Pernikahan dan Cinta – dari kajian oleh Ustadzah Yasmin Mogahed

Assalamualaikum warrahmatullah wabarakaatuh,

Salah satu hal yang paling saya sukai dengan kuliah di luar negeri adalah bisa streaming video tanpa buffer yang membuat ngantuk. Dan ini yang barusan saya lakukan. Berawal dari hilangnya mood saya pagi ini untuk melakukan apapun bahkan untuk sekedar ngobrol, membuat saya berselancar ke Youtube dan menemukan video berikut ini.

3 menit pertama saya menyaksikannya, saya seperti merasa disinari barokah oleh Allah SWT (agak lebay dikit deh ya). Karena disaat saya ingin mengistirahatkan pikiran yang jenuh, bukan film komedi atau lagu-lagu yang menyegarkan, tapi justru kuliah singkat dari Ustadzah cantik inilah yang seolah membasuh saya dari segala macam ke-sumpek-an.

Mendengarkan segalanya dari sudut pandang islam dan dijelaskan dengan begitu masuk akal membuat saya ingin membaginya disini agar dapat terus menerus bermanfaat. Kajian ini disampaikan dalam bahasa inggris yang mudah, jadi menurut saya, teman-teman pasti bisa mengikuti. Tapi jangan khawatir, untuk mempermudah, saya akan merangkum isi kajian dalam bahasa Indonesia dan saya tambahkan sedikit komentar supaya tidak membosankan 😀 . Mohon dimaafkan apabila terdapat kesalahan dalam interpretasi. Silahkan di kritik bila memang terdapat kesalahan.

Judul kajian tersebut adalah “Love, Marriage, Selecting your Life Partner – Ettiquette in islam”. Disini dibahas tentang apa itu cinta dan bagaimana cinta itu seharusnya serta kepada siapa cinta tersebut seharusnya diletakkan. Beliau memulainya dengan sebuah quote “Love is serious mental illness”. Nah, mengapa cinta harus dikatakan sebagai sebuah penyakit bila sebenarnya itu adalah hal yang indah. Mari kita pikirkan bila didunia ini tidak ada cinta, pasti sudah hangus dari ratusan tahun yang lalu dan tidak ada lagi manusia yang bisa bertahan hidup. Pasti kehidupan di muka bumi sama seperti zaman pra-sejarah. Hanya ada binatang, tidak ada manusia, bahkan lebih buruk. Jadi bukankah seharusnya cinta itu bukan penyakit?

Ustadzah Yasmin Mogahed mengatakan “if what we love has made us unable to function, then it is not love, it is slavery”. Bila apa yang kita cintai membuat kita tidak berfungsi, maka itu bukan cinta, itu adalah perbudakan. Perbudakan oleh apa? Tentu saja oleh hawa nafsu. Hawa nafsu yang membuat kita selalu memperturutkan keinginan tanpa menghiraukan apakah itu benar atau salah. Apakah itu membuat Allah ridha atau membuat-Nya murka. Padahal mencintai sesuatu adalah hal yang mudah, apalagi sudah sangat umum di masyarakat sebuah istilah “Kalau memang itu yang kau sukai, kejarlah!”. Padahal sebagai manusia yang berakal, kita harusnya bisa berfikir jauh ke depan, apakah benda yang kita inginkan itu bermanfaat atau tidak. Sesuai dengan tujuan akhir atau tidak. Baru kita bisa memutuskan apakah hal tersebut layak untuk kita kejar atau tidak. Bila memang tidak layak, buat apa membuang begitu banyak tenaga dan upaya untuk hal yang sia-sia?

