Tentang Jengs

Sore-sore, bosen di lab dan otak tidak bisa diajak kompromi. Tiba-tiba (nggak juga sebenernya) saya teringat adik-adik saya. Yap, Ijeng dan Ajeng (seperti yang pernah saya sebutkan di postingan sebelumnya bagaimana sejarah panggilan unik yang nggak ada hubungannya dengan nama mereka) dan mereka berdua adalah adik-adik yang paling cocok buat saya. Mereka manusia biasa yang tidak sempurna, sebagaimana saya juga, sekukuh apapun mereka bersikeras hal yang sebaliknya. Ah, betapa saya juga tidak bosan-bosannya mengingatkan mereka bahwa saya juga sedikit banyak sama “dodol”nya bila dibandingkan dengan kelebihan mereka.

Eh, penasaran kah? Apakah bila saya terus menerus menyebut “kangen” atau “rindu” atau seringkali mengatakan betapa saya mencintai mereka, tidak pernah sekalipun kami bertengkar? Tidak pernahkah kami ribut? Tidak pernahkah kami adu mulut sampai adu otot? Pernah, sangat pernah. Semuanya pernah kami lalui. Lucu sekali mengingatnya. Bahwa tadinya kami suka sekali saling pukul atau gigit bila marah, dan menangis keras bila yang paling lemah kalah. Atau betapa kami suka sekali saling ejek dengan berteriak-teriak, saling mengolok “Kamu jelek!” sampai-sampai membuat Mama murka dan menghukum kami. Bagaimana kami suka sekali saling tipu soal makanan, baju, boneka dan apapun supaya yang menipu mendapatkan barang yang paling baik. Sudah pernah kami lalui semua. Bagaimana kami adu argument ketika sudah beranjak remaja dan membuat kami bermusuhan selama seminggu, sebulan atau sampai salah satu ada yang (seringnya terpaksa) mengalah.

Namun, seperti halnya saya menceritakan Mama dan Papa, saya juga ingin bercerita tentang mereka dari sisi yang saya sukai. Karena saya suka mengingat mereka dengan cara yang demikian. Dan agar mereka percaya, bahwa mereka adalah adik-adik terbaik yang saya miliki dan tidak akan tergantikan walau kami bertemu “mbak” dan “adik” baru diluar sana.

Ijeng adalah adik yang posisinya persis dibawah saya. Benar, dia anak kedua. Selisih umur kami adalah 3 tahun. cukup dekat buat saya yang sedari kecil memiliki sifat “bossy” untuk banyak-banyak memanfaatkan adik saya :D. percaya tidak percaya, saya masih ingat sekali tahun-tahun pertama kelahiran adik saya. Ya, saya memang terlalu sensitive, hingga kejadian-kejadian bermakna, demikian mudah membekas, sejak saya berumur balita. Bila diurut-urut, hal pertama yang saya ingat tentang Ijeng, adalah hari kelahirannya. Mungkin saya terlalu kecil untuk mengingat tanggal. Namun, saya ingat hari dimana saya diajak Papa untuk ke rumah sakit dan menengok adik baru saya. Lalu, saya juga ingat betapa nakalnya saya, ketika Ijeng masih bayi, saya menindih dia karena gemas dengan pipi tembemnya. Waktu kecil dia lucu sekali seperti boneka, matanya sipit, rambutnya halus dan wajahnya bulat. Lucu sekali. Semakin besar, saya semakin suka menggodanya, karena saya tidak punya teman bermain. Saya suka sekali membangunkannya saat dia tidur siang hingga dia menangis. Semakin besar dia semakin suka ikut dengan saya kemana-mana, bahkan ketika saya belajar bersepeda, dia dengan “setia” menemani saya dan berlari di belakang 😀 lucu bukan? Beranjak besar, saya semakin sering bertengkar dengan dia. Beradu mulut, beradu jotos, beradu kaki, apa saja yang bisa kami adu, ya kami adu. Dan saat kami mulai masuk sekolah, saya otomatis mempunyai teman-teman baru dan tidak mempedulikan keberadaan adik-adik saya, termasuk Ijeng. Hingga saat dia beranjak remaja, dan ketika umurnya belasan tahun dimana normalnya dia memiliki banyak teman, dia tidak memilikinya. Dia menjadi sangat introvert, penakut, penyangkal dan yang mengejutkan saya, ternyata di sekolah dia menjadi bahan ejekan. Bahan ejekan macam apa? Kalian pernah punya teman sekelas yang selalu menjadi kambing hitam untuk dijodoh-jodohkan dengan teman laki-laki yang lain saking jeleknya dia? Ngaku! Pasti punya, ya, begitulah Ijeng waktu itu. Saya begitu sedih menyadari kenyataan bahwa adik saya tidak diterima di kalangan teman-temannya. Dan hal itu membuatnya sangat malas ke sekolah. Sangat malas, hingga rapornya merah semua. Dan saya ingat momen dimana saya menasehati dia dengan mengatakan bahwa dia sangat bisa untuk menjadi lebih baik. Dia bisa jadi jauh lebih cantik dari teman-temannya bila mau berusaha. Dan yang penting, dia sangat bisa untuk jadi lebih pintar dan lebih berhasil dari teman-temannya. Alhamdulillah, dengan sedikit persuasi dan banyak sekali make over, adik saya berubah menjadi seorang putri yang cantik. Sangat cantik. Bahkan jauh lebih cantik ketimbang saya :D.

