Pengen Bayar Zakat Mal ~^^~

Saya ingin sekali bisa bayar zakat mal. Karena itu, setiap kali saya (merasa) dapat penghasilan, saya sisihkan 2,5% dari uang yang saya peroleh untuk dibayarkan zakatnya. Alhamdulillah, saya belum merasa keberatan akan hal itu, malah saya senang sekali. Namun saya berfikiran, bila jumlah zakat yang saya bayarkan tidak besar (tidak bisa memenuhi kebutuhan si penerima zakat karena jumlahnya minim sekali) dikarenakan penghasilan yang saya peroleh juga tidak besar, apakah akan membantu? Padahal niat baik nggak boleh ditunda-tunda kan ya?

Berbekal keingin tahuan saya tentang tata cara pembayaran zakat mal ini sambil me-refresh ilmu yang pernah saya terima jaman SD dulu, akhirnya saya berselancar di dunia maya (saya memilih yufid.com daripada plain google.com) demi menemukan info yang tepat untuk menindak lanjuti keinginan saya dalam membayar zakat. Ternyata banyak sekali ulasan-ulasan mengenai kasus yang saya alami dan akhirnya “ngeh” kalau kasus sedemikian akrab disebut dengan zakat profesi. Dari yang saya baca, zakat profesi itu sifatnya baru karena di jaman sekarang ada banyak profesi yang menerima penghasilan rutin setiap bulan. Bila pertanian saja ada zakatnya, masa profesi yang bergengsi (dokter, PNS, pengacara) nggak ada zakatnya?

Dari apa yang saya baca, zakat-zakat tersebut di-qiyas-kan dengan zakat pertanian, dimana untuk zakat pertanian, zakatnya dikeluarkan setiap kali panen dan besarnya adalah 5% (bila pengairannya membutuhkan biaya) dan 10% (bila pengairannya tidak membutuhkan biaya). Sedangkan zakat profesi dikeluarkan sebesar 2,5% mengikuti zakat emas atau perak. Wah, kok nggak sama?

Bila ditilik lebih lanjut, memang agak aneh karena musim panen itu biasanya minimal 2-3 bulan sekali dan hasilnya kurang lebih 650 kg baru dikenai zakat. Bila menggunakan teknologi seperti di negara maju, mungkin bisa juga sebulan sekali atau kurang dari itu. Periodenya nggak se-rutin gaji bulanan kan akhirnya? Dan bila memang ingin disamakan dengan zakat pertanian, mengapa tidak mengambil sebesar 5% atau 10% dari jumlah penghasilan yang didapat tetapi malah 2,5% saja, justru menyaingi emas atau perak yang sudah disimpan selama setahun?

Perselancaran saya demi mendapatkan informasi yang tepat pun berlanjut, dan saya akhirnya menemukan bahwa, bila ingin menunaikan zakat mal dari apa yang kita dapat maka syaratnya ada dua. Satu, mencapai nishob (jumlah wajib dibayarkan zakat) dan mencapai haul (satu tahun). Pelajaran jaman SD yang sepele tapi berguna nih :).

Jadi kalau belum setahun nggak wajib zakat kah ya? Benar, karena syarat sahnya ada dua, bukan salah satu dari itu. Islam tidak ingin menyulitkan umatnya dengan mewajibkan zakat mal bila belum mencapai satu tahun (kecuali harta temuan dan hasil panen), karena bisa jadi uang yang ada dipakai untuk kebutuhan mendadak atau habis dalam waktu singkat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karenanya, bila harta tersebut memang sudah mencapai nishob (baik nishob emas atau perak) dan tidak berkurang selama setahun, baru dibayarkan zakatnya.

Kembali ke zakat profesi, saya pribadi kurang setuju dengan istilah tersebut karena setelah banyak membaca istilah tersebut terdengar rancu dan menyimpang dari ketetapan yang sudah ada. Tapi bagaimana pun juga, walau penghasilan saya hanya dari beasiswa saya tetap ingin ber-zakat. Niat baik kan harus di-segerakan? Tentu saja, tapi lebih baik memenuhi syari’at yang ada supaya amal kita tidak sia-sia. Setuju? Kan kalau tidak ada ilmu-nya tidak bisa beramal. Ilmu-nya sudah ada, tinggal manusianya nih yang menjalankan.

Dari sumber-sumber yang saya sebutkan dibawah, saya menemukan, bahwa bila tetap ingin berzakat ada dua cara untuk menghitung nishob dan se-haulnya. Silahkan mengunjungi link berikut ini http://rumaysho.com/hukum-islam/zakat/3412-perhitungan-zakat-penghasilan.html dan link ini, adalah petunjuk untuk menghitung zakat mal, dan untuk lebih memahami nishab harta benda kita http://pengusahamuslim.com/serbaserbi-zakat-mal

Nah, dari link tersebut, bila kita tetap ingin membayar zakat dari penghasilan kita, cara yang paling mudah memang (berusaha) menyisihkannya setiap bulan dan apabila nishab sudah tercapai (kadang-kadang sampai setahun jumlahnya belum setara dengan 85 gr emas, tapi jangan khawatir, dikumpulkan saja sampai nishobnya cukup) serta sudah se-haul, maka bisa kita keluarkan zakatnya dan dihitung sebagai zakat mal.

