Ramadhan 1433 H – mohon maaf lahir dan batin

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh,

Baru kali ini saya nulis di blog dengan ketakutan bahwa tema yang saya tulis bakal basi. Haha. Tulisan ini saya buat demi membayar hutang penjelasan buat yang sudah penasaran tentang bagaimana Ramadhan di Busan.

Alhamdulillah, 29 hari saya berpuasa di Busan kesemuanya selalu berkesan. Mungkin karena sedikit muslimah yang ada di PNU, mungkin juga karena kami hobi saling mengingatkan satu sama lain, membuat suasana ibadah Ramadhan jadi khusyuk dan menyenangkan. Bisa jadi suasana yang akan saya ceritakan ini terlampau biasa bagi teman-teman semua, khususnya yang di Indonesia, namun apa yang kami lewati baru-baru ini bagi saya luar biasa berkesan.

Di mulai dari malam menjelang puasa, bila tidak ada halangan (tugas lab, lemas, atau malas) biasanya kami akan ber-Tarowih di Masjid Al-Fatah Busan. Biasanya ada hidangan berbuka yang disediakan oleh ta’mir masjid. Nggak ramai seperti di Indonesia, namun suasana berbuka cukup akrab. Sekali dua, kami kedatangan teman-teman muslim dan muallaf yang datang dari berbagai negara. Ada yang dari Pakistan, Bangladesh, Perancis, Jepang (tapi kedua orang tua dari Korea) juga orang Korea sendiri yang biasa kami panggil dengan sebutan Onni. Nah, sesudah berbuka, kadang kala makanan yang tersisa masih cukup untuk kami pakai sahur. Biasanya kami, para mahasiswa single ini, yang jadi “penadah” makanan-makanan tersebut. Waktu puasa di Korea Selatan rata-rata 17 jam. Itu berarti, maghrib dan isya’ pun lebih malam ketimbang di Indonesia. Biasanya kami selesai sholat tarowih jam 10 lewat, dan sampai rumah sekitar pukul sebelas. Ini yang biasanya membuat stamina saya berkurang, karenanya saya tidak bisa selalu berbuka di masjid.

Untuk urusan sahur, biasanya kami saling membangunkan. Siapa yang bangun duluan akan membangunkan yang lain. Yang kena piket akan menyiapkan makanan sahur sekaligus menyisakan untuk menu berbuka untuk jaga-jaga, siapa tahu hari itu ada yang tidak ikut berbuka di masjid. Sholat shubuh berjama’ah pun kami usahakan untuk tidak terputus. Begitu juga dengan ber-taddarus. Untuk urusan bangun pagi untuk berangkat ke lab, biasanya ini yang jadi masalah 😛 setelah semalaman memiliki kegiatan sedemikian rupa sampai pagi hari, biasanya berangkat ke lab jadi lebih siang. Untuk itu kami hanya bisa mengusahakan supaya walaupun datang terlambat, namun tetap atau lebih produktif. Supaya ibadah puasa tidak dipandang sebagai ajang bermalas-malasan, itu saja.

Kalau ditanya apa yang menarik selama puasa, tentu saja menu makanan yang berubah-ubah setiap harinya. Apalagi setiap sabtu atau ahad, ada saja menu special yang datang dari negara-negara Timur Tengah. Tak ayal, masjid selalu ramai pengunjung, baik karena para pekerja sedang libur atau yang hanya sekedar penasaran dengan masakan dari negara-negara donatur. Selain karena makanannya, tentu saja karena muallaf yang kami “tuntun” agar lebih paham soal islam. Bagi saya yang pertama kali menyaksikan sendiri muallaf yang belajar dari nol, ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Alhamdulillah, teman-teman yang lain sama bersemangatnya. Hal ini membuat teman-teman muallaf tersebut merasa diterima dan memiliki teman berbagi bila ingin memperbaiki diri. Contohnya, ada muallaf yang tetap berpuasa walaupun sedang datang bulan, ketika saya jelaskan bahwa wanita datang bulan dilarang untuk sholat dan puasa dia baru ngeh, dan sama sekali tidak malu karena baru tahu. Malah terus bertanya panjang lebar, sampai semua ketidak mengertiannya terjawab. Masya Allah

Lalu bagaimana dengan lebaran?

Ya, tentu saja berbeda dengan yang ada di Indonesia, tidak ada baju baru, tidak ada nastar dan kastengel, dan tentu saja tidak ada ucapan “Selamat Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin” di channel tivi lokal. Namun disini ada bazaar, dimana usai Sholat Ied, partisipan yang membuka stan akan menjual beraneka makanan. Mulai dari mie ayam sampai macaroni panggang. Luar biasa meriahnya.

Kalau lebaran saya, justru berbeda lagi, saya menghabiskannya di Taiwan, bersama dengan teman-teman NTUST. Saya mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepada Mbak Tun, Mbak Ervin, Mbak Lisa, Mbak Irma, Diana dan Upi yang sudah menemani acara jalan-jalan saya kemarin. Untuk acara jalan-jalan ini, akan saya tulis di halaman lain, lengkap dengan alasan (bagi yang penasaran) kenapa saya memilih untuk “mudik” kesana 😛

Saya menyadari kemampuan saya untuk bersikap manis dan lemah lembut sangat kurang, terutama semua tulisan-tulisan saya di berbagai media yang bernada menyindir dan menunjuk langsung kesalahan yang ada, dan untuk semua sakit hati yang saya timbulkan baik sengaja maupun tidak, saya mohon maaf lahir dan batin.

Mohon maaf Ludi nggak bisa sungkem langsung ke Solo, sekalipun via telpon padahal Mbak Diding sedang sakit,

Mohon maaf Sari juga belum bisa mengucap maaf secara langsung kepada om dan tante di Wanci, padahal sudah lama sekali saya tidak main kesana,

Mohon maaf buat teman-teman di SD-SMP-SMA-kuliah (S1 dan S2) dan teman-teman Maverick saya nggak bisa ikut reunian.

Mohon maaf buat teman-teman yang tidak bisa saya hadiri pernikahannya dan acara kelahiran bayinya.

Dan terutama,

Mohon maaf buat Papa, Ijeng dan Ajeng.

Salam “Semoga kita semua kembali suci”

-Ludi-

Advertisements

2 thoughts on “Ramadhan 1433 H – mohon maaf lahir dan batin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s