Living (un)shock culture

Walau sebenarnya saya nggak mau berbangga diri, tapi saya tetap merasa bersyukur karena berkesempatan tinggal di luar negeri. Dan mungkin sudah banyak yang tahu bahwa selain Indonesia, saya berkesempatan tinggal di Korea Selatan dan Taiwan, dan selain Gresik dan Surabaya, saya juga pernah tinggal di Taipei dan Busan. Dream comes true? Absolutely! Feel lucky? Definitely! Just Lucky? Entar dulu, haha. Saya memang beruntung sekali dapat kesempatan ini, tapi kerja kerasnya juga harus dihitung dong?!

Baiklah, kali ini saya nggak ngasih tips atau pandangan tentang bagaimana kuliah di luar negeri atau bagaimana cara dapat beasiswa. Tapi saya ingin menceritakan tentang bagaimana serunya kena perubahan atau persamaan budaya antara tempat yang saya tinggali dengan tanah air. Tanpa perlu berlama-lama, ini dia:

Jalan kaki dan bersepeda

Di Indonesia: saya paling malas disuruh jalan kaki. Disamping karena malas, juga karena tubuh saya nggak atletis (dulu terlalu kurus, sekarang terlalu gemuk) dan saya gampang sekali mengeluh (mengeluh bikin capek, benar? 😛 ). Yang kalau jalan bikin hitam lah, panas lah, sepatu nggak mendukung lah. Tapi pada kenyataannya sepanjang 20 sekian tahun hidup saya, budaya jalan kaki memang dianggap remeh sekali. Saya sering menemukan orang yang rumahnya 50 meter dari toko tetap pakai sepeda motor kalau beli garam. Begitu juga dengan bersepeda (sepeda ontel bukan sepeda motor). Terakhir saya senang-senangnya pakai sepeda ontel ya waktu SD, setelah mengerti kerennya pakai sepeda motor, sepeda ontel tersia-sia di garasi rumah.

Di Taiwan: jalan kaki di negara ini udah bukan barang baru. Bahkan rasanya jalan kaki jauh lebih cepat dan mudah ketimbang memakai kendaraan (untuk jarak 500-an meter). Orang-orang di sini jalannya cepat sekali. Waktu awal-awal datang saya selalu ngos-ngosan mengimbangi kecepatan jalan mereka. Padahal jalanannya relative datar. Namun, lama kelamaan terbiasa juga. Sedangkan sepeda ontel memang penting karena jarak ke masjid dari asrama cukup jauh dan dengan sepeda lumayan irit ongkos bus. Jadilah saya rajin bersepeda kesana (dan kemari) sampai kulit menggelap. Namun, sepeda kurang begitu efektif bila cuaca tidak bersahabat. Sehingga sepeda saya lambat sekali nambah kilometernya 😀 . Moda apapun yang dipilih di Taipei memang nyaman sekali fasilitasnya.

Di Korsel: jalan kaki itu seperti hobi disini. Mungkin karena kampus dan tempat tinggal saya terletak di lereng gunung Geumjong, sehingga hampir tiap pagi saya selalu melihat orang-orang tua berjalan kaki mendaki dan menuruni tempat ini. Elevasinya memang lumayan kalau disini, sehingga jalan kaki bisa dihitung sebagai olahraga efektif untuk menyehatkan jantung dan membakar lemak. Kalau disini, saya masih belum bisa mengimbangi kecepatan jalan orang-orang lokal. Saya berdalih karena tracknya yang curam :P. Akan tetapi track-track yang biasa dipakai untuk jalan, memang bagus, rapi walau kurang bersih. Sedangkan untuk sepeda ontel, Masya Allah, saya masih belum sanggup sodara-sodara. Sampai sekarang saya masih salut sama orang-orang yang bisa mengayuh sampai langit ke tujuh (sebutan untuk gedung di PNU yang letaknya tinggi sendiri). Mungkin suatu saat saya akan mencobanya. Mungkin.

Mobil dan Motor

Di Indonesia: dua kendaraan ini yang bertanggung jawab atas macetnya jalan-jalan protocol di kota-kota besar. Serius, saking banyaknya, semua mau menang sendiri dan tidak peduli dengan pengguna jalan selain mereka. Tadinya saya juga seperti itu sih, arogan dalam memakai jalan. Namun, semenjak pulang dari Taiwan, saya lebih menghargai dan belajar untuk lebih santun dan disiplin.

