Antara Sarang Semut dan Social Media

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh,

Pernah lihat sarang semut yang ditaruh dalam kotak kaca untuk penelitian musim panas anak-anak SD di Jepang atau Amerika? Kayak yang di film-film itu lho?!

Lucu ya? Melihat mereka semua berkembang biak, membuat lorong-lorong untuk dilewati, dan memperhatikan cara mereka berkomunikasi satu sama lain. Pernah terpikir nggak? Kira-kira kalau mereka tahu sedang diperhatikan seperti itu, mereka akan kaku, berakting, atau membuat sesuatu yang diluar kebiasaan?

Let’s say I am imagining way too far.

Tapi, ketika minggu lalu saya melihat sarang semut yang sama di mall kampus, saya jadi terpikir sesuatu. Agaknya begitulah yang terjadi antara manusia dan sosial media (sosmed). Jaman sekarang, ndak keren kalau ndak check-in pakai Foursquare atau update sesuatu lewat Facebook atau bahkan mengatakan sesuatu dengan hashtag di Twitter. Rasa-rasanya, kita-kita sebagai pengguna sosmed adalah semut-semut yang berada didalam sarang tersebut. Dan ada sebagian orang yang bertindak sebagai pemantau seolah-seolah sedang melakukan riset terhadap para semut. Bedanya, sebagai pengguna, kita sadar sepenuhnya bahwa kita sedang diperhatikan. Hingga terkadang kebebasan berekspresi bisa jatuh ke level “berlebihan”. Menuliskan yang tidak seharusnya dituliskan. Mem-post sesuatu yang kurang pantas. Melakukan lebih banyak hal yang tidak perlu.

Again, it is always hard being spotted by others.

Dari pendapat saya pribadi sih, karena setiap orang memiliki sesuatu yang disimpan sendiri. Terlepas seperti apa mereka di ranah umum. Sayangnya, hal tersebut kurang menakutkan (saya tidak bermaksud menakuti disini) bagi banyak orang, ketika mereka dengan mudah percaya sebuah akun, mem-follow atau meng-add, kemudian mereka men-share begitu saja. Seolah-olah ingin mengatakan betapa kerennya mereka atau betapa positifnya mereka dengan akun yang di-like atau di-retweet. Dan anak-anak (tidak hanya remaja) di Indonesia dengan gampang “ngikut” dan “nimbrung” supaya terlihat lebih gaul. Kurang mempertimbangkan baik buruknya.

Alone is not lonely.

Sekali lagi, (pendapat) saya pribadi lebih suka “sulit terdeteksi”. Bukan sok misterius. Bukan takut di-judge orang lain. Bukan sengaja anti-sosial. Hanya ingin lebih dekat dengan diri saya sendiri, agar masih ada yang saya simpan untuk saya dan “harta karun” saya, agar lebih mempercayai insting dan intuisi saya, agar bisa lebih mengandalkan diri sendiri. Karena seperti yang Mama bilang, selain Tuhan, diri sendiri yang harus diandalkan.

I am not writing this to make you stop socmed-ing. It is just saying.

Salam-hari-anak-nasional

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s