Taiwan again, Finally.

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh,

Jreng.. Jreng..

Cerita saat saya liburan di Taipei akhirnya jadi juga,

Jujur, saya ingin sekali suatu saat balik ke Taiwan dalam rangka jalan-jalan, namun, sesuai dengan tulisan saya sebelumnya, bahwa sebenarnya tidak memungkinkan buat saya summer ini untuk terbang kesana. Pertama adalah masalah dana, kedua adalah masalah waktu yang harus saya habiskan untuk membuat visa, karena waktu itu setahu saya untuk membuat visa hanya bisa dilakukan di Taiwan Embassy di Seoul. Sedangkan saya buta Seoul. Jadilah saya waktu itu hanya bisa bermimpi indah saja tentang kepergian saya ke Taiwan. Akan tetapi, rupanya saya justru dimudahkan untuk pergi ke Taiwan, mau tahu apa saja?

  1. Saya dapat sponsor (mutlak perlu bila anda ingin bepergian dengan kondisi serba kurang seperti saya), apakah sponsor tersebut dari dompet professor, dompet ortu, dompet teman, dompet pacar/suami, atau pun dompet sendiri.
  2. Ternyata Taiwan Embassy ada juga di Busan, hanya 50 menitan naik subway dari kampus, dan gedungnya persis di depan pintu keluar.
  3. Ada yang bisa saya pinjami duit untuk jaminan saat bikin visa (terima kasih teman-teman ^^)
  4. Saya dapat tiket PP Korsel-Taiwan sebesar 9000 NTD saja
  5. Saya dapat ijin libur dari Professor (walau hanya satu hari)

Dengan kemudahan-kemudahan yang saya dapat itu, saya merasa rugi kalau tidak berangkat. Siapa yang setuju angkat tangan? 😛

Saya akui, saya tidak memilih tanggal keberangkatan dengan bijaksana, karena di Taiwan waktu efektif saya “hanya” satu hari. Saya berangkat dari rumah tanggal 18 Agustus pagi dan berangkat dengan menggunakan bus yang turun langsung di Incheon International Airport, yang memakan waktu sekitar 5 jam perjalanan. Dan pulang tanggal 20 siang dari Taoyuan International Airport dan memakan waktu yang sama lamanya dari Incheon ke Busan, dan benar-benar touchdown di rumah jam sebelas lewat. Gempor? Jangan tanya. Gempor beeuuuddd. Belum lagi, sebelum berangkat saya masih harus menunaikan tugas memasak, karena teman-teman mau berjualan di bazaar Idul Fitri Masjid Busan. Rasanya energi saya habis terkuras dan belum bisa terisi penuh lagi saat ini. fiuh.

Tapi apakah perjalanan yang melelahkan tersebut tidak menyenangkan? Hoooo, tentu tidak. Saya senang sekali. Apalagi ini pertama kali saya pergi ke luar negeri dari luar negeri sendirian dengan gaya ransel (literally, nggak bawa koper). Kurang 10 hari saya berangkat, saya sudah repot masukin baju ke tas ransel (yep, hanya seransel aja bawanya plus oleh-oleh di kresek terpisah), bikin rencana perjalanan, menghitung uang yang dibutuhkan untuk ke/dari Incheon, dan sebagainya. Tiket, visa dan uang asing yang dibawa? Sudah saya siapkan sebulan sebelumnya. Karena saya nggak mau lagi ketinggalan atau kelupaan nge-print E-ticket 😛

H-1 sudah merajuk minta diantar ke terminal bus buat beli tiket karena takut kehabisan. Alhamdulillah Mbak Dininya sabar mengantar, padahal ada acara bersih-bersih lab hari itu. Sabtu pagi, saya juga rewel minta diantar oleh Riska ke Terminal Bus (padahal sudah tahu tempatnya dan gate-nya) padahal malamnya Riska habis begadang mengerjakan proyek. Dan, tahukah anda saudara-saudara, saya sampai di bandara jam 15.00 kurang padahal flightnya jam 17.00 lebih. Mengurus imigrasi sampai akhirnya saya duduk di gate yang benar, jam masih menunjuk pukul 15.00. dan saya pun resmi ngaplo menunggu di bandara nomor satu di dunia tersebut. Haha.

Demi membunuh waktu dua jam lebih tersebut, saya menelpon Mbak Tun, memastikan, bahwa beliaunya siap menjemput saya dan siap pergi ke tempat tujuan pertama saya hari itu. Kemudian menelpon Riska, menanyakan urusan masak-memasak. Menelpon Papa, yang tidak diangkat-angkat karena ternyata sedang di jalan, mengantarkan titipan saya ke teman yang mau kembali ke Korsel. Menelpon Ajeng, juga nggak diangkat (karena hapenya nggak dibawa, saya rasa). Semua itu nggak lebih hanya memakan waktu setengah jam saja. Mati gaya lagi, saya pun membuka novel “Eat Pray Love” yang dititipkan Mbak Dini untuk temannya Mbak Sryang di Taipei. Alhamdulillah, bacaan ringan tentang seseorang yang berusaha mengenali dirinya sendiri itu membantu saya untuk melewati waktu menunggu yang super panjang itu.