Sudah jelas salah bila kita menginginkan hal yang tidak seharusnya, contohnya kita “menginginkan” laki-laki/perempuan yang tidak halal bagi kita. Lantas, apakah mencintai sesuatu yang sudah halal bagi kita tidak ada kecenderungan untuk menjadikannya salah/haram? Bisa jadi. Dalam Surat At-Taubah Ayat 24 dituliskan bahwa bila kita mencintai apa-apa yang kita punya lebih daripada kita mencintai Allah SWT, maka kita patut waspada akan balasan dari-Nya. Balasan disini bukanlah sesuatu yang bagus dan kita inginkan lho, justru sebaliknya (saya ingin menghaluskan kata “hukuman” saja sebenarnya). Mendengarkan penjelasan ini, saya pun teringat tentang apa saja yang pernah saya alami. Tentu saja, keluarga adalah hal penting bagi saya. Dan momen kehilangan salah satu anggota keluarga adalah momen yang sangat menyesakkan. Tidak mudah merelakan begitu saja sesungguhnya. Bahkan demi menghilangkan sakit akibat tidak rela, saya sengaja mematikan hati dan rasa saya. Saya sengaja tidak ingin merasakan apapun, tidak ingin senang agar tidak sesak saat merasa susah. Disaat susah malah menghabiskan banyak uang dan tenaga dengan percuma, demi menghibur diri. Tapi, apakah yang seperti itu akan membuat segalanya lebih mudah? Lebih baik? Tentu tidak, malah lebih sulit. Pergolakan hati dan sebangsanya tidak pernah absen menyelimuti hari-hari saya dan kontan membuat hidup saya tidak tenang, karena terus menerus diikuti ketakutan yang absurd. Dan ketika akhirnya saya menemukan cinta saya yang sesungguhnya kepada Allah SWT, saya pun berhasil bangkit, seolah terlahir kembali. Keinginan saya untuk dapat bertemu mereka kembali di surga Allah SWT yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, membuat saya kuat dan teguh dalam menghadapi apa-apa saja yang terjadi berikutnya. Saya sadar, saya memang diwajibkan mencintai kedua orang tua saya dan menyayangi adik-adik saya. Saya pun harus mematuhi apa yang dikatakan oleh kedua orang tua saya, tentu saja selama yang diperintahkan adalah kebaikan dan mendekatkan saya kepada Allah SWT. Tapi bila memang Allah SWT berkehendak untuk mengambil sebagian dari apa-apa yang saya cintai untuk menguji cinta saya kepada Allah SWT, maka tidak ada lagi yang tersisa selain ikhlas. Sungguh sulit amarah-amarah tersebut untuk diredam, namun bila mengingat betapa saya mencintai Allah SWT dan ingin menyenangkannya, maka daya untuk meredamnya menjadi jauh lebih besar dari amarah itu sendiri. Disinilah nikmat dari cinta itu. Kita tidak harus terkekang dengan apa yang dikatakan oleh orang lain, bahkan orang tua atau suami kita. Kita tidak harus terkekang dengan apa yang dipikirkan oleh masyarakat atau bagaimana mereka akan menilai kita. Kita selalu punya pilihan, apakah kita ingin menuju Allah atau menjauhi-Nya. Tidak ada doktrin, tidak ada cuci otak. Semuanya kembali pada diri kita sendiri. Bila tidak percaya dengan kehidupan di akhirat, maka berbuatlah sesukanya. Tapi jangan mendiskriminasi orang-orang lain yang ingin melakukan hal yang sebaliknya. Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Baiklah, kembali ke isi kajian tersebut. Ustadzah Yasmin Mogahed juga menyebutkan tentang pernikahan, yang umumnya dikenal sebagai perayaan dari cinta. Akhir dari sebuah perjalanan hidup. Dimana di dongeng-dongeng disebutkan bahwa sang putri menikah dengan sang pangeran dan hidup bahagia selamanya. Apakah tidak ada yang ingin bertanya-tanya, bagaimanakah bentuk sebenarnya dari “hidup bahagia selamanya” itu? Mari kita tilik ayat berikut ini. Tentunya sudah umum kan ya, dengan surat Ar-Rum ayat 21 yang tidak pernah absen tercetak di undangan pernikahan. Disitu disebutkan bahwa:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”

Nah, mari kita garis bawahi kalimat “Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. Apakah yang dimaksud dengan“tanda-tanda”? Sesuatu yang membimbing kita kepada tujuan kita bukan? Maka pertanyaannya kembali lagi, jadi sebenarnya apa yang ingin kita capai di akhir hidup kita di dunia? Happily ever after itu sangat mungkin untuk tercapai, asalkan kita tahu apa yang kita tuju dan bagaimana cara untuk menujunya. Bila di Al-Qur’an sudah ada petunjuk bagaimana memperoleh “hidup bahagia selamanya”, kita tinggal mengikuti saja kan?!

