Ayo jadi The Lorax(s)

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh,

Bagaimana libur summer atau libur lebarannya?

Saya? Saya cukup liburan di Taipei saja. Haha. Perjalanan mengenai Taipei akan saya tuliskan di halaman lain. Hari ini saya ingin bercerita tentang diskusi dibalik acara saya mengunjungi teman-teman di Taipei.

Saya suka binatang. Bahkan saya suka pergi dan sangat menikmati kebun binatang. Walaupun kesukaan saya ini sangat tidak manusiawi (bagaimana mungkin seseorang tega bersenang-senang melihat binatang diperangkap di suatu tempat seumur hidupnya), namun sedikit banyak saya menaruh perhatian terhadap keberadaan dan kelestarian mereka. Saya bukan aktifis yang mengikuti gerakan penghijauan, atau penggiat kelestarian hutan dan suaka margasatwa, akan tetapi pada akhirnya saya sadar, bahwa sebagai orang biasa saya perlu menanamkan nilai-nilai dalam diri saya, supaya kelak saya mampu mengajarkannya kepada anak-anak saya, betapa menyakiti alam semesta, berarti menyakiti diri sendiri. Dan perintah untuk tidak berbuat kerusakan, jelas-jelas tertulis dalam Al-Qur’an (surat Al-Baqarah ayat 11-12; surat Ar-Rum ayat 41 dan banyak lagi ayat-ayat yang berkenaan dengan hal tersebut). Paling tidak sebagai seorang muslim, saya berusaha menerapkan apa yang saya baca.

Adalah film animasi “Dr. Seuss : The Lorax” yang mengilhami saya dalam membuat tulisan “ajaib” ini. Seperti halnya film “Dr. Seuss: Horton Hear a Who”, film ini juga mengajarkan nilai moral yang sangat dalam, terlepas betapa menariknya jalan cerita dan warna-warna yang dipakai untuk mendeskripsikannya. Didalam film ini diceritakan, bagaimana sebuah ilmu pengetahuan yang begitu bermanfaat bagi orang banyak, dapat merusak hutan dan menyebabkan makhluk hidup didalamnya harus mati dan berpindah ke tempat yang lebih baik demi melanjutkan hidup. Betapa sebuah benda yang begitu banyak fungsinya dapat menyebabkan hutan musnah, dan pada akhirnya manusia-manusia harus membeli udara segar dalam kemasan dan hidup dalam dunia serba buatan. Sebuah ironi yang diilustrasikan dengan keceriaan musikal, yang membuat saya tersenyum pahit. Apakah kira-kira bumi ini akan menjadi sedemikian sakit?

Dalam plot The Lorax dimana pada akhirnya pohon Truffula, yang dibuat menjadi produk bernama Thneeds yang konon multifungsi dan sangat penting bagi seluruh umat manusia, habis tidak bersisa dan hanya menyisakan polusi udara. Seperti itulah nasib hutan, dan spesies didalamnya kelak akan berakhir bila tidak ada kesadaran dari penghuni bumi. Membayangkan pohon plastik dan rumput gabus yang tumbuh di halaman rumah, dan udara bersih yang dijual dalam bentuk galon sampai kaleng soda, serta lampu-lampu UV yang menggantikan matahari (saking tebalnya awan polusi hingga tak tertembus oleh sinar matahari) membuat saya bergidik ngeri, dan bertanya-tanya dalam hati apa yang bisa saya perbuat.

Sepanjang menikmati film tersebut selama kurang dari dua jam di atas pesawat, yang membawa saya dari Taiwan menuju Korea Selatan, khayalan saya terbang kemana-mana. Termasuk kepada diskusi saya dengan mbak Ervin yang adalah senior saya dan pernah menjadi volunteer di Orangutan Information Center (cmiiw ya mbak ^^). Diskusi ringan yang terjadi di tengah terik matahari kota Taipei itu menyinggung masalah orangutan, dari populasi hingga ke insiden pembunuhan orangutan. Yang jelas, orangutan di sumatera yang tahun ini hanya tinggal 200 ekor itu semakin terancam, karena hutan tempat mereka bernaung semakin tergeser oleh perkebunan kelapa sawit. Palm Oil yang sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat dunia ini menjadi “biang” bagi orangutan dalam menuju kepunahan. Lantas, ini salah siapa? Kita juga butuh makan, kita butuh Palm Oil tidak hanya untuk makanan, melainkan juga sabun, kosmetik dan sebagainya. Apakah ini salah?

Mbak Ervin menjelaskan, sebenarnya kebutuhan Orangutan dan manusia bisa berjalan beriringan, terlebih lagi sudah banyak teknologi untuk menggantikan Palm Oil (ini baru dari segi Palm Oil saja) dengan harga yang relatif sama. Dan masyarakat Indonesia khususnya, harus banyak belajar, bahwa Palm Oil bukan satu-satunya yang bisa dipakai untuk mengolah makanan (misalnya), masih ada minyak kedelai dan minyak kelapa yang bisa dipakai sebagai pengganti. Atau bisa juga, edukasi tidak langsung melalui produsen-produsen kosmetik yang menyatakan bahwa, mereka tidak menggunakan Palm Oil sehingga produk mereka lebih ramah lingkungan. Langkah-langkah semacam itu mungkin tidak bisa mengembalikan 100% populasi dan habitat Orangutan maupun spesies-spesies lainnya seperti semula. Namun, paling tidak kita memiliki usaha untuk mengembalikan alam kepada wujud yang seharusnya. Saya kira, ini juga wujud terima kasih kita kepada alam, atas kebaikan hatinya dalam menghidupi kita selama ini. Dan cara berpikir yang sedemikian patut untuk kita wariskan kepada anak cucu agar usaha melestarikan tidak terputus.

Ada lagi Kebun Binatang Surabaya yang (sampai-sampai diminta oleh orang asing untuk) ditutup karena manusia tidak mampu lagi mengelola, dan hewan-hewan menjerit minta kembali ke tanah asal mereka. Saya menangis dan sedih setiap kali membaca berita tentang KBS di berbagai media. Namun, mungkin, ini yang terbaik, setidaknya generasi selanjutnya mampu belajar, bahwa hewan liar rumahnya ya di alam liar. Bukan di rumah gedongan dengan halaman luas bagai tempat parkir.

Setelah menulis ini, saya tidak tahu tindakan apa yang bisa saya lakukan. Paling jauh hanya tindakan-tindakan dasar seperti, tidak membuang sampah sembarangan, memisahkan sampah yang bisa didaur ulang, menghemat kertas, air dan bahan bakar, dan tentu saja mengganti (atau paling tidak menghemat) minyak goreng dari kelapa sawit. Any other idea?

Alam sudah cukup menyayangi kita, kita kapan?

Salam “we also can speak for the nature”

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s