Tiba saatnya masuk pesawat, saya pun mengantri dengan rapi supaya bisa masuk pesawat. Agak kecewa saat memasuki pesawatnya, karena kecil. Besarnya hampir sama dengan pesawat yang membawa saya dari Surabaya ke Kuala Lumpur (untuk transit dan melanjutkan ke Incheon). Bersiap-siap dengan perilaku pramugari Korean Air yang kurang ramah, lagi-lagi saya harus kecewa, karena mereka semua sangat ramah dan murah senyum. Walaupun tidak ada monitor televisi untuk mengusir bosan di atas pesawat dan buku tidak bisa terbaca dengan baik karena pesawat yang bergetar-getar, namun saya mendapatkan teman mengobrol yang luar biasa ramah. Uugghh, saya mengutuk kemampuan saya dalam mengingat nama orang. Beliau adalah wanita Taiwan, yang berasal dari Hsinchu, yang bekerja di Science Park (catatan: menurut yang saya dengar, orang-orang yang kerja disana tajir semua). Beliau dan teman-temannya sedang transit di Incheon untuk kemudian meneruskan kembali perjalanan ke Taiwan, dan mereka baru pulang berlibur dari Turki selama 11 hari. Melongo? Saya melongo berulang-ulang di hadapan Miss tersebut. Kemudian, beliau pun malah mengobrol lebih banyak ketika tahu saya berasal dari Surabaya. Obrolan kami mengalir dengan lancar, mulai dari kesan-kesan selama di Turki sampai kaum aborigin di Australia. Absurd sih, tapi lumayan lah daripada bengong. Sesampainya di Taoyuan, saya pun tersenyum-senyum sendiri karena berhasil mencapai tempat tersebut. Dan senyum saya hilang saat saya harus mengantri di imigrasi dan diserobot oleh sesama orang Indonesia berpakaian mentereng. Alhasil, saya harus menghadapi omelan Mbak Tun karena waktu kami mepet sekali untuk mencapai tempat tujuan wisata saya yang pertama. Warung Niuromien halal.

Sungguh suatu perjuangan untuk mencapai Warung Niuromien Halal tersebut. Betapa tidak, setelah saya ditegur oleh mbak-mbak yang menjemput saya (Mbak Tun, Mbak Ervin dan seorang TKW) karena kelamaan mengantri di imigrasi, lari-larian di airport demi mengejar bus yang setengah 8 malam, kebingungan menjelaskan kepada supir taksi, dimana MRT Sun Yat Sen Exit 2 itu (dan ternyata spelling-nya berbeda bila menggunakan bahasa lokal), sampai akhirnya lari-lari juga ke warungnya, supaya sampai disana jam 8.30 malam, karena tepat jam 9 malam warungnya tutup dan tidak menerima tamu lagi. Dan ketika semangkuk mie tersebut terhidang di meja, Masya Allah, rasanya enak sekali, sampai saya terharu dan ingin menangis (padahal kuahnya tawar, kalau dibandingkan dengan kuah odeng 😀 ). Demikian juga dengan beef dumpling-nya, juga roti dan cah sayur yang dihidangkan. Saya, Mbak Tun, Mbak Ervin dan Upi kenyang sekali dibuatnya. Keluar dari warung tersebut jam 21.20, yep, tidak sampai satu jam kami disana karena kami malu telah menjadi tamu yang paling akhir selesainya. Usai makan di warung halal tersebut, saya memutuskan untuk langsung ke NTUST untuk mengantarkan titipan dan oleh-oleh. Berhubung waktunya mepet, saya sudah tidak mau lagi menggotong-gotong titipan dan oleh-oleh tersebut kemana-mana esok harinya. Jadilah, saya memberi surprise kepada beberapa teman yang tentu saja, tidak mengharapkan kehadiran saya disana. Lumayan seru, walaupun singkat. Alhamdulillah, ada Diana dan Mbak Irma yang mau saya titipi barang-barang tersebut disela-sela kesibukan mereka menyiapkan hidangan lebaran.

