Resto halal #1: Capadoccia

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.
Masih kuat puasanya? Ndak ambruk dan kepanasan? Alhamdulillah deh kalau begitu.
Tulisan hari ini sebenarnya nggak bermaksud ngiming-imingi yang sedang berpuasa, justru sebaliknya menambah semangat teman-teman semua. Sudah bukan rahasia lagi ya, saya suka banget makan dan nyobain ini itu. Kalau dulu, pas jaman “jahiliyah”, saya tahunya kalau di Indonesia ya makan segala macam, tidak mengecek kembali halal tidaknya. Dan kebiasaan tersebut dulu sempat terbawa ke Taiwan, dan alhasil, saya sempat jadi “pemakan segala asal nggak babi”. Alhamdulillah, setelah mendapatkan hidayah, saya jadi lebih hati-hati, berusaha nggak “serakah” dan istiqomah (walau susah).
Pun demikian ketika di Korea ini, saya harus sangat hati-hati dalam memilih makanan. Karena itulah, saya suka coba-coba memasak di rumah supaya kebersihan dan kehalalan terjamin, plus jauh lebih murah. Nah, nampaknya, sifat suka makan saya nggak bisa dibendung dengan hanya mencoba ini itu di rumah. Rasanya ingin sekali makan pizza seperti di Indonesia, atau makan burger, sate, dan sebagainya. Bisa bikin sebenarnya, tapi kalau malas melanda, apa mau dikata.  Alhamdulillah lagi, tempat tinggal saya cukup dekat dengan Masjid Al-Fattah atau yang lebih akrab disebut Masjid Busan. Persis di sebelah masjid tersebut ada restaurant halal yang menjual makanan Turki. Namanya “Capadoccia”. Banyak menu khas Turki yang ditawarkan di tempat ini. Tapi karena namanya saja restaurant, tentu saja, harganya kurang bersahabat dengan kantong mahasiswa. Rata-rata harganya sekitar 10.000 won ke atas (diatas 80.000 IDR) untuk makanan lengkap (maksudnya nasi, lauk, minum, roti, dan sebagainya).  Karena memang nekad, hari itu saya dan food-crime partner saya (Mbak Dini) ingin mencoba makan disitu. Dengan menutup mata akan mahalnya harga, jadilah kami masuk dan memilih-milih menu (yang paling murah tapi masih layak buat berdua 😀 ). Menu yang kami pilih bentuknya seperti pizza. Namanya Lapachun (finally hit the second visit :P). Rotinya tipis dan renyah, kemudian dilapisi dengan saus tomat dan ditaburi daging domba diatasnya, lalu dipanggang. Usai dipanggang diberi taburan tomat segar diatasnya dan bawang bombay. Satu porsi kira-kira terdiri dari 8 potong. Rasanya enak dan unik. Untuk minumannya, kami berdua memilih Turkish Tea. Hanya saja Mbak Dini pesan yang teh buah. Untuk roti yang seperti Pizza tersebut, harganya lumayan mahal, kalau dimakan berdua. Yaitu sekitar 7000 won (atau 56000 IDR). Sedangkan Turkish Tea-nya per gelas di banderol dengan harga 2000 won (atau 16000 IDR). Alhamdulillah, karena yang punya restaurant sering melihat kami berkeliaran di masjid, jadilah kami diberi diskon sebesar 2000 won, sehingga total hanya kami bayar 9000 won saja.

Sembari menunggu pesanan datang, kami pun melihat-lihat dekorasi di dalam restaurant tersebut. Cukup nyaman dan unik. Tidak heran restaurant ini tidak pernah sepi pengunjung, baik muslim maupun non-muslim, orang lokal maupun orang asing. Berikut foto-fotonya.

This slideshow requires JavaScript.

Bila memang sedang main ke Busan, tidak ada salahnya mencoba restaurant ini. Walaupun mahal, namun servisnya mumpuni. Jadi, kapan mau traktir saya disini? haha.

Salam-35 derajat celcius

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s