Papa lagi Papa lagi..

Assalamualaikum warrahmatullah wabarakaatuh,
Tweeps (panggilan utk teman-teman di Twitter) pasti sudah bosan dengan cerita pacaran saya dengan papa. Karena sering kali saya men-tweet “video call-an sama papa” atau “nge-date sama papa”. Buat yang tidak tahu siapa saya, boleh jadi mengira bahwa “Papa” adalah panggilan sayang saya kepada pacar saya. Padahal, panggilan tersebut bukan konotasi, itu benar-benar untuk Papa saya. Mungkin sudah pernah baca postingan saya yang berjudul “Tentang Papa“? Disitu saya menjelaskan sejarah singkat Papa dan peran besar beliau dalam kehidupan kami. Pada postingan ini, saya ingin menceritakan sekaligus menjawab rasa penasaran orang-orang diluar sana mengenai hubungan saya dengan Papa.

Bagi orang yang mengenal saya sejak kecil dan pernah main ke rumah saya, biasanya akan mengingat Papa saya sebagai sosok yang menakutkan. Selain karena perawakannya yang tinggi, besar dan hitam, beliau juga irit bicara dan minus dalam bercanda. Disegani didalam dan diluar rumah. Kaku dan teguh dalam menjalankan peraturan. Keras kepala dan sering merasa paling benar sendiri.
Tapi itu dulu, sekian tahun yang lalu. Sekarang sudah berubah.
Walaupun Papa bukan orang yang paling baik di dunia, namun beliau menghargai keberadaan orang lain setidak suka apapun beliau kepada orang tersebut. Dan walaupun keahlian beliau telah diakui banyak orang, namun beliau tidak pernah merasa sebagai yang paling pintar.
Arogan iya, sedikit, namun bila orang lain lebih benar, maka beliau akan mengakui dengan lapang dada.
Dan demikian juga beliau kepada kami anak-anaknya. Beliau tidak suka “memenjarakan” kami dalam aturan-aturan yang kaku, walaupun beliau memegang teguh aturan agama, namun kami semua memperoleh kebebasan yang sama rata. Hanya Mama yang selalu demikian khawatir dengan jam malam dan seterusnya.
Setelah kami beranjak dewasa, Papa tidak lagi menjadi Bos Besar yang memerintah ini itu. Papa belajar untuk tidak seperti itu. Beliau menganggap kami bertiga sudah cukup besar untuk memikirkan apa yang terbaik bagi kami. Kamilah yang membutuhkan nasehatnya. Kami meminta nasehatnya hampir untuk apapun, terutama masalah laki-laki. Yep, kami berdiskusi tentang cowok yang kami sukai kepada Papa. Terkadang beliau sampai geli sendiri mendengarkannya, namun dengan sabar dan telaten, beliau mau memberikan nasehat termasuk menilai, apakah laki-laki tersebut cukup baik bagi kami atau tidak.

Pun untuk akhir-akhir ini ketika saya merayu beliau agar mau mengenal teknologi chatting dan video call. Awalnya beliau sudah tidak mau lagi mengikuti trend teknologi karena begitu cepatnya berubah. Namun, Alhamdulillah, setelah saya memberi tahu betapa simpelnya teknologi yang saya tawarkan, beliau pun mau mencoba. Jadilah kami sering bertatap muka di dunia maya, bercakap-cakap ringan di waktu senggang dan saling mengirimkan foto agar tahu kondisi terbaru. Geli ya kalau melihat perlakuan saya kepada Papa seperti pacar sendiri? Geli ya, kalau saya suka heboh sendiri padahal cuma chatting dan video call-an sama Papa? Yep, saya paham kok, kalau orang-orang menganggap saya lebay dengan respon saya terhadap sikap Papa saya. Tapi, saya tidak peduli, karena buat saya hal ini berharga, karena Allah SWT yang mewajibkan saya untuk menyayanginya sedemikian rupa.
Papa tidak pernah menuntut ataupun hanya sekedar bertanya, kapankah saya atau adik saya akan menikah (sesama 20-an), walaupun saya tidak menutup mata, bahwa betapa irinya Papa melihat teman-teman sebayanya sudah banyak yang ngunduh mantu dan menimang cucu. Paling jauh beliau hanya bertanya, setelah kuliah ini selesai, mau melanjutkan apa lagi? mau kerja dimana? apa rencananya? Hanya sejauh itu saja. Ketika saya memutuskan melanjutkan kuliah, seluruh anggota keluarga menentangnya kecuali Papa. Buat Papa, selama kesempatan belajar masih ada, jangan disia-siakan, karena ilmu itu berharga. Papa harusnya sudah menjadi kakek berumur 60 tahun dan bermain dengan cucu-cucunya. Namun, karena anak tertua saja masih berusia 20 tahunan, maka beliau hanya bisa bersabar sambil menunggu. Alhasil, beliau lebih suka bercanda dengan kucing-kucing kami dirumah, dan tidak jarang ngudang mereka seperti anak atau cucu sendiri. Miris sih sebenarnya, namun bila hanya menunggu yang saya bisa, berarti saya harus belajar bersabar lebih banyak kan?! Daripada bengong dan galau, saya lebih memilih pergi ke luar dan menghadapi apapun yang kehidupan taruh di depan muka saya.

Hal yang normal apabila seorang anak perempuan memasang ayah mereka sebagai sosok laki-laki idaman. Buat saya tidak harus seperti itu. Karena Papa hanya manusia biasa yang juga memiliki sifat-sifat yang tidak saya sukai, terlepas dari hubungan kami sebagai Ayah dan anak. Saya lebih suka Allaah SWT mengejutkan saya dengan takdir yang telah ditulisnya. Toh, sejauh ini saya sudah banyak terkejut, more surprises won’t hurt me much 😀

Bismillah, mudah-mudahan saya bisa bekerja lebih keras setelah ini (ndak nyambung) 😛

Salam-galau-gara2-cpns-dosen 😀

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s