Saya (tidak) bisa multitasking

Saya nggak bisa multitasking. Eh? Dibilang bohong? Hehe, berarti yang anda lihat selama ini adalah saya sedang berusaha menjadi orang yang multitasking. Sungguhan, saya nggak pinter multitasking.

Angkat tangan yang saya acuhin di online media ketika saya sedang ujian?

Angkat tangan yang saya acuhin ketika saya serius baca atau nonton film?

Angkat tangan yang sering saya acuhin sms, telpon , chat dan imelnya?

Angkat tangan yang sering saya acuhin bahkan saat sedang jalan bareng dengan saya?

Nah, masih kurang bukti kalau sebenarnya saya nggak bisa multitasking? Hehe

Meminjam definisi dari teman saya di blog sebelah, multitasking dalam dunia komputer itu tidak berarti segalanya berjalan secara parallel dalam satu waktu. Sejatinya semua fungsi yang ada dalam sebuah komputer itu  tidak bisa dijalankan secara bersamaan. Ada urutan waktunya. Mungkin kita bisa menulis di word atau notepad sambil browsing dan mendengarkan musik, tapi tidak otomatis muncul semua kan? Ada urutan waktu dimana kita harus menghidupkan winamp dulu, membuka Microsoft office lalu membuka browser. Dan sudah barang tentu, bila kita sedang me-run suatu program yang “berat” lalu komputer “lemot”, kita pasti berfikir untuk mematikan aplikasi/program lain yang tidak perlu supaya komputer bisa nge-“run” dengan lancar dan selamat.

Nah, sama seperti multitasking yang familiar di kehidupan kita to?

Pada dasarnya hidup manusia juga multitasking kan ya? Kita bisa bernafas, berbicara, berjalan dan berpikir secara bersamaan. Itu yang dasar, ada juga yang menambahkan dengan fitur “meng-sms” atau “membaca” atau mungkin “menari”. Jadi, pada dasarnya manusia juga multitasking kan ya? Kemudian ada pendapat mengenai kemampuan multitasking wanita. Seperti yang saya bahas di post sebelumnya, bahwa wanita itu memang dituntut untuk jago multitasking setidak mampu apapun dia. Banyak sekali artikel yang menuliskan bahwa wanita bisa melakukan “ini” sembari melakukan “itu”, dan banyak lagi bahasan yang lain dengan topik yang sama. Lalu apa yang bisa saya lakukan ketika saya dituntut untuk “survive” dengan banyaknya “tugas”?

Biar nggak pusing, akan saya tuliskan, apa-apa yang biasa saya kerjakan dan sedang saya latih sehingga saya “terlihat jago” dengan yang namanya multitasking:

