“Innocence of Muslims”- luka lainnya bagi kaum muslim

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh,

Yang saya tulis ini merupakan isu yang sangat sensitif, dan awalnya saya cenderung enggan untuk berkomentar. Tapi tulisan ini saya buat untuk mendampingi artikel yang saya link dengan post ini, bukan untuk mengulas jalan cerita filmnya atau menaruh link dari film tersebut (yang sangat mungkin malah menambah popularitasnya). Terus terang sampai saya menuliskan tulisan ini saya sama sekali belum melihat video tersebut. Dan setelah saya membaca artikel ini dan ini, saya sungguh bersyukur belum melihatnya. Tidak terbayangkan betapa marahnya saya usai menonton film “Innocence of Muslims” itu. Tidak terbayangkan betapa bodohnya reaksi yang saya keluarkan usai menonton. Dan tidak terbayangkan betapa menyesalnya saya atas reaksi bodoh yang akan saya keluarkan.

Sebagaimana dituliskan dalam artikel yang berjudul “Hate video, Muslim protests and dignified responses” via situs Aljazeera, umat islam tentu marah saat ada yang melakukan penghinaan terhadap Rasulullah, dan mencitrakannya dalam wujud apapun merupakan bentuk penghinaan. Bukan karena umat islam menyembah Rasulullah S.A.W namun lebih karena kami mencintainya. Kami harus mencintainya. Rasulullah tidak terganti bagi kami, beliau adalah Nabi akhir zaman kami. Jadi, tidak seharusnya beliau digambarkan baik dalam gambar yang mati atau dalam tokoh manusia apalagi dengan jalan cerita yang sama sekali tidak lucu itu.

Mereka menyerang kita dengan cara yang pintar, jadi sebaiknya kita balas dengan cara yang jauh lebih pintar, bukan lebih kasar.

Saya sebenarnya menyayangkan pihak-pihak yang tidak berfikir panjang saat tersulut amarahnya sehingga menimbulkan banyak kerusakan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pihak-pihak anti-islam memang tahu bagaimana cara menyakiti hati muslimin sedunia sekaligus membuatnya terlihat hal-hal yang terjadi adalah seratus persen salah umat islam. Because it is their job. Tentu saja mereka menghendaki reaksi keras macam ini terjadi, mereka “memulai duluan” karena tahu bahwa umat islam akan bereaksi sangat keras sehingga bisa menaruh cap “radikal” dan “fanatik sempit” pada umat islam. Sehingga umat islam yang perlahan memperoleh simpati dan tempat di hati warga dunia, kembali terkucil karena ulah sebagian orang yang disorot tajam oleh berbagai pihak.

Baiklah, sebelum tulisan ini jadi lebih memprovokasi, sebaiknya saya cukupkan saja. Selamat membaca artikelnya. Semoga menjadi pengingat bagi saya agar mampu berfikir lebih jernih dalam merespon provokasi, apapun itu.

Semoga kita semua semakin pintar dan tidak mudah diadu domba.

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s