Namun, bila tetap ingin menyisihkan sebagian harta kita setiap bulan (atau setiap minggu, atau malah setiap hari) bisa juga kok, masih ada shadaqoh dan infaq yang siap menampung.

Dulu-dulu masih sering salah sih dalam menyikapi zakat mal. Saking semangatnya 😛 sampai-sampai nggak memperhatikan detail ilmunya, nyasar deh. Sekarang saya sudah (cukup) paham ilmunya, dan mudah-mudahan ke-alpa-an saya kemarin dimaafkan oleh Allah Subhannahu wa ta’aala, aamiin. Yuk ah, nabung terus untuk tabungan akhirat, jangan kecil hati ya Lud, kalau penghasilannya sekarang masih kecil, bila berniat insya Allah bisa berzakat kok.

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

“ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-taip bulir seratus biji. Allah meliput gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah : 261]

Sumber:

http://abiubaidah.com/kontemporer-zakat-profes.html/

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat-mal.html

http://nahimunkar.com/7989/adakah-zakat-profesi/

Advertisements

5 thoughts on “Pengen Bayar Zakat Mal ~^^~

  1. seandainya harta kita sdh kitae keluarkan 2.5 persen untuk infaq apakah masih wajib kita keluarkan zakat malnya..mhn pencerahannya

    • Assalamualaikum warrahmatullah wabarakaatuh,
      terima kasih sudah berkunjung kemari. semoga penjelasan dari saya bisa membantu.

      Adapun hadist dari HR Bukhari mengatakan “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat” atau bahasa kerennya “Innamal A’malu bin niyat”.
      Jadi apabila kita sudah berniat untuk membayar infaq 2,5% maka seharusnya amalan tersebut (membayar infaq) bukanlah membayar zakat mal (zakat harta benda). sehingga disini se-pemahaman saya orang tersebut masih harus membayar zakat.

      sebagai tambahan, perbedaan antara infaq dan zakat itu terletak pada kadar dan waktu. kalau utk zakat jelas kadar dan waktunya. misal zakat fitrah, dibayarkan saat bulan ramadhan dan besarnya 2,5kg atau 3,5 liter makanan pokok. sedangkan zakat mal, harta yang dikenai zakat harus sampai nishab-nya (misal utk emas 85gr atau utk perak 595gr. utk uang tunai biasanya di-qiyaskan dengan emas atau perak dengan mengacu pada harga terbaru dari emas/perak) dan harus sudah dimiliki selama setahun. tentu saja, setelah dikurangi dengan kebutuhan wajib dan hutang.
      sedangkan infaq tidak ada kadar dan waktu tertentu. artinya jumlahnya bisa berapa saja dan waktunya bisa kapan saja.

      Semoga bisa membantu.

  2. Assalamualaikum….mau tanya untuk membayar zakat profesi atau zakat mal dibayarkan kemana yang lebih baik? yang terdekat dulu seperti tetangga atau yang jauh tp dilanda kesusahan misalnya spt korban Suriah…?

    • Wa’alaikumsalam warrahmatullah wabarakaatuh.

      Bismillahirrohmanirrohim,
      Golongan penerima zakat itu ada 8:
      1. Fakir*
      2. Miskin*
      3. Amil zakat*
      4. muallafatu qulubuhum* (orang yg ingin dilembutkan hatinya agar condong pada agama islam) >> bisa muslim/non muslim
      5. pembebasan budak*
      6. orang yang terlilit hutang*
      7. berjuang di jalan Allah*
      8. ibnu sabil* (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan)

      *syarat dan ketentuan berlaku (silahkan ditelusuri via google atau buku)

      Sebenarnya yang kita tidak boleh lupa adalah 8 golongan tadi dalam ber-zakat mal, dan perlu dicermati “syarat dan ketentuan”-nya. perihal apakah sebaiknya tetangga dulu atau korban2 suriah dulu, dikembalikan pada urgensi dan posisi pada golongan tersebut tadi.
      contoh kasus:

      1. sebab kita memilih menyalurkan zakat mal pada tetangga terdekat
      >> tetangga tersebut dalam golongan fakir dan miskin, sampai2 tidak bisa memenuhi kebutuhannya. bahkan utk memenuhi kebutuhan pun harus berhutang kesana kemari. maka kita menyalurkan zakat mal tadi pada tetangga tersebut.

      Allah pun berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 36:
      “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian…”

      bila demikian keadaannya maka lebih diutamakan tetangga tersebut daripada korban suriah yg lokasinya jauh.

      2. sebab kita memilih menyalurkan zakat utk korban di suriah
      >> kita berada di tengah-tengah kota yg asing dan/atau tidak ada seorang pun yg kita kenal sedang berada dalam 8 macam golongan yg berhak menerima zakat mal tersebut.
      dengan demikian, bolehlah zakat mal tersebut kita salurkan utk korban di suriah (via lembaga amil zakat misalnya).

      kalo opini saya pribadi, bila ragu-ragu, sebaiknya disalurkan langsung ke lembaga amil zakat terdekat dan yg dipercaya. tentunya dg menginfo-kan kepada petugas bahwa ini adalah zakat mal (bukan infaq atau shodaqoh). saya biasanya seperti itu.

      Wallahua’lam bishowab
      semoga dapat membantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s