COCOL Bu (Comotan Cerita konyOL di Busan)

sudah bosan dengar cerita tentang pertapaan saya di lab? haha, oke deh, sekarang cerita yang seneng-seneng aja ya..

mudah-mudahan alurnya bener dan enak dibaca nih, Bismillah,,

saya belum cerita di post “seminggu pertama di busan”, bagaimana keberangkatan saya waktu itu. mengingat pengalaman tahun lalu yang air sick dan akhirnya nggak menikmati perjalanan dari Bandara Taoyuan ke Taipei (NTUST), akhirnya sekarang saya bertekad, mumpung jalan sendiri saya nggak boleh nggak menikmati 😀

dan Alhamdulillah, berkat teman baik saya Hesti, saya dapat tiket Air Asia Surabaya-Incheon dengan harga 2,5 jutaan sudah termasuk bagasi 30 kg, makan dua kali dan milih kursi. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Kuala Lumpur (di Kuala Lumpur transit 2 jam) lumayan asyik, walaupun 30 menit setelah take-off akhirnya saya ketiduran (maklum, kalau nggak ada yang dikerjain, gampang banget ngantuk). nah, saat pesawat sudah landing di Kuala Lumpur dan tiba saatnya ganti pesawat, saya berusaha cari tahu dimana tempat untuk transit pesawat. entah karena saya terlalu excited, atau memang masih belum lengkap nyawanya karena baru bangun tidur, saya nyasar dan mengikuti rombongan yang salah. awalnya saya ikut rombongan itu karena mereka satu rombongan pakai batik semua (asumsi mau berangkat umroh) dan juga akan transit pesawat seperti saya. ternyata, mereka justru keluar dari bandara langsung ke bagian imigrasi bila kita memang mau menetap di Malaysia selama beberapa saat. dan ketika menyadari kebodohan saya, akhirnya saya bertanya kepada petugas terdekat yang ternyata bahasa inggrisnya nggak begitu bagus (karena lebih ngerti yang saya tanyakan dengan menggunakan bahasa Indonesia ketimbang bahasa inggris –‘ ) dan beliau berhasil menunjukkan kepada saya dimana tempat boarding untuk yang transit (malu euy!). setelah saya kembali ke “jalan yang benar”, yakni bagian imigrasi untuk transit, akhirnya saya pun memasuki ruang tunggu yang benar dan duduk manis menunggu waktu masuk pesawat yang menuju Incheon. tiba saatnya berangkat, saya kira, pesawatnya yang terlihat parkir di depan gate keberangkatan tempat saya menunggu adalah pesawat yang hendak saya naiki. ternyata, saya harus berjalan sepanjang sekian ratus meter untuk mencapai pesawat yang benar. penerbangan ekonomi sih, susah sedikit nggak boleh ngomel dong ya?!

Karena perjalanan dari KL-Incheon memakan waktu sekitar 7 jam, saya putuskan untuk meminum obat anti mabok di pesawat yang ini. Alhamdulillah, sepanjang penerbangan nggak rewel perutnya, dan saya dapet partner duduk yang baik. ketika pesawat mendarat di bandara, saya jadi lumayan norak. deg-degan gitu, nanti bisa nemu tempat imigrasinya apa nyasar lagi? terus gimana cara nyari bagian informasinya supaya saya bisa nelpon jemputan dari hotel tempat saya nginep. sesampainya di bandara, saya jadi norak lagi (dan saya bener-bener berharap nggak ada yang ngeh sama wajah “waaoooww” saya), karena bandaranya gede banget dan ada kereta yang ngangkut penumpang dari tempat kedatangan pesawat, sampai ke bangunan utama bandara, tempat imigrasi, klaim bagasi, informasi dan sebagainya berada. FYI, pas jaman di Taiwan dulu, saya sempat salah antri di bagian imigrasi karena salah pengertian, Alhamdulillah pas di bagian imigrasi Incheon, nggak gitu sulit, ngantri dan cek paspor-visanya pun cepet. sayangnya, selama proses pengecekan pake foto wajah segala. langsung nyesel deh nggak sempet cuci muka dulu pas turun pesawat (moga-moga bekas tidur manis di pesawat nggak ada yang ke-capture, aamiin):D