Singkatnya, hari pertama saya habiskan dengan lumayan melelahkan, tapi, demi melihat teman-teman yang bisa saya jumpai lagi setelah setahun tidak bertemu, rasanya priceless. Saya tidak berlama-lama di NTUST, karena bus terakhir yang menuju tempat saya menginap terakhir datang jam 23.00 tepat. Berhubung ini jalan-jalan edisi kere, dan supaya tidak membuat gaduh di dormitory, diputuskan untuk menumpang tidur di tempat lain. Tentu saja secara cuma-cuma. Eh, bayar ding, bayar “memberi makan peliharaannya yang punya rumah”. Seekor kelinci lucu bernama Jojo. Setelah berhaha-hihi berlima (ketambahan Mbak Lisa) akhirnya saya berangkat tidur lewat tengah malam. Dan saya nggak tahu, semalam (sepagi) apa yang lain berangkat tidur.

Esok harinya, usai sholat shubuh, kami berempat bersiap-siap untuk berangkat sholat Ied. Setelah mencari tahu, pukul berapa Sholat Ied-nya berlangsung, sarapan, dandan (yang dandan) kami berangkat ke Taipei Grand Mosque. Subhanallah, panas sekali pagi itu, namun tetap tidak menyurutkan semangat muslimin disana untuk meneruskan Sholat Ied. Usai Sholat Ied, kami pun bersalam-salaman dan mendapatkan snack dari pihak masjid. Di hall masjid (seperti ruang serbaguna yang luas) ada juga hidangan yang lain, seperti es krim. Saya bertemu lagi dengan teman-teman yang semalam saya temui, ditambah dengan teman-teman yang malam sebelumnya pergi menonton kembang api sehingga belum sempat bertemu. Kangen-kangenan, bercerita, berfoto (seriously, I am so embarrassing about it). Kemudian, teman-teman NTUST pun kembali ke kampus dan menyantap hidangan lebaran yang sudah disiapkan hari-hari sebelumnya oleh Diana dan Mbak Irma. Sedangkan kami berempat pergi bersilahturahmi ke rumah Kepala KDEI yang baru (even if I don’t know who he is). Alhamdulillah, hari yang panas tersebut terbayar oleh hidangan lebaran yang lezat di rumah bapak kepala. Kami yang mahasiswa-mahasiswa ini, senang-senang saja disuguhi yang demikian. Hehe.

Usai bersilahturahmi di rumah bapak kepala KDEI, teman-teman mengantarkan saya pergi ke Miramar, karena selama setahun saya di Taiwan (dan berkali-kali pergi ke Miramar untuk nonton) saya belum pernah sekalipun naik Ferris Wheel. Dan saya (yang entah sejak kapan) suka sekali naik bianglala, ingin sekali naik. Berhubung Mbak Tun phobia ketinggian dan Mbak Ervin sudah bosan naik benda tersebut, tinggallah saya dan Upi yang naik bianglala-nya. Senang? Jangan ditanya, senang sekali. Saya nggak bilang saya nggak takut ketinggian. Diwaktu-waktu tertentu saya juga takut, tapi saya terlalu senang untuk merasa takut. Jadi ya, senang sekali. Usai dari Miramar, mereka semua mengantar saya untuk naik yang satunya lagi. Puncak gedung Taipei 101. Sayangnya Upi sudah capek sekali, sehingga saya sendiri yang naik sampai ke atas. Agaknya keputusan Upi masuk akal juga, karena saat saya membeli tiket, saya mendapat nomor antrian yang mengharuskan saya menunggu selama satu jam. Tapi, saya terlalu senang untuk merasa capek atau bête karena mengantri, dan akhirnya dengan menggunakan moda lift berkecepatan 1010 m/min itu, saya mencapai ruang observasi di lantai 88 dan 89.

Masya Allah, pemandangan langit sore itu sungguh luar biasa. Dari atas Taipei kelihatan begitu kecil. Bukit-bukit begitu indah bagaikan mangkok-mangkok terbalik yang disusun rapi. Cahaya sore yang menembus awan bagaikan kelambu yang berkibar-kibar karena terkena angin sore. Beberapa benda khas Taiwan pun dipamerkan di tempat tersebut, namun karena saya lebih tertarik observasi dari atas, saya seolah terhipnotis untuk berlama-lama di bingkai jendela. Setiap sisi saya coba nikmati. Tidak peduli apakah saya sendiri, atau dilihat dengan anehnya oleh pengunjung yang lain. Objek lain yang menghipnotis saya adalah Wind Damper yang dipamerkan dalam suatu ruang khusus. Saya sendiri betah berlama-lama di depan monitor yang menjelaskan tentang Wind Damper yang dipakai oleh gedung Taipei 101 tersebut. Damper setebal 41 layer, setinggi 5 lantai, Diameter 5,5 meter dan berat lebih dari 600 ton tersebut mampu mengurangi goyangan bangunan sebanyak 40%. Entah karena saya orang sipil, atau karena saya katrok, atau karena saya memang dipenuhi adrenalin yang membuat saya excited, hingga saya bisa ber-wow berulang kali di depan replika damper tersebut. FYI, wind damper juga digunakan di bangunan-bangunan pencakar langit lainnya seperti Menara Petronas dan Trump Tower. Keren ya? Hehe.

