anak ESEMKA, ayo kerja lebih keras lagi!

Assalamualaikum warrahmatullah wabarakaatuh,

Habis ngobrol sama seorang teman di blog sebelah tentang kurikulum, membuat saya teringat akan Mobil ESEMKA. Yup, mobil kontroversial yang itu. Monggo dicek di Google tentang polemiknya. Setelah membaca beberapa artikel tentang mobil tersebut, barulah saya sadar mengapa beberapa orang memandang sinis para petinggi negara yang kontra dengan proyek ESEMKA ini. Dan saya setuju dengan yang kontra dengan kasus ini.

Eits, jangan negative thinking dulu

Mengapa saya setuju dengan yang kontra? Alasan utama saya karena pelajar-pelajar SMK yang masih baru menekuni dunia otomotif itu sangat butuh untuk dibuat sakit hati. Sakit hati yang positif, sakit hati yang mampu membuat mereka bersemangat untuk bekerja dan sakit hati yang mampu membuat mereka berkarya sampai apa yang disorak soraikan sebagai “mobil nasional” itu benar-benar terwujud.

Salah satu permasalahan dalam dunia pendidikan Indonesia adalah kurangnya tenaga pengajar yang punya passion. Punya gairah mengajar yang mampu mengimbangi rasa haus akan ilmu dari murid-muridnya dan memiliki kekinian terhadap apa yang diajarkan. Kesampingkan korupsi dalam masalah ini, pasti kita akan melihat, sedikit sekali pengajar yang berdedikasi untuk “mencerdaskan”, bukan hanya “mengejar target”.

Mengapa “mengejar target”?

Karena orang Indonesia terbiasa dengan segala sesuatu yang instan, sehingga mereka suka memotong waktu untuk urusan “mempertimbangkan”. Coba ambil kasus mobil ESEMKA, begitu publik sudah mengetahui bahwa anak-anak SMK 2 Surakarta mampu merakit (bukan membuat sendiri onderdilnya) sebuah mobil, pikiran semua orang langsung tertuju pada “bagaimana membawa mobil rakitan ini pada tingkat yang lebih komersil” alih-alih mempertimbangkan “bagaimana membuat program yang serupa di SMK lain di seluruh Indonesia, sehingga penelitian lebih lanjut mampu terlaksana”.

Alhamdulillah, ada orang cerdas yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontra sehingga instan-isasi urung terjadi. Benar, bahwa mobil ESEMKA harus melewati beberapa uji kelayakan sebelum dilepas ke publik, karena memang demikian kode etiknya (undang-undang pemerintah dan peraturan terkait lainnya). Benar, bahwa mobil ESEMKA itu sebaiknya tidak dinamakan sebagai mobil nasional karena pada kenyataannya mobil tersebut DIRAKIT didalam negeri oleh tenaga kita sendiri, bukan DIBUAT dari nol di Indonesia (bisa merasakan perbedaannya?), bayangkan, bila sampai diproduksi massal tanpa prosedur yang benar, selamanya kita akan jadi olok-olok dunia otomotif dunia. Benar, bahwa butuh lebih banyak riset dan dana supaya kita bersaing dengan Korea dan Jepang, dan meniru mereka dalam urusan mengonsumsi produk-produk dalam negeri. Benar, bahwa seharusnya yang korupsi itu sadar, bahwa banyak sekali proyek serupa ini yang butuh diperhatikan, supaya mereka berhenti mencuri dari keluarga sendiri. Dan tentu saja, Benar, bahwa anak bangsa sangat patut untuk dihargai atas kerja keras dan keuletan mereka dalam menciptakan karya ini. Bila semua to-do list sudah selesai dikerjakan, baru angkat lagi pertanyaan, mengapa mobil ini tidak bisa diakui.

Lalu apa solusinya?

Menurut saya, kalau akhirnya mobil ESEMKA itu menjadi mobil nasional, jangan cepat senang. Jepang tidak mendirikan kerajaan bisnis otomotif dalam hitungan tahun, tapi puluhan sampai ratusan tahun. Sedangkan Korea, meniru yang sudah ada dengan sedikit inovasi. Coba pikirkan, dimana letak kita bila ingin bersaing? Apa keunggulannya? Belum lagi mereka berdua, sangat amat menilai tinggi mobil-mobil dalam negeri sehingga walau konsumtif (cepat ganti mobil) mereka mampu memutar dana untuk improvisasi yang lebih banyak. Sanggupkah yang seperti itu diterapkan dinegara kita