Sungguh, tadinya saya adalah seseorang yang tidak menyukai pernikahan. Karena seolah-olah seseorang itu hanya menyerahkan kehidupannya sepenuhnya ditangan pasangan dan kemudian membawa keduanya kepada sebuah ketidak pastian yang sulit diprediksi, dan semua itu membuat saya ketakutan bahwa saya akan berakhir pada sebuah unhealthy attachment yang membuat saya terkungkung,  terkekang dan pada akhirnya mati tanpa tujuan. Saya sangat tidak ingin menjadi orang yang seperti itu, buat apa? Lebih baik mati sendiri tapi sudah berkontribusi kepada orang banyak, sehingga ada makna dibalik keberadaan saya. Namun, ketika saya memaknai lebih dalam lagi apa itu sebuah pernikahan dalam islam, dan bagaimana seharusnya, saya jadi lebih mengerti dan akhirnya paham, pernikahan seperti apa yang saya inginkan dan jalan mana yang harus dituju. Seperti yang dikatakan oleh Ustadzah Yasmin Mogahed, pertama-tama kita harus paham, apa tujuan dari pernikahan tersebut, karena pernikahan hanyalah salah satu kendaraan bagi kita untuk menuju pada tujuan akhir kita tersebut. Apakah dengan menikah kita masih bisa bermanfaat bagi umat? Apakah sanggup pasangan kita menjadi partner yang kelak akan membimbing, mengingatkan dan membawa kita kepada Allah SWT? Memang hidup itu penuh ketidak pastian, tapi apakah kita juga tidak percaya dengan janji Allah SWT? Ingat, bahwa bila kita tidak berusaha untuk merubah nasib, maka Allah SWT pun tidak akan membantu kita.

Ustadzah Yasmin Mogahed juga mengatakan, “true love is love for the sake of Allah. you will together for the sake of Allah, and apart for the sake of Allah”. Jadi, cinta karena Allah adalah sebuah level yang sangat tinggi, dimana kita menempatkan Allah diatas segalanya. Bila kita hanya mencintainya karena rupa dan hartanya, maka itu hanya hasrat dan obsesi bukan cinta. Bila kita hanya mencintainya hanya karena “that is how they make you feel” maka yakinlah, itu hanya sementara. Dan ditempat-tempat seperti itulah saya takut bahwa saya akan terjebak. Bila terjebak, akan susah keluar karena di dalam kepala kita pasti akan terngiang-ngiang kata “terlanjur” dan kita akan membiarkan saja kesalahan itu disitu dan tidak ingin berusaha merubahnya. Lantas bagaimana bila kita sudah terjebak? Bagaimana bila awalnya menikah karena ingin ridha Allah SWT tapi ternyata pernikahan tersebut justru tidak berhasil membuat kita mendekat pada Allah dan justru menjauhi-Nya? Maka kita bisa berpisah karena Allah. Begitulah konsep “Love for the sake of Allah”. Kita berani bertindak, berani memutuskan, karena Allah, demi ridha Allah, demi pahala dari-Nya.

Lalu, bagaimana cara membedakan mana yang cinta karena Allah SWT dan mana yang hanya hasrat semata? Mudah, menurut Ustadzah ada dua cara. Yang pertama adalah menanyakan pada diri sendiri, apa atau siapa yang membuat kita sedih dan senang dalam satu hari, apa yang kita pikirkan dari bangun tidur dalam satu hari, apa yang paling membuat kita bahagia atau marah. Bila jawabannya adalah nama seseorang, itu berarti kita sedang berada dalam unhealthy attachment. Dimana bila orang tersebut tidak ada, maka kita akan berhenti berfungsi. Contohnya anak. Kita memang wajib mencintai dan memelihara anak-anak kita, karena anak adalah titipan Allah, namun bila kita terlalu mencintainya hingga saat dia dewasa kita tidak membiarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri atau bahkan sampai melarang dia menikah karena kita tidak mau ditinggalkan, maka itulah unhealthy attachment. Tidak mudah memang, saya sendiri sudah membuktikan sulitnya menghindari hal tersebut. Namun bila kita sudah bisa mengenalinya, maka seharusnya kita bisa berusaha untuk meninggalkannya. Tergantung kita, berani atau tidak. Yang kedua adalah, apakah dengan dekat kepada orang tersebut, maka kita lebih dekat lagi kepada Allah SWT, apabila jawabannya iya, maka memang benarlah dia orangnya yang kita cintai karena Allah. Bila tidak, pasti anda semua tahu apa maknanya.

Lalu bagaimana cara mengatasi bila kita sudah kadung terjebak dalam unhealthy attachment? Pernah mendengar istilah “mencari cinta baru untuk menyembuhkan luka lama” atau “mencari pengganti”? yap, itulah cara termudahnya. Lantas dimana cinta baru itu dapat ditemukan? Tentu saja Allah SWT-lah cinta baru tersebut, jangan terlalu jauh mencari, karena Allah SWT selalu dekat. Kenali bagaimana hubungan kita kepada-Nya dan perdalam. Seperti saat kita sholat dan bertakbir “Allaahu Akbar”, kita mengatakan Allah Maha Besar. Artinya, tidak ada yang lebih besar daripada Allah SWT. Bila kita memiliki kesulitan, maka itu tidak lebih besar dari Allah SWT. Bila kita mencintai seseorang, maka kita tidak boleh mencintainya melebihi Allah SWT. Karena hanya Allah SWT saja yang berhak dicintai sebesar itu, bukan yang lain. Bukankah kita ingin mendapatkan rumah tangga dengan pondasi yang solid? Bukankah kita menginginkan hal yang baik untuk diri kita? Maka, apa yang lebih besar dan kuat selain Allah SWT. Bila pasangan tersebut saling mencintai karena Allah, maka mereka akan takut untuk saling menyakiti, akan senantiasa saling mengingatkan, saling menguatkan iman dan saling mendampingi sampai akhirnya menuju Allah SWT. Dan anak-anak mereka akan dididik menjadi anak yang sholeh/sholehah supaya budaya mencintai karena Allah dapat terus berlanjut, karena mereka hanya ingin Allah SWT senang, dan ridha dengan keberadaan mereka. Bukankah itu yang akan kita lakukan bila kita mencintai seseorang?