Dan sekarang, kami seperti teman. Suka saling curhat tentang apa saja. Terutama bila berjauhan. Saya masih ingat banyaknya pulsa yang saya habiskan buat menelpon, bercerita dan bercanda. Dan saya masih ingat, saat-saat dimana dia mendengarkan saya menangis dan memberikan banyak dukungan. Dan sekarang, dari jauh, saya berharap, kelak dia akan menemukan laki-laki yang baik, yang tidak hanya menilai dan melihat dia dari kecantikan atau dari pekerjaan yang dia punya, tapi lebih karena pribadinya yang unik dan hatinya yang terlalu halus. Mudah-mudahan jodohnya Ijeng nggak tertunda karena Mbak Ludi ya 🙂

Kemudian ada Ajeng, si bungsu yang dulu terkenal sangat cengeng. Tomboy tetapi cengeng. Si kecil yang satu ini, selisih 9 tahun dengan saya. Bahkan saat Mama saya hamil Ajeng, saya baru sadar ketika kandungan menginjak angka 7 bulan. Tadinya saya mengira Mama hanya tambah gemuk. Tapi ternyata sedang hamil 😀 dulu, ketika Mama sudah hamil tua, saya dan Mama pernah mengira bahwa isi perut Mama ini anak kembar. Kenapa? Ketika itu USG masih barang mewah, jadi kebanyakan meraba-raba sendiri, berapa kepala yang ada didalam perut untuk memprediksi apakah anaknya satu atau lebih. Dengan metode seperti itu, dihitung berkali-kali pun, saya dan Mama tetap menemukan bahwa yang didalam perut itu ada dua kepala. Ketika dicek di bidan, saya dan Mama sama-sama tertawa ketika menemukan, bahwa yang kami raba salah satunya adalah pantat. Si bungsu ini ketika lahir cantik sekali. Kulitnya sawo matang dan mengkilat, dan rambutnya lurus, matanya bulat besar dan alisnya tajam. Dan karena dirawat dengan baik oleh Mama sedari kecil, rambutnya pun lebat dan berwarna hitam kelam, persis seperti iklan shampoo. Sepanjang masa kecilnya, saya tidak terlalu sering menemaninya bermain, karena ada Ijeng yang ketularan “bossy” dan memperbudak Ajeng (masa kecil kami seperti kompeni semua, suka menjajah). Dan saking cantiknya, saya masih ingat dulu suka sekali menghabiskan berrol-rol film untuk memotret wajah lucunya itu. Bahkan dulu saya sempat berharap adik saya bisa menjadi model di suatu majalah (padahal anaknya masih kecil). Umurnya sekarang 17 tahun, tapi percayalah, dia jauh lebih dewasa dari kami semua. Ya, dia memang suka meledak-ledak dan kadang tingkah dan emosinya kurang control, namun, dia jauh lebih dewasa dalam menerima semua kejadian yang terjadi di tengah-tengah keluarga kami. Setelah saya ingat-ingat, saya hampir tidak pernah melihat dia menangis didepan saya. Sesekali dia memang menangis, seringnya tanpa suara, tapi setelah itu selesai. Bersih, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dan hal ini membuat saya jadi merasa bersalah. Apakah ekspresi keras itu karena saya tidak pernah mendampingi di sisinya?

Bila melihat Ajeng, saya seperti melihat sosok saya sendiri dalam versi yang lebih muda (juga lebih gemuk dan lebih hitam 😀 ). Dia irit bicara bila dirumah, namun banyak mengoceh dan sangat konyol dengan teman-temannya, sama seperti saya. Entah karena saya sering sekali memutar musik kesukaan saya, tapi pada akhirnya genre musiknya sama seperti saya. Dia itu pemimpin yang alami, tidak sulit baginya mencari teman karena kemampuan persuasifnya sangat bagus, mirip dan bahkan lebih baik dari saya (dia punya koloni ketika masih SD, anak-anak tetangga, dan mereka semua selalu mengekor Ajeng kemanapun Ajeng pergi). Dan yang jelas, kami berdua suka mengikuti perkembangan teknologi dan suka sekali melihat kemajuan-kemajuan didunia luar. Sama-sama suka berlama-lama membaca komik (Ijeng juga, jadi, kami bertiga bisa seharian di kamar hanya untuk membaca komik). Dia anak yang cerdas, dan dengan sedikit usaha, dia bisa memiliki nilai-nilai rapor yang mencengangkan. Ditambah fisik dan mentalnya yang jauh diatas saya, membuat saya penasaran dan banyak berangan-angan, jadi orang seperti apa Ajeng nantinya. Tidak, saya tidak akan membebani Ajeng dengan mengharapkan dia menjadi orang yang saya mau. Biar Ajeng yang memilih dan bertanggung jawab atas hidupnya, karena Ajeng punya hak untuk itu.

