Let’s Assess it

Assalamualaikum warrahmatullah wabarakaatuh.

Halo semuanya, hari ini saya ingin memamerkan pekerjaan rumah saya yang super gampang dan ingin membagi, pelajaran apa yang saya temukan dengan mengerjakan pekerjaan rumah ini. Adapun pekerjaan rumah ini dalam bahasa inggris, dan saya menyadari bahasa inggris saya lumayan parah. Jadi, mohon pengertiannya kalau kacau 😀

Value-added Assessment

Subject is a 17 years old high school student which has activities to be assessed such as: (1) Taking courses in study club 3 times a week, (2) Watching Korean-Pop music video every night, (3) Practicing dance in dance club twice a week. The goal of assessment is to evaluate which activity has important role on gaining score in mid-term exam. Method to evaluate the activity is by interviewed the subject and compare current semester mid-term exam score with last-semester mid-term exam score.

Conclusion:

  1. Taking courses is value added activity because it is necessary activity as a high school student and also it is have a contribution to the subject, so the mid-term exam score is higher than before.
  2.  Watching Korean-Pop music video is non-value added activity because it is not a necessary activity as a high school student, and also it has no contribution to gain mid-term exam score.
  3.  Practicing dance in dance club is not value-added activity. Even it is necessary to increase health and social life, but it has no contribution to gain mid-term exam score.

Suggestion:

To gain more score in mid-term exam, subject need to focus on value-added activity and start reducing non-value added activity.

Hihi, lucu nggak?

Mungkin karena saya sudah belajar sampai tahap doctoral, mungkin juga karena saya sudah lumayan jungkir balik selama 20 sekian tahun hidup saya, mungkin juga karena saya akhirnya menyadari betapa banyak hal yang nggak berguna yang pernah saya lakukan sehingga saya merasa benda ini berguna dan (seharusnya) bisa diaplikasikan secara langsung dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam gambar diatas, ada tiga macam aktifitas yang saya nilai. Dan bila dibandingkan dengan tujuan akhir yang dicapai, maka dari ketiga aktifitas tersebut hanya terdapat satu aktifitas saja yang layak disebut sebagai aktifitas penambah nilai. Apa maksud dari aktifitas penambah nilai sebenarnya? (maaf ya, karena penjelasannya akan sedikit membosankan), aktifitas penambah nilai adalah, aktifitas yang secara langsung memberikan kontribusi positif terhadap tujuan akhir yang hendak dicapai. Dan dari ketiga aktifitas yang saya sajikan diatas, hanya “Taking course” saja yang layak, karena langsung berperan pada tujuan akhirnya, yaitu “Gain mid-term score”.

Coba kita pikirkan sama-sama. Apapun profesi kita, apakah sebagai pelajar, pengajar, atau profesi-profesi lain, pasti banyak sekali aktifitas yang terlibat. Tapi nggak jarang kita terlena kan? Misalkan saya, tujuan awal saya pergi ke luar negeri adalah untuk mencari ilmu. Belajar. Namun ketika sudah sampai saya justru asyik bersenang-senang melanglang buana keliling negara tersebut, sampai akhirnya lupa dengan tujuan awal saya. Bila dinilai dengan menggunakan metode diatas, mayoritas kegiatan saya tidak ada yang menjadi penambah nilai bagi tujuan akhir saya. Saat itu saya beralasan, kapan lagi ke luar negeri? Kalau belajar terus, stress dong? Buktinya, kalau waktunya habis dipakai jalan-jalan, stress juga mengatur waktu untuk membayar hutang belajarnya. Sama juga bohong dong?

Tapi apa harus, sebagai seorang manusia kita nggak punya acara senang-senang? Saya nggak bilang senang-senang itu haram ya (ekstrim sedikit :P). Saya sendiri juga manusia yang mengedepankan kesenangan. Sudah fitrahnya manusia ingin bahagia dan bersenang-senang. Itu juga bentuk rasa syukur atas rizki yang didapat. Perlu juga jalan-jalan ke tempat-tempat yang seru dan membuat badan serta pikiran fresh, supaya kerja atau belajar juga jadi enak.

Lantas?

Porsi dan prioritas. Itu kuncinya. Nggak perlu dijelaskan ya, kenapa prioritas itu seharusnya memiliki porsi lebih banyak. Mari kita pikirkan bersama-sama lagi. Bila kita memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan sementara kita pergi bersenang-senang, bagaimana rasanya? Nggak sreg kan? (maaf, saya nggak bertanya pada yang biasa korupsi ya 🙂 ). Nah karena itulah, prioritas itu penting. Senang-senang boleh sekali, dan dianjurkan bagi orang-orang yang menderita stress berat atau depresi. Tapi jangan sampai senang-senangnya mengganggu. Setuju?

Kemudian, bagaimana kalau ternyata kita mengambil banyak tanggung jawab dalam satu waktu?

Gampang, kembalikan saja ke tujuan akhir. Kemudian urutkan berdasarkan prioritas dan susun jadwal untuk waktu pengerjaannya. Kalau sudah selesai semua, baru bisa senang-senang. Mudah bukan?

Saya juga melalui banyak sekali non value-added activity sepanjang hidup saya. Apakah saya menyesal? Tidak terlalu, karena dengan begitu saya jadi paham bagaimana cara me-manage dan me-maintenance hidup saya dengan sebaik-baiknya. Bila belum bisa produktif dan berguna (sekali) bagi banyak orang, paling tidak, nggak menyusahkan orang lain.

Baiklah, sekali lagi, mudah-mudahan ini nggak hanya menjadi “omong gondrong” semata dan benar-benar bisa saya aplikasikan. Panjenengan-panjenengan semua mau mencoba? Monggo..

salam 8-mei (Hari Palang merah sedunia dan Parents Day)

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s