Missing Taiwan (part 2)

Di lab, international student selain saya, ada juga Pak Trijoko dan Pak Supani (keduanya adalah dosen saya semasa kuliah S1 di ITS) tapi di semester berikutnya datanglah Indra dari UK Petra, kemudian Nha, Son, Tien, Trang dan Mai dari Vietnam. Kami semua cukup akrab dan suasana lab jadi ceria karenanya. Teman-teman lokal seperti Alice, Wen, Allen, QQ, Tom, Ken dan yang lainnya juga mau membaur dengan kami. Walaupun bahasa inggris mereka pas-pasan, namun mereka tidak segan membantu kami saat dibutuhkan. Baik dalam urusan akademis atau jalan-jalan. Kebetulan, professor saya, suka sekali hiking dan makan-makan. Jadi, saya sering ikut dalam acara beliau. Acara lab pertama yang saya ikuti adalah mid-autumn party. Acaranya sederhana. Kami Cuma jalan kaki sepanjang 2 kilometeran ke tepi sungai Yong-He dan bermain bola. Cara yang mudah untuk saling mengenal memang. Kemudian saat welcome party, Professor mengajak kami pergi dengan bersepeda ke daerah Xindian untuk menikmati seafood.
image
Kemudian acara ulang tahun Professor yang diawali dengan hiking dan diakhiri dengan makan bersama. Meriah sekali, karena para alumni juga datang dan kami membuat beberapa performance untuk memeriahkan acara.



Kemudian di awal spring, ada acara hiking lagi dan juga diakhiri dengan makan-makan. Ada juga kegiatan bersama-sama teman lab yang juga cukup berkesan. Yaitu saat dragonboat festival. Teman satu lab saya, Pak Trijoko, yang kebetulan sudah selesai sidang Doktor bulan April 2010, ingin sekali ikut dalam acara dragonboat festival.



Beliau bercerita, sudah dua tahun berturut-turut gagal ikut karena bermacam sebab. Dan tahun tersebut, yang mana tahun terakhir beliau di Taiwan, beliau tidak ingin melewatkannya lagi. Akhirnya, teman-teman satu lab, yang terdiri dari mahasiswa lokal dan international, ditambah dengan Asri, dua teman dari Vietnam, Pak Erly, Pak Khoiri dan Mas Nedi, serta Mbak Ervin yang khusus di impor dari Hsinchu, turun menjadi satu tim untuk mendayung perahu naga tersebut. Sebelum lomba, kami mencoba perahu tersebut dan memang tidak mudah sama sekali. Pesimis, kami bakal kalah, namun karena memang niatnya hanya untuk sekedar ikut dan merasakan kesenangan bertanding, berangkatlah kami ke arena perlombaan. Alhamdulillah, walaupun tidak mendapatkan piala, tapi tim kami dapat reward sekian puluh ribu dollar Taiwan dan pulang dalam keadaan senang.


Event yang cukup terkenal dan ditunggu-tunggu oleh mahasiswa Indonesia dan semua mahasiswa di NTUST adalah Indonesia Cultural Exhibition (ICE). Menjelang winter, kira- kira akhir November, kami pun mulai membentuk panitia untuk event besar tersebut. Kebetulan saya kebagian di seksi acara, sehingga sedikit-sedikit saya ikut andil dalam suksesnya acara tersebut.



Saya masih ingat, membantu mbak Ike mendampingi teman-teman berlatih tari dengan Mbak Galuh dan Mas Danang, kemudian rapat malam-malam bersama Mas Wikan, Dwinta, Mas Hadi, Dewi dan teman-teman lainnya ketika mendiskusikan beberapa property pameran yang harus di downgrade.



Lalu hari-hari saya dan Mbak Irma hunting bahan-bahan apa saja untuk keperluan pameran dan pentas, menjahit, mengelem, menggunting, memotong dan merangkai semuanya supaya kelihatan indah dan bisa dipakai. Sampai akhirnya saya diserahi stand “Traditional Costume” pada saat pameran. Alhamdulillah, acaranya berlangsung lancar dan megah.



Momen berikutnya yang ditunggu-tunggu oleh Mahasiswa NTUST adalah Graduation ceremony.

Berbeda dengan acara wisuda di Indonesia pada umumnya, acara ini lebih mirip seperti pesta karnaval daripada peresmian para lulusan. Jadi, para mahasiswa yang akan lulus mengenakan toga sewaan (yang mana satu Taiwan toganya sama semua) kemudian berfoto bersama teman-teman yang lain di berbagai spot yang sudah disediakan oleh pihak kampus. Setelah itu mengikuti pawai dan berjalan berkeliling kampus bersama dengan dipimpin oleh marching band.

Setelah itu di dalam gedung olahraga, semua wisudawan akhirnya akan mendengarkan beberapa pidato (dalam bahasa mandarin), melakukan toast, dan melihat beberapa mahasiswa berprestasi diberi penghargaan. Setelah itu? Ya pulang. Lalu ijasahnya? Prosedur kelulusan di NTUST simple sekali. Ketika seorang mahasiswa sudah menyelesaikan studinya plus sudah melalui sidang untuk menguji thesis/disertasi, maka dia berhak mengurus surat “bebas kampus” untuk mengeluarkan ijasah dari kantor yang bersangkutan. Prosesnya nggak ribet, hanya melengkapi beberapa surat dengan stempel lalu menyerahkan kopi thesis ke perpustakaan, kemudian menyerahkan semua berkas kelulusan  kepada pihak yang berwenang, dan dalam lima menit ijasah sudah di tangan. Nggak pakai lama, nggak pakai ribet. Andai di Indonesia seperti itu.

Taiwan sebenarnya cantik sekali dan banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Taipei sendiri ditata dengan begitu rapi dan indah, karena disana sini terdapat taman. Transportasi pun cukup mudah, dan relatif murah bila dibandingkan dengan Korea. Sayangnya, saya hanya berkesempatan untuk mengunjungi sedikit tempat di Taipei. Seperti Taipei zoo,

Botanical Garden,

Danshui,

dan Taipei 101 (walau tidak sempat naik sampai lantai teratas).

Sedangkan untuk luar kota, saya hanya pernah ke Taichung dan Hsinchu saja. Eh, banyak jalan juga ya saya? Hehe. Kalau untuk refreshing sejenak, biasanya saya suka belanja di Shida atau Gongguan atau makan di Enjoy Kitchen (restaurant halal).

Tempat favorit saya adalah Taipei Flora Expo.

Tempat wisata yang berupa taman bunga ini letaknya beberapa stasiun dari TMS. Memang besar sekali area pameran bunganya. Dibagi menjadi 4 area, makin membuat area ini nggak habis untuk dijelajahi. Ada area yang khusus bunga-bunga saja, ada area untuk menampilkan ciri khas masing-masing negara yang berpartisipasi, ada area yang menampilkan kekreatifan mereka dalam mendekor pameran tersebut, dan banyak lagi. Mata nggak hanya dimanjakan bunga-bunga yang biasanya hanya bisa saya lihat lewat TV atau majalah, seperti Tulip, Sakura, Mawar, tapi juga arsitektur dan dekorasi unik yang terintegrasi dengan manis. Saya kurang tahu, apakah winter tahun ini ada lagi event ini, tapi bilapun tidak ada, masih banyak tempat di Taiwan yang ingin saya kunjungi :D.

Sebenarnya summer ini, saya ingin sekali mampir ke Taiwan lagi untuk mengunjungi teman-teman yang masih disana, tapi kelihatannya harus ditunda dulu karena pekerjaan di lab yang baru cukup banyak dan perkuliahan juga cukup berat. Jadi kalau harus meluangkan waktu untuk ke Seoul mengurus visa dan sebagainya, lumayan berat. Lagipula, setelah dihitung-hitung, biaya yang dibutuhkan juga cukup besar.

Mudah-mudahan bisa bertemu lagi dengan semua teman-teman dan berkunjung ke Taiwan ya..

Salam kangen sama xiao hei

-Ludi-

Advertisements

5 thoughts on “Missing Taiwan (part 2)

  1. Maaf mbak, yg disebut di blog ini, pak supani Sipil its kan ya? Yg S2-nya di itb bandung?

    mau nanya, kalau pak supani dah balik surabaya atau masih di korea ya?

    *tiba2 keingetan ama pak supani yg lucu. Salam buat beliau. dari temen kos-nya 😀

    Kalau bener, kasih alamat email saya ke beliau ya…

    makhfudsaptadi@gmail.com

    • Insya Allah yang bapak maksud benar kok pak. Pak supani itu dosen saya di teknik sipil ITS. S2-nya di bandung, tapi S3-nya di taiwan bukan korea. kabar terakhir dari teman2 katanya sudah di surabaya pak.
      Insya Allah salam dan pesan bapak ke beliau sudah saya sampaikan. semoga terjalin kembali komunikasinya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s