Di Taiwan: mobil sedikit, motor banyak. Dan beberapa kali saya menemukan motor yang melaju di trotoar. Sekali dua saya hampir diserempet oleh motor. Dan beberapa kali dimarahi polisi. Banyak sekali polantas (beda sama polisi ya) yang tugas di jalan raya. Dan mereka sangat disiplin dan tidak segan menegur walau orang asing (dan tetap keukeuh marah pakai bahasa mandarin :D). Jadi kalau mau ke Taipei, yang disiplin ya temans.

Di Korsel: motor sedikit, mobil banyak. Ditambah orang-orang suka menyeberang seenaknya. Saya nggak paham, apakah ini karena di pinggiran kota Busan, atau memang karakter berlalu lintas orang Korea yang memang seperti itu. Seandainya pakai spion pas jalan kaki nggak malu-maluin, saya pasang spion di pundak saya, biar nggak capek noleh ke belakang nge-waspadain mobil atau motor yang mau lewat. Dan taksi disini, ngalah-ngalahin supir taksi di Indonesia kalau menyetir. Saya pusing karena ngeri tiap kali naik. Allhamdulillah, disini orang-orang yang punya mobil pribadi perilakunya lebih terhormat daripada di Indonesia. Kalau didepannya ada mobil yang pas-pasan, pasti yang lebih gampang mundur akan mundur. Kalau ada orang jalan didepannya, pasti ditunggu sampai minggir, nggak pake nglakson. Kalau ada yang udah terlanjur nyeberang, berhenti dulu. Sopan pokoknya, nggak kayak baru pegang mobil terus merasa yang punya jalan.

Sampah dan Kebersihan lingkungan

Di Indonesia: no comment. Lihat sendiri lingkungan rumah anda ya?!

Di Taiwan: tempat ini disiplin banget soal sampah. Dibagi menjadi beberapa macam, mulai sampah tissue, sampah makanan, plastik, kaca, kaleng, styrofoam, dan sampah kertas. Itu yang saya dapat di asrama. Dan bagaimana jika orang Indonesia dihadapkan pada pembagian sampah macam itu? Banyak yang bingung, dan nggak sedikit yang suka ngelanggar. Tapi, lama-lama banyak juga yang mulai paham dan jadi lebih disiplin. Karena, suka tidak suka, kami membawa nama negara di sana. Fasilitas umum juga bersih walaupun tempat sampah nggak sebanyak di Indonesia. Toilet umum di MRT station juga banyak yang bersih. Dan saya takjub saat datang ke Taipei Flora Expo, karena kamar mandinya sangat bersih, nyaman dan tissue yang dipakai bisa (dan disarankan untuk) di-flush di dalam WC. Super deh.

Di Korsel: sama saja seperti di Taiwan, buang sampah harus dipilah-pilah. Kalau di rumah sih karena memang dasarnya rumah, jadi kalau sampah nggak dipilah-pilah, kami bisa ditegur atau lebih buruk lagi nggak diambil sampahnya. Kalau di kampus, karena mahasiswa-mahasiswa masih suka seenaknya, kadang sampah-sampahnya masih “tidak sengaja” salah masuk. Untungnya ada ahjumma cleaning service yang sabar memilah-milah sampah. Untuk kebersihan lingkungan sih, karena saya tahunya hanya airport dan pinggiran kota Busan, jadi saya masih belum tahu, apakah seluruh korsel itu bersih seperti Taipei atau nggak. Yang jelas kalau disini masih sering kelihatan botol bir pecah nggak dibersihkan, atau bungkus makanan beterbangan. Tapi mereka memiliki sukarelawan yang terdiri dari kakek-nenek pecinta kebersihan yang mungutin sampah tiap hari. Biasanya antara jam 6-9 pagi. Dan itu cukup membantu menjaga kebersihan di lingkungan sini (antara rumah saya sampai kampus :D)

Makanan dan Buah-buahan

Di Indonesia: buat saya makanan Indonesia adalah yang terbaik, karena mudah mendapatkan yang halal dan rasanya sangat kaya. Walaupun higienisnya agak kurang diperhatikan. Sayangnya di Indonesia sadar gizinya kurang, dan beberapa makanan malah dicampur dengan bahan kimia berbahaya. Agak nggak paham tujuannya sih, mengapa tega mencari untung diatas penderitaan saudara sendiri. Kalau buah-buahan di Indonesia murah sekali, dan kebanyakan buah tidak bergantung pada musim. Jadi kebutuhan vitamin orang Indonesia harusnya lebih tercukupi walau tidak mengkonsumsi multivitamin dan sebagainya.