setelah klaim bagasi beres dan saya resmi keluar dari bandara Incheon, saya nyari yang namanya bagian informasi, nggak sulit sih, dan petugas bandara cukup profesional dalam melayani. usai membantu saya menghubungi pihak hotel saya pun diberitahu untuk pergi ke lantai 3 keluar lewat exit 10 (kalau nggak salah) dan menunggu mobil warna silver yang ada tulisannya Incheon Airport Hotel. mbak-mbak informasinya bilang kalau mobil jemputan akan datang dalam waktu 15 menit. karena saya takut nyasar lagi dan lama baru nemu exit yang dimaksud, saya pun buru-buru naik ke lantai 3. disana saya menemukan banyak sekali bangku panjang yang memang bisa dipakai untuk menginap kalau ingin mengejar bus yang pagi-pagi sekali dan menghemat biaya hotel. seketika langsung punya ide buat nginep disitu lain kali, dengan catatan ada yang nemeni (kalo gada yang nemeni bisa nangis darah Papa saya 😉 )

Ketika menemukan exit yang dimaksud rasanya bahagiaaa sekali. Alhamdulillah, Ya Allah, saya nggak nyasar lagi. kan horror nyasar di negara yang saya nggak bisa bahasanya sama sekali, mana fitur saya nggak umum lagi. dengan penuh semangat saya rapatkan jaket yang saya bawa dari Indonesia dan bertekad menembus dinginnya udara diluar. pertama kalinya saya merasakan suhu nol derajat celcius. Masya Allah, luar biasa. mati rasa segera wajah saya. mau balik masuk ke dalam gedung, nanti yang jemput nggak ngeliat, mau nunggu diluar kedinginan. dilema akhirnya. tapi dilema itu berakhir  10 menit kemudian ketika mobil jemputan datang. bahagia lagi 😀 dan ternyata supirnya jago banget bahasa inggris dan ganteng, bahagia kuadrat 😀 😀

didalam mobil si supir mengajak kenalan dan berbasa basi mengenai cuaca. dia berkata saya memilih waktu datang yang tepat karena musim dingin hampir berakhir (sepertinya dia tahu saya nggak kuat sama dingin). saya manggut-manggut saja sambil melihat keluar jendela dan menikmati suhu nol derajat saya yang pertama. kemudian si supir menyalakan radio dan memutar lagu korea. dia bertanya apakah saya suka lagu-lagu korea, dan saya jawab, saya suka semua jenis musik, jadi terserah saja. dan diputarlah lagu yang cukup familiar (kayaknya dari drama korea manaaa gitu, saya nggak hapal. ato hanya perasaan saya saja) dan saya mulai senyum-senyum geli. berasa bikin serial drama, sepanjang perjalanan ada soundtracknya. seperti soundtack ketika sang tokoh utama baru memulai petualangannya di episode satu. haha, akhirnya saya kebagian ngalamin hidup kayak di film-film 😀

sampai di hotel, disambut dengan ramah oleh resepsionis, dan dibantu memilihkan jadwal untuk diantar kembali ke bandara karena saya harus nyegat bus ke busan dari bandara. dengan ramah ditawarkannya saya untuk dibangunkan jam berapa, namun saya menolak, karena saya yakin bakal susah tidur saking excitednya :P. lalu saya diantar menuju kamar, dan bagasi saya yang total beratnya 29,5 kg itu juga dibantu bawa sampe ke kamar. hihi, kapan lagi jadi turis?! 😉

kamarnya bagus, fasilitasnya lengkap, toiletnya pinter (karena banyak tombolnya) dan ada wi-finya. segera saya kontek2 orang-orang yang perlu dikontek dan pamer dengan noraknya dimana saya menginap 😀 nih potonya nih (gak ada poto toilet pinternya tapi)

selesai bersih-bersih badan, sholat dan ngemil, saya pun segera naik kasur dan bersiap tidur. esok paginya sarapan, dan siap-siap lanjut ke busan. dengan membayar tiket sebesar 43.000 won, akhirnya saya naik bus menuju busan. langsung dari incheon ke busan lewat jalan tol, dan hanya transit sekali. kebetulan diatas bus sepi, hanya 5 orang termasuk supirnya, jadi saya bisa milih mau duduk dimana dan naruh barang dimana 😀 (sayang, kursinya nggak gandeng jadi saya nggak bisa pakai dua kursi buat tidur selonjoran).

pemandangannya nggak begitu heboh sih, hanya begitu-begitu saja.