  1. Tetapkan prioritas. Setuju semua ya kenapa ini penting. Anak bayi yang sedang heboh main dengan orang tua atau mainannya saja langsung menangis bila lapar atau popoknya basah. Karena prioritasnya pada saat itu berubah menjadi “harus segera makan” atau “harus segera ganti popok”. Kalau kita nggak pintar-pintar mempergunakan frase “harus segera” ini, maka multitasking kita akan berakhir dengan tidak baik. Sudah sering saya menyepelekan frase “harus segera” ini dan nggak ingat mana yang penting untuk diselesaikan, atau apa yang kemudian harus dilakukan. Tips: catet saja. Dan jangan sengaja menghindari catatan tersebut. Membohongi diri sendiri itu tidak baik 😀
  2. Kenali kemampuan diri sendiri. Mungkin anda seperti saya yang suka sekali menyibukkan diri sendiri dan mengambil porsi pekerjaan dengan serakah. Apakah itu pekerjaan dilab atau pekerjaan diluar lab. Ada baiknya anda dengan jujur mengukur diri sendiri, sampai seberapa kuat kemampuan anda untuk mengerjakan semua yang ingin anda kerjakan. Jangan sampai dari sekian banyak pekerjaan kita jadi sulit menentukan prioritas. Misalnya, riset harus segera progress tapi ternyata juga menjadi panitia dari sebuah kegiatan, dan keduanya menuntut fokus yang sama besar dan sama-sama tidak bisa menunggu. I’ve been there and it killing me softly. Serius, akhirnya salah satu menjadi korban dan itu sama sekali bukan hasil yang saya harapkan. Tips: sekali lagi, jujur pada diri sendiri, dan dengarkan nasehat orang lain.
  3. Jauhi, kurangi atau hindari sama sekali apa-apa saja yang dinamakan “Distraction Maker”. Saya baru sadar belakangan ini juga, kalau distraction maker itu sepele tapi berbahaya. Di postingan saya sebelumnya, saya menyebutkan, betapa gampangnya saya terlena oleh facebook. Nggak bohong kalau chatting, twitter dan nonton film juga sama bahayanya. Tadinya saya berpikiran “Masa sih, diri sendiri nggak tahu batasnya sampai dimana?”, tapi pada kenyataannya saya kalah dengan benda-benda pengalih perhatian tersebut. Jadi nggak fokus, jadi lupa apa yang dikerjakan, jadi nggak ingat tadi baca paper sampai mana. Itu baru pengalih perhatian yang tinggal duduk, online, baca. Apalagi pengalih perhatian sebangsa jalan-jalan atau belanja. Sering sekali bila mau pergi saya berpikir “nanti pulang baru belajar”, ternyata, pulang dari jalan-jalan, sudah capek, terus tidur. Tiba-tiba udah ganti hari dan nggak sempat lagi belajar. Itu kalau sedang belajar, kalau memasak misalnya, kalau tidak bisa fokus terhadap dua kompor, maka matikan yang satunya, biar nggak gosong. Lebih baik lama selesainya daripada dua-duanya nggak bisa dimakan. Tips: if you’re not trained well, don’t make any distraction to be faced.
  4. Kalau nggak bisa fokus, paksa! Gimana caranya memaksakan diri untuk fokus? Hehe. Ini saya diajarin sama para tetua nih. Duduk diam, ambil nafas panjang, hembuskan lalu lihat benda yang ingin kita tekuni (misalnya: kalau sedang memasak, dilihat kompor, wajan dan teman-temannya) sambil mengulang-ulang dalam hati, setelah mengerjakan ini, kerjakan ini. Misalkan sedang memasak, ulang-ulang saja dalam hati “setelah dibalik ayamnya, lihat nasi, cuci sayuran, lalu awasi ayamnya. Kalau masih lama ditinggal motong sayur, kalau sebentar lagi matang tungguin”. Lama-lama bisa kok kalau mau. Tips: willing will follow the body and body will follow the willing (as mentioned before)
  5. Biasakan mencari alternatif secepat mungkin alih-alih panik bila apa yang sedang kita kerjakan tidak berhasil/menemui jalan buntu. Saya sendiri susah sekali membiasakan hal ini dan masih berusaha melatih otak saya supaya bisa mengeluarkan solusi secepat jentikan jari :D. contoh kasus: tas yang biasa dipakai basah karena hujan dan kotor kena lumpur. Solusinya ada dua, mencuci dan menjemur tas tersebut atau memakai tas yang lain. Dengan dua solusi itu mana yang lebih efisien. Dengan menghadapi masalah tersebut dengan tepat dan memikirkan solusi yang terbaik sembari mengerjakan hal lain, berarti kita sudah melakukan multitasking kan?! Sesederhana itu. Tips: mulai melatih dari yang kecil dan remeh, lalu lanjutkan dengan hal yang lebih sulit.
  6. Jangan meremehkan kekuatan pengulangan/repetisi. Pada dasarnya sesuatu yang diulang-ulang akan membuat kita hafal. Jadi bila ingin tubuh kita memiliki kebiasaan multitasking, maka jangan ragu untuk mengulangi kebiasaan multitasking yang dianggap perlu. Hal ini saya pelajari dari Mama saya. Setiap pagi beliau bangun pagi dan me-roll rambut, kemudian sembari membangunkan kami beliau menanak nasi dan memasak untuk sarapan. Setelah kami semua mandi dan bersiap dengan seragam sekolah, beliau akan mandi dan usai mandi, kami semua sudah siap di meja untuk sarapan. Setelah itu beliau akan berdandan untuk pergi ke kantor sambil mengecek kelengkapan kami, mengawasi kami makan, sambil menasehati kami ini itu. Pagi yang sangat hectic pun terasa sangat biasa karena Mama sangat terlatih melakukan. Tips: pelan-pelan saja awalnya, naikkan percepatan bila anda merasa bisa, lalu pertahankan. (berasa kursus mobil jadinya).
  7. Jangan panik. Karena panik akan membuat sebuah multitasking menjadi multidisaster. Memang memikirkan ini itu secara bersamaan akan membuat perut mulas, kepala pening, mata berkunang-kunang, jantung berdebar, nafas satu-satu, dan gejala lain yang mungkin anda alami ketika dibawah tekanan untuk menyelesaikan banyak hal sekaligus. Bila anda berusaha fokus namun tidak tenang, sia-sia juga. Bisa-bisa malah pingsan. Bila panik, merasa tidak tenang, pastikan sekeliling anda aman (kompor sudah mati atau kendaraan sudah berhenti) lalu berusaha merelaksasikan diri. Ambil satu atau dua menit untuk menenangkan diri sendiri dan meyakinkan diri bahwa anda bisa melakukannya. Ketika kekuatan sudah terkumpul, maka fokus kembali untuk menyelesaikan apa yang anda mulai. Tips: buat yang muslim, berdzikir lumayan mujarab buat relaksasi 🙂
  8. Minta dukungan dari orang-orang di sekeliling anda. Jadi, multitasking itu membutuhkan fokus dan ketenangan. Apabila anda tidak bisa menyetir sambil diajak omong, maka mintalah partner menyetir anda untuk bicara seperlunya, jangan mengageti dan jangan bikin panik. Atau bila anda membutuhkan orang lain untuk tidak mengganggu disaat sedang kuliah atau belajar, maka mintalah supaya demikian. Alhamdulillah, saya memiliki keluarga dan teman-teman yang sangat pengertian. Ketika saya sedang “tinggi” tidak ada yang membicarakan masalah serius dan malah memaksa untuk tidak dihubungi agar saya bisa fokus belajar dan bekerja 🙂 Tips: Setelah belajar untuk jujur kepada diri sendiri, belajarlah jujur kepada orang lain yang membutuhkan kejujuran anda 😀

Rasanya masih banyak lagi sih, tapi sementara ini dulu yang bisa saya resume. Beberapa poin diatas masih saya latih dan saya biasakan. Ini hanya self-alarm, tapi bila berguna bagi yang lain juga maka saya bersyukur sekali. Boleh juga menegur ketika saya sedang melanggar salah satu poin diatas. Toh, dalam berteman kita tidak hanya saling mendukung tapi juga saling “menampar” dan mengingatkan bila ada salah.

Jadi siapa mau belajar jadi (lebih) multitasking?

Salam-ngebut-ini-itu-sambil-tetap-ngeblog

-Ludi-

Advertisements

2 thoughts on “Saya (tidak) bisa multitasking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s