa teman lain yang juga ngebut untuk riset. Khawatir akan “disergap” di kamar, saya memutuskan untuk pulang pagi sekalian. Toh, besoknya hari minggu, bisa tidur lebih lama. Sayangnya, ketika teman sekamar bertanya, dengan polos saya menjawab “masih kerja di lab”. Jam 01.00, pintu lab di ketuk, dan kepala Erma muncul ketika pintu terbuka, beserta kue ulang tahun yang ada lilinnya dan teman-teman penghuni dorm 3 termasuk Kim Thi, teman dari Vietnam yang akrab dengan teman-teman sekamar. Saya sungguh terharu, karena sebelumnya belum pernah dapat pesta kejutan sedemikian. Pas ketika saya menginjak 25 tahun pula,  dan mereka sengaja mencari kue yang tanpa susu, karena tahu bahwa saya nggak suka susu. Sungguh terharu.

Namun, kejutan ulang tahun saya nggak berhenti sampai disitu, minggu pagi, ketika saya akan melatih teman-teman Tari Rantak, saya juga dapat kejutan dari Mbak Irma dan Diana. Minggu malam, ketika saya kira semua kejutan sudah berakhir, karena besoknya sudah senin, ternyata saya dapat kejutan dari teman-teman se-lab. Teman-teman lab membawa semangka yang dikasih lilin diatasnya dan memberi saya boneka beruang putih sebagai hadiah. Senang, lucu dan terharu. momen seperempat abad yang berkesan sekali.

bersambung..

Advertisements

3 thoughts on “Missing Taiwan (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s