Beomosa (kabur dan hiking)

Saya mengakui, saya suka sekali jalan-jalan. Walaupun tidak setiap kesempatan saya habiskan untuk tamasya, karena kondisi badan saya mudah sekali turun, namun saya berusaha untuk memaksimalkan setiap kesempatan tersebut.

Dan cerita ini dimulai ketika saya ingin sekali pergi ke kebun binatang, untuk melihat gajah (benar-benar hanya itu tujuan saya ke kebun binatang :P) dan saya dapat informasi bahwa kebun binatang terdekat adalah di sekitar Gimhae (masih masuk Busan). Nah, ketika ada kesempatan dan niat untuk berangkat (Sabtu dan Ahad lalu, karena teman-teman berangkat ke CISAK di luar kota) akhirnya saya dan Riska memutuskan untuk pergi ke kebun binatang pada Ahadnya. Akan tetapi, pada hari Jum’at, Riska mendapat informasi dari teman satu labnya bahwa di kebun binatang tersebut tidak ada gajahnya, dan harus membayar 6000 won (sekitar 48,000 IDR) untuk masuk. Kesal karena tidak ada gajahnya (saya mau bayar buat masuk kalau ada gajahnya :P), saya memutuskan untuk tidak berangkat. Namun saya tetap berniat untuk pergi main weekend tersebut

Dengan alasan yang sama sekali berbeda, saya memutuskan untuk bolos ngelab di hari sabtu dan pergi jogging dengan Riska. Baru dua ratus meteran dari rumah, kami memutuskan untuk pergi ke Beomeosa, gunung yang ada kuilnya. Bisa olahraga sekaligus wisata gratis di sana. Karena ide itu datang tiba-tiba, kami pun kembali ke rumah sejenak untuk membawa perlengkapan secukupnya (karena tadinya niat berangkat jogging, kami hanya bawa handphone dan uang sekedarnya).

Dan akhirnya berangkatlah kami ke Beomeosa. Seperti biasa, jalan kaki menyusuri sungai di bawah rel metro itu menyenangkan. Karena saya bisa mengambil foto beberapa bunga yang belum pernah di lihat sebelumnya.

Awalnya kami berniat untuk berjalan kaki sampai dua stasiun setelah Jangjeon Station (Stasiun terdekat dari rumah). Akan tetapi, di tengah jalan, saya capek 😛 belum lagi ternyata kami nggak bawa makan siang untuk dimakan di atas gunung nantinya. Jadilah kami mampir-mampir sebentar untuk membeli bekal, sebelum akhirnya kami naik metro menuju Beomeosa station. Setibanya disana, kami kebingungan mencari halte bus terdekat untuk mengantar kami sampai ke atas gunung. Alhamdulillah, kebingungan tersebut tidak berlangsung lama, karena kami berhasil menemukan terminal (bukan halte) untuk bus yang kami butuhkan.

Perjalanan naik ke atas membutuhkan waktu sekitar 15 menit, dan Alhamdulillah, cuaca hari itu sejuk sekali. Karena hari sabtu, maka banyak orang yang datang untuk berlibur dan sembahyang di kuil. Tidak semua bangunan di dalam komplek kuil bisa dikunjungi, karena ada juga bangunan yang khusus ditempati para biksu. Sejauh mata memandang, kuil tersebut dikelilingi gunung dan hutan.

Naik lebih ke atas lagi, ternyata ada beberapa arca yang disusun dengan susunan yang menyerupai candi (seperti di Borobudur).

Sebenarnya agak aneh kami berdua datang kesana dan keluyuran tanpa didampingi oleh native speaker. Jadilah sebentar-sebentar kami disapa oleh orang lokal dan diajak bicara. Karena tidak enak telah membuat keributan (karena terus ditanyai ini itu oleh orang-orang), akhirnya kami pun turun gunung dan pulang.

Tadinya memang mau pulang, namun entah mengapa saya masih ingin pergi ke tempat lain. Masih jam 15.00 berarti matahari masih tinggi-tingginya. Kami akhirnya memutuskan main ke China Town di seberang Busan Station. Tempatnya bagus, seperti tempat wisata pada umumnya.

Sayang, kami sempat masuk gang yang salah dan menyadari kalau kiri kanan kami banyak losmen kecil yang didepannya dijaga oleh beberapa bule rambut pirang, berbadan besar dan bermuka sinis. Dengan sedikit ngeri kami pun mempercepat langkah agar segera berlalu dari tempat tersebut. Total hanya 30 menit kami di China Town, atau bahkan kurang. Tentu saja, saya masih ingin main 😀

Akhirnya kami pun memutuskan untuk pergi ke Haeundae. Bagian dari pusat kota Busan yang paling baru dan ramai oleh wisatawan asing. Sebenarnya dalam perjalanan kami menuju Haeundae dari Stasiun Seomyeon, kami menemukan beberapa tempat wisata lain seperti pantai dan museum. Ada juga mall yang terkenal bernama Shinsaegae yang memiliki museum Madam Tussauds didalamnya. Namun, karena hari itu kami benar-benar kere dan ingin jalan-jalan yang tidak menghabiskan banyak uang, kami pun tetap lurus pergi ke Haeundae. Sayangnya, di Haeundae kami tidak berfoto satu kalipun, karena disana ada “acara jemur pindang” oleh bule-bule dan orang lokal yang ingin menggelapkan kulit (karena kalau yang difoto merasa terganggu, kami bisa ditangkap polisi).

Seperti kata Pak Mario Teguh (saya kutip dari stand-up comedynya beliau) “hidup itu adalah tentang do serious fun atau having fun seriously”. Intinya, dinikmati saja. Yang penting tanggung jawab dikerjakan dan selesai dengan memuaskan. Benul?!

Salam-KW super 😀

-Ludi-

Advertisements

2 thoughts on “Beomosa (kabur dan hiking)

    • soalnya dulu orang korea menggunakan karakter yang sama kayak orang jepang dan cina (jepang sama cina karakternya banyak yang sama to?).
      jadi ya gitu deh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s