Di Taiwan: buah-buahannya enak, manisnya pas, dan rasanya saya nggak bisa berhenti makan buah disana. Harganya pun relative murah, utamanya buah-buahan yang termasuk kategori “impor” di Indonesia. Seperti Kiwi, plum, dan (lebih-lebih) strawberry. Dimana-mana banyak yang menjual manisan buah dan harganya juga tidak mahal. Untuk masakan, terus terang, saya lebih memuji masakan Indonesia. Tidak semua masakan rasanya hambar, ada juga yang enak dan patut dicoba, jadi kalau ingin kesana worthy kok kulinernya 😀

Di Korsel: buah-buahannya manis walaupun ragamnya tidak sebanyak di Indonesia atau Taiwan. Dan bila sedang musim, buah-buahan yang biasanya mahal, harganya bisa miring sekali (dan dijual dalam dus-dus). Alhamdulillah, walau ragamnya nggak banyak kebutuhan vitamin saya tercukupi. Untuk masakan, sekali lagi saya harus memuji Indonesia, subyektif sebenarnya, tapi karena saya memang besar dengan masakan yang kaya rasa, jadi buat saya, masakan disini nggak ada apa-apanya. Haha 😀 .

Tempat tinggal

Di Indonesia: sudah hal yang lumrah bila masing-masing keluarga memiliki lahan dan bangunan sebagai tempat tinggal mereka sendiri. Yang “berduit” malah lebih memilih tinggal di apartemen daripada di rumah tinggal. Mungkin kalau di Jakarta, memiliki rumah adalah hal yang mewah, namun tidak di kota lain seperti Surabaya atau bahkan Bandung. Apalagi kota kecil seperti Gresik, perumahan habis dilahap para pendatang seperti krupuk saja. Intinya, semua orang (kalau mau usaha) bisa punya rumah sendiri.

Di Taiwan: rumah itu barang yang super mewah. Hanya orang kaya yang punya rumah sendiri. Beberapa teman saya memilih share apartement dengan orang-orang tidak dikenal agar kebagian tempat tinggal. Dan untuk menekan biaya, biasanya dipilih apartement yang jauh dari tengah kota. Yang memiliki keluarga sendiri biasanya mengambil apartement yang satu ruangan bisa dipakai sendiri. Yang jelas, kalau mau murah dan aman, buat mahasiswa (single) ya asrama-lah solusinya 😛

Di Korsel: sama seperti di Taiwan, rumah adalah barang yang mewah. Pernah lihat drama-drama korea kan? Yap, hanya orang-orang tertentu yang punya rumah sendiri. Sisanya juga “one room” atau satu ruangan kamar untuk tempat tinggal. Dan sampai sekarang saya masih belum menemukan orang yang sharing apartement. Lucunya, disini, ada juga rumah yang oleh pemiliknya dibagi menjadi beberapa ruangan. Seperti rumah yang saya tinggali. Rumah tersebut dibagi menjadi 4 bagian dan sang pemilik mengambil salah satunya. Entah dengan bagian rumah si pemilik, namun satu bagian rumah biasanya terdiri dari dua kamar, satu kamar mandi dan dapur. Lebih luas daripada one room. Tapi tagihan listrik, gas dan air oleh pemilik di sendirikan dan tentu saja sampah rumah tangga dikelola sendiri. Satu pagar tapi beda rumah. Lebih layak untuk keluarga besar seperti saya dan teman-teman satu kontrakan (isinya hanya 4 orang padahal). Dan oh ya, asrama harganya mahal, makanya saya lebih memilih mengontrak bareng teman-teman daripada asrama.

Itulah penjelasan sederhana saya tentang tinggal di tempat baru. Seru kan?! Susah dan senang, kalau dibawa seru pasti jadi menarik untuk diceritakan.

Salam-ngidam-hanbok (nggak nyambung)

-Ludi-

Advertisements

2 thoughts on “Living (un)shock culture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s