dan lumayan bikin saya tidur-bangun-tidur lagi-bangun lagi- tidur lagi-kaget karena busnya nyenggol sesuatu-nggak bisa tidur tapi akhirnya ngantuk dan tidur lagi sampai akhirnya nyampai di terminal nopo di busan.

begitu turun langsung terasa dingin menggigil kota busan. setelah dengan patuh menunggu di terminal dan akhirnya dijemput oleh Nelly dan Maste, akhirnya kami pun “pulang” ke “rumah Jangjeon” sambil menyeret barang bawaan saya. Fuuh, sampai dengan selamat. malamnya, saya diajak “makan diluar” sekaligus di perkenalkan dengan penghuni lainnya. daaaaannnn makanan resmi pertama saya di busan adalaaaahhhhhh “Jajangmyon” (ditraktir Andre, makasih ya ndre 🙂 ).

pertama kali ngelihat makanan ini. saya merasa benda tersebut seperti rujak cingur. tapi berbahan dasarkan mie. nah lho, kayak apa rasanya ya? apa kayak lontong mie? setelah saya cicipi, ternyata yang hitem-hitem itu adalah pasta kedelai sodara-sodara 😀 rasanya? lumayaaaannnn, enak kok (dasarnya saya suka makan :p ) dan keennnyyaaannnggg. mirip di Taiwan, makanan di sini pun porsinya gede-gede. jadi jangan kaget kalo pulang dari sini jadi endut sayanya, haha.

esoknya saya pergi ke lab, diperkenalkan dengan para sonbae, dan langsung memulai kehidupan lab yang “mengasyikkan” itu (bagian membosankan akan saya skip saja 😀 ) sudah baca post saya tentang escaping saya yang berakhir jalan-jalan keliling kampus? kalau sudah, pasti sudah tahu kaaann kalau dikampus saya ada sakuranya? benul sekali, ketika semua pohon sakura mulai blooming, tiap pagi saya jadi suka jalan ke kampus sepagi mungkin dan menikmati pohon-pohon cantik tersebut sendirian. bener-bener relaxing moment deh. Masya Allah. tiap hari saya jalan dengan perasaan tidak percaya saya berada di tempat yang banyak sakuranya seperti komik-komik yang suka saya baca waktu kecil, dan hal itu membuat saya sangat bersemangat dalam mengerjakan apapun di lab. yep, sometimes membuat diri sendiri bahagia memang segampang itu 🙂 nggak hanya di sekitar kampus, ternyata sakura ini bertebaran di banyak tempat di seluruh penjuru Korea (sampai ada festivalnya, sayang belum bisa pergi). dan di suatu pagi yang hangat, saya memutuskan untuk menemani Riska jogging di bawah rute Metro Train dari stasiun Jangjeon sampai ke Home Plus Supermarket. sakuranya banyak, dan karena hari sebelumnya hujan dan berangin, banyak kelopak yang berguguran. cantik banget, mirip kayak di komik 😀

jogging track dibuat dengan sangat bagus dan rapi, serta dilengkapi fasilitas-fasilitas olahraga. sungai buatan pun dihiasi dengan batu-batuan buatan untuk memudahkan orang menyeberang. aahh, andai di deket rumah (Indonesia) kayak gini.

kemudian momen yang ditunggu-tunggu pun datang, saya resmi jadi orang busan 😀 akhirnya setelah satu bulan menunggu KTP Busan saya jadi, sehingga saya bisa buka tabungan buat terima gaji, punya asuransi (kalau asuransi cuma butuh daftar aja, kolektif) dan punya handphone dengan nomor lokal (Tidak seperti di Indonesia dan Taiwan yang nomer hapenya pake SIM card, disini nomernya di-inject dan terdaftar resmi, dan sayang banget karena hape disini banyak yang ga bisa dipake di tanah air 😦 ).

hihi, overall setelah hampir 2 bulan disini, saya cukup senang (atau dibikin senang aja) dan saya berharap studi saya pun berakhir dengan menyenangkan, aamiin.

sementara ini dulu reportasenya ya (buat yang nunggu-nunggu), semoga cukup bikin senyum-senyum buat dibaca. 😀

ayo, sapa mo main kesini??? *lambai-lambaiin tangkai sakura biar pada mupeng semua

salam-senyum-walo-midterm-dapet-jelek 😛

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s