Di lantai 88 (itu tadi di lantai 89) ada pameran animasi tentang festival-festival di Taiwan, serta ruang pameran Coral Gem. Coral Gem adalah batu mulia yang terbuat dari koral laut. Namun, karena koral yang seperti ini sangat langka, perhiasan yang dihasilkan pun pasti dibanderol dengan harga yang sangat tinggi. Jaman dahulu, hanya keluarga bangsawan saja yang mampu membelinya. Tapi bila teman-teman penasaran, ingin beli juga, jangan khawatir, disini juga ada konter-konter yang menjual. Untuk harga, mohon maaf, saya nggak berani mengintip, takut kebakar bola mata saya saking mahalnya 😛

Turun dari ruang observasi, sekitar pukul setengah 6 sore, diluar masih terang sehingga masih bisa mengambil gambar rumah-rumah bunker yang sekarang dijadikan taman oleh orang-orang (CMIIW please). Disana juga ada Simple Market, semacam bazaar yang menjual aneka kue dan minuman untuk para pengunjung yang kebetulan menghabiskan sore disana.

Sebetulnya jadwal selanjutnya adalah Enjoy Kitchen, sebuah restaurant halal yang menyajikan burger dan masakan barat lainnya. Enak sekali. Sayangnya, rencana tersebut harus digagalkan, karena Mbak Tun harus bersilahturahmi ke rumah temannya, dan saya harus mengambil titipan untuk teman di Korea (mbulet kan? :P). Saya putuskan untuk mengambil malam itu juga agar tidak tergesa-gesa keesokan harinya saat ingin berangkat ke bandara. Kebetulan, malam itu, teman-teman lagi-lagi makan bersama dan berkumpul. Jadilah malam itu saya menjadi sumber tontonan baru sembari makan, selain TV. Alhamdulillah, malam itu kurang dari separuh yang saya kenal, dan bertanya tentang ini itu. Pertanyaan yang paling banyak disampaikan adalah “Enak mana hidup di Taiwan atau di Korea?” dan “Gimana S3 di Korea? Susah?”. Capek menjawab sih, tapi senang. Karena setelah itu saya bertanya kabar tentang yang lain. Bertukar cerita. Dan malam itu saya berhasil merangkum cerita-cerita paling hot sepanjang tahun, dan merasa seperti masih berkuliah disana. Alhamdulillah.

Sesuai jadwal, jam sepuluh pagi hari senin, saya berangkat dari rumah tempat saya numpang tidur ke Taoyuan Airport. Kali ini hanya berdua dengan Mbak Tun (akhirnya).  Sepanjang jalan lebih banyak lagi cerita yang saya dapat, dan lebih seru lagi diskusi yang berlangsung. Tapi sekali lagi, agaknya saya memilih waktu yang kurang bijaksana dalam berkunjung, sehingga saya merasa masih belum menunaikan “tugas suci” saya disana. Dengan menggunakan pesawat, sekitar jam 2 siang saya resmi meninggalkan Tanah Formosa untuk kembali ke Negeri Ginseng. Beda dengan pesawat yang membawa saya ke Taiwan, pesawat pulang jauh lebih besar dan ada tivinya (dan pramugarinya ramah-ramah semua, beda dengan yang saya dengar). Dan selama kurang lebih dua jam tersebut, saya dibuat terkesan oleh film kartun The Lorax. Sesampainya di Incheon, demi menghemat waktu, saya memutuskan untuk naik KTX dan membayar kurang lebih 60200 won (sekaligus kereta yang mengangkut saya dari Incheon ke Seoul Station non-stop). Sampai di Busan Station jam 22.12 dan saya meneruskan perjalanan sampai ke rumah dengan menggunakan subway. Sekitar pukul 23.00 saya sampai di rumah. Tidur dan Teler.

Walaupun belum pernah ke Chiang Kai Sek, Yilan, apalagi ke Hualien, tapi saya tetap bersyukur karena saya sekali lagi, bisa pergi ke Taiwan. Tempat yang walaupun banyak teman Indonesia-nya, tapi justru menjadi turning point saya.

Eit, nggak boleh ngomong gini, kan belum tahu, Korea Selatan bisa memberikan kesan seperti apa di hidup saya, betul?

Jadi, ada yang mau jadi sponsor supaya saya bisa ke Taiwan, sekali lagi?

*siap-siap dilempar sapi..

Salam-dapat oleh-oleh – jerawat

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s