Lima tahun belakangan, banyak sekali yang berubah dalam diri kami bertiga, tidak terkecuali Ajeng. Dulu ketika saya berangkat ke Taiwan, saya sedikit mengkhawatirkan Ajeng. Karena dia susah makan dan tidak tahu caranya mengurus rumah. Dan hal-hal kecil macam itu sanggup membuat saya stress berat selama menyelesaikan studi disana. Saya khawatir,apakah Ajeng akan sehat? Apa dia bisa menyelesaikan urusan-urusan di sekolah maupun dirumah? Apa dia akan kesepian? Alhamdulillah, saat saya pulang saya menemukan bahwa Ajeng sudah sangat mandiri, dan ketika harus di rumah sendirian karena Papa ke luar kota, dia dengan berani menjaga rumah sendirian. Malah, ketika saya pulang, saya merasa lucu karena pernah terlalu khawatir dengan keadaannya. Saking mandirinya, saya sudah tidak dibutuhkan lagi. Sungguh bangga rasanya.

Demikian bangganya saya terhadap mereka, karena apa yang diwanti-wanti Mama dahulu kami jaga agar tidak sia-sia. Sungguh sulit menjaga janji terakhir kami pada Mama, namun bukan tidak mungkin, janji tersebut akan tuntas dengan sempurna. Walaupun kami mempunyai “mbak” dan “adik” yang baru, namun buat saya mereka adalah adik-adik yang terbaik buat saya. Karena mereka tidak pernah menunggu belas kasihan dari saya, sayalah yang terbiasa memanjakan mereka. Mereka jarang sekali mengeluh pada saya, karena mereka tahu, satu kata “tolong” dari mereka, maka saya bisa langsung terbang pulang. Mereka bahkan jarang sekali menghubungi saya, setekun apapun saya menunggu, karena mereka tahu, saya pasti galau merindukan mereka usai mengobrol. Sejahat apapun dan sekeras apapun kata-kata saya pada mereka, mereka selalu memaafkan, karena mereka sungguh paham, betapa saya hanyalah manusia biasa. Dan semangat kami untuk saling “melompati” pencapaian masing-masing masih luar biasa tinggi, karena kami memang terbiasa untuk bersaing dan sekarang saatnya kami untuk mencari “lahan” yang berbeda-beda dan saling menyemangati.

Dan sekarang, melihat kami bertiga, dari tempat saya berada membuat saya rindu sekali dengan mereka, Papa dan terutama Mama.

Belum, kami masih jauh sekali dari berhasil. Masih sangat banyak yang bisa kami lakukan, dan masih sangat panjang daftar keinginan yang menunggu untuk kami centang satu demi satu.  Dan berada di tempat yang berjauhan dengan mereka membuat saya belajar memperlakukan mereka seperti orang dewasa, sejajar dengan saya, bukan adik kecil yang harus saya lindungi setiap saat.

Jadi Jengs,

Walaupun Mbak Ludi, Ijeng dan Ajeng nggak bisa bareng-bareng terus saat sedih dan senang, yang penting kita terus saling membantu dan mendoakan agar jadi lebih baik. Hidup kita sudah enak selama ini, jangan manja yuk, terus kerja keras biar bisa kayak Papa dan Mama. Terus berusaha membantu sesama, agar di dunia bisa jadi orang yang bermanfaat. Terus berusaha jadi anak-anak yang sholehah biar kita semua bisa bareng-bareng masuk surga. Aamiin.

Salam kangen-ngakak-bareng-liat-spongebob

-Mbakmu-

Advertisements

6 thoughts on “Tentang Jengs

  1. nice story…mirip ceritaq dan adik kecilq dulu,cuman adikq cowok..bahkan aq malah pernah lo mbk menggigit telinganya karna saking gemesnya…wah,,,seru deh…!!! semoga tetap kompak sampai nanti pada berkeluarga ya mbk ludi..dan sama2 sukses..!!! fighting…salam buat tiga dara manis gresik..xixixixi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s