Dalam kajian ini juga terdapat diskusi, apakah istikharah menjamin kita untuk mendapatkan pasangan yang terbaik? Belum tentu. Karena jawaban dari do’a istikharah itu tidak bisa dilihat dari mimpi, tidak bisa dilihat dari tanda-tanda yang ditunjukkan oleh Al-qur’an, tidak bisa dibaca dan dilihat dengan kasat mata. Tapi menggunakan hati dan keyakinan. Jadi pertunjuk pertama, kuatkan hati kita dulu, baru berdo’a untuk menghindari ketersesatan jawaban. Do’a istikharah bisa dilihat di link berikut ini.

Bila dibaca, salah satu kalimat dalam doa tersebut berbunyi

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku”

Ada tiga hal yang kita mohonkan pada Allah SWT. Yakni takdirkanlah (buat hal tersebut menjadi kenyataan), mudahkanlah (hal tersebut tidak terjadi dengan rintangan atau halangan yang berarti) dan berkahilah (membawa kebaikan bagi urusan di dunia dan di akhirat). Nah, maka hanya bila hal yang kita hajatkan menjadi kenyataan dengan jalan yang sangat mudah dan membawa kebaikan bagi urusan kita di dunia dan di akhirat, maka itulah yang terbaik bagi kita. Bukan karena pertanda dalam mimpi dan sebagainya. Karena itulah, hati harus se-netral mungkin dalam memilih urusan tersebut. Tidak condong kepada hal yang kita minta untuk menghindari bisikan-bisikan yang menyesatkan. Bukankah bila kita menjadi hakim untuk memutuskan perkara diantara dua orang kita harus adil dan tidak memihak? Apalagi buat diri sendiri, kita harus sangat adil dan serius supaya kita mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Karena sangat mungkin hal yang tidak baik bagi kita itu terbungkus dengan sangat cantik. Seperti yang juga terdapat di doa istikharah,

“jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya.”
Lihatlah yang terdapat dalam doa tersebut, bila memang tidak baik, maka kita tidak hanya meminta diri kita untuk berpaling darinya, tapi juga meminta sesuatu itu untuk berpaling pada kita, dan selanjutnya kita minta yang terbaik dan kita memohon agar diri kita sanggup untuk merasa ikhlas. Luar biasa bukan? Sebagai manusia kita meminta yang terbaik bagi diri kita, namun bila hati kita tidak condong kepada Allah SWT sedari awal, apa kita pantas minta dibantu untuk memilih yang terbaik bagi hidup kita? Sama seperti bila kita kena sakit diabetes tapi makan kue tetap jalan, dengan dalih “Saya suka sekali sama kue ini, kalau nggak makan, seumur hidup nggak akan tenang”. Ya, tentu saja, makan kue yang terbaik menurut hatinya sendiri. Tapi apa itu yang terbaik bagi hidupnya? Kembali saya serahkan jawabannya kepada anda-anda semua.

Masya Allah, sekali lagi saya jatuh cinta dan terkagum-kagum pada Allah SWT dan Islam yang mengenalkan saya hingga akhirnya mencintai-Nya. Saya sadar, bagi beberapa orang apa yang saya lakukan dan jelaskan disini terlalu klise dan terkesan mengada-ada. Saya yakin tidak ada seorang pun yang tahu dan dapat memahami hubungan antara seseorang dengan Tuhan kecuali yang bersangkutan. Namun tidak ada salahnya kita terus menerus mencari apa yang terbaik bagi hidup kita agar tujuan akhir bisa tercapai. Bila proses untuk me-running-nya benar, hasilnya pasti bisa dipertanggung jawabkan kan ya?

Tujuan saya sudah jelas, dan saya sedang berusaha keras untuk mencapainya.

Anda?

 

Salam-“Love for the sake of Allah SWT”-untuk-anda-semua

-Ludi-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s