Let’s pushing forward (Student Edition)

Setiap selasa dan kamis saya memiliki jadwal untuk “naik gunung” ke langit ketujuh di gedung 709 untuk mengambil kuliah dari Prof. Han-You Jeong yang berjudul “Probability and Queueing Theory”. Awalnya sebelum perkuliahan dimulai, saya mengira hanya akan mendapatkan perkuliahan standard dan kemungkinan bilingual (english-korea) saja. Tapi lebih dari itu, Profesor muda yang baru menikah ini sarat dengan filosofi dan konsep yang mampu memberi saya semangat dalam menyelesaikan studi saya disini. Sebagaimana hari ini, beliau bercerita tentang betapa pentingnya untuk mensupport generasi muda dalam hal pendidikan. Karena dari fenomena yang ada, banyak sekali pemuda-pemuda Korea yang harus bekerja part-time menjadi pelayan, misalnya, hanya untuk membiayai sekolah mereka. Kemudian saya teringat NTUST, Taiwan, disana pun banyak sekali pemuda-pemuda yang rela part-time untuk bisa membiayai sekolah, agar mereka dapat menempuh pendidikan yang layak dan mereka inginkan. Disini saya melihat, besarnya semangat pemuda-pemuda di negara maju untuk meningkatkan daya saing mereka agar bisa menjadi orang yang lebih baik. Hal ini menuntut mereka untuk belajar mengefisiensikan waktu dan biaya agar tujuan dapat tercapai.

Lalu bagaimana dengan saya?

Saya hanya bisa menertawakan kebodohan-kebodohan yang pernah saya lakukan dahulu. Dimana saya suka sekali membuang-buang waktu dan uang untuk melakukan hal yang tidak berguna. Seharusnya dengan suasana kondusif yang dimiliki keluarga saya ketika saya masih SMA sampai lulus sarjana, bisa saya gunakan untuk meningkatkan kualitas diri. Kasarnya, orang-orang di negara maju saja mau bersusah payah demi memperoleh pendidikan yang lebih baik, harusnya yang leyeh-leyeh tinggal minta duit sama orang tua bisa berbuat lebih to?! Dan persis itulah yang saya kerjakan. Saya pernah memiliki kesempatan itu dan saya lewatkan begitu saja.

Prof. Jeong, demikian kami memanggilnya, juga mengatakan, “push yourself into the boundary of the cliff, and then you when you met those kind of situation again, you will react as if it’s just a common event”. Memori lama kembali. Seumur hidup, baru tahun lalu ketika sedang mengerjakan thesis lah, momen dimana saya harus mem-push seluruh daya upaya yang saya miliki untuk menyelesaikannya. Saya yang pemalas ini, baru kali itu berkomitmen penuh dalam menyelesaikan sesuatu. Dan walaupun hasil akhirnya sangat-sangat tidak maksimal, namun dalam hati saya bangga karena saya pernah melewatinya. Tentu, dibalik dukungan banyak orang serta munajat yang sering, saya tidak bisa menyangkal bahwa saya sudah membawa batas diri saya ke sebuah titik yang baru.

Lantas apa hubungannya sebuah efektifitas kinerja dengan mendorong batas diri kita se-maksimal mungkin?

Sebaiknya saya memakai permisalan yang gampang. Diri saya sendiri 😀

Jadi, sewaktu kecil, saya yang pemalas sering diwanti-wanti sama Papa bahwa “sebaiknya 1 mata pelajaran diulang sampai 7 kali, daripada 7 mata pelajaran hanya dibaca 1 kali”. Dan saya ingat, setiap kali saya mendengar nasihat ini, sesering itu pula saya meremehkan dan sengaja melalaikannya. Nasehat Papa saya diatas, keduanya membutuhkan faktor waktu. Baik 1 hal yang direpetisi sampai 7 kali atau 7 mata pelajaran yang diulang hanya satu kali. Tentu kedua hal tersebut sangat membosankan. Sudah diajarkan di kelas, kemudian di kursus atau bimbingan, sudah itu apakah harus diulang lagi dirumah? Tidak terbayangkan bosannya. Lebih baik main, nonton tivi, atau membaca komik. Dan itulah yang  biasa saya lakukan sampai saya kuliah master :P. Ketika saya harus mengerjakan riset, mereview paper, dan mengerjakan tugas-tugas lainnya, saya malah nonton youtube, facebook-an, edit foto, belanja, jalan-jalan keluar kota dan sebagainya. Saya yang pemalas, memang tidak terbiasa melakukan satu hal dengan tekun dan menyelesaikannya sampai akhir. Kalau tidak bisa, kebanyakan saya tinggal. Selalu demikian. Padahal bila dihitung-hitung, waktu yang saya gunakan untuk senang-senang, akan lebih baik bila saya kurangi untuk mengerjakan beban-beban kuliah yang saya emban. Sampai di suatu titik, ketika saya kalang kabut (sebagai akibat kemalasan saya), saya mendapatkan nasehat yang kedua dari senior sekaligus dosen saya, yaitu, “Bila kita berniat, maka badan akan ikut, tapi bila niat tidak ada, paksa saja badannya nanti niat akan muncul sendiri!”. Dan ketika saya memaksakan diri saya untuk mengerjakan, dengan membutakan diri dari hal-hal seperti Facebook, Youtube, chatting dan jalan-jalan, serta tekun mendekam di lab, saya mendapati diri saya dapat mengatur waktu dengan sangat baik hingga akhirnya riset bisa terselesaikan dengan selamat 😀

Seandainya dari dulu, saya serajin itu, mungkin saya akan sama seperti Moshe Kai Cavalin (infonya bisa dilihat disini http://id.berita.yahoo.com/anak-cerdas-china-brasil-bersikeras-dia-tidak-jenius-060410205.html ). Bisa lulus sarjana pada usia 11 tahun dengan berbagai kemampuan lain seperti bermusik dan bela diri 😀

Dan sekarang, di tempat yang baru, saya ingin sekali merubah diri saya dan kembali menjauhkan batas yang saya miliki. Dan ini yang ingin saya lakukan to make it happen 😀 yaitu:

  1. Menentukan prioritas. Pada dasarnya kita tidak hidup dengan diri kita sendiri. Ada keluarga, teman-teman, masyarakat, profesor (eh?!) nah, kita harus tahu, yang mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Kalau memang saatnya keluarga harus didahulukan, maka dahulukan keluarga. Kalau riset sedang deadline, ya ada baiknya memfokuskan diri agar cepat selesai dan cepat mengerjakan yang lain
  2. Membagi waktu secara efektif. Saya menyadari kemampuan saya dalam membagi porsi waktu dalam sehari sangat parah. Sering saya berniat untuk “buka facebook lima menit aja” berubah menjadi “buka facebook seharian”. Jadi, mulai sekarang saya mulai berhitung dan mencatat dalam kepala saya, berapa menit jalan kaki dari rumah ke kampus, berapa lama saya tidur, berapa lama saya seharusnya belajar dan berapa lama saya harus main. Hidup di dunia serba cepat kalau nggak pinter main dakon begini terancam “menyedihkan” kelihatannya 😛
  3. Mempergunakan uang se-efisien mungkin a.k.a nggak boros. Sudah terkenal dari dulu kalau saya suka beli barang yang aneh-aneh dan kebanyakan nggak berguna. Mulai sekarang, saya harus menghentikannya (walaupun kegiatan itu sangat menyenangkan). Dan berusaha tidak belanja menggunakan alasan “ini buat adik-adik” atau “ini buat papa”. Mereka sudah berpesan supaya saya jangan sampai menyusahkan siapapun masalah uang selama belajar disini. Jadi, saya harus berusaha keras memenuhi janji tersebut .
  4. Mem-push diri lebih keras ketika malas dan mutung melanda. Sudah jauh-jauh kesini dong, masa kalah sama males? Sama mutung? Nggak lucu amat. Masa mau menertawakan (atau menangisi kebodohan) terus menerus?!

Yah, sementara itu dulu sih menurut saya yang harus dikerjakan agar kehidupan riset bisa berjalan teratur dan nggak selesai dengan asal-asalan (lagi).

Di lab terus, kerja terus? Apa nggak bosan? Apa nggak merasa terpenjara?

Seorang sahabat pernah mengatakan pada saya “Menahan diri itu tidak berarti berubah menjadi orang lain. Toh, hati kita adalah teritori kita sendiri”, jadi, mau di lab terus menerus, atau harus keluar, hanya diri sendiri yang menentukan, dimana batas dan bagaimana kebebasan itu sebenarnya. Bila diingat, banyak orang-orang besar yang justru produktif didalam penjara bukan? Hehe, ekstrim dikit.

Sementara ini dulu opini tentang harus se-pertapa apa saya (dan mungkin anda) supaya riset bisa selesai dengan baik. Mudah-mudahan ini pengingat yang baik bila ada yang lagi males bin lelet (kebanyakan sih saya yang kayak gitu) supaya fokus lagi dan bisa kerja dengan semangat di lab.

Salam terus-bertapa-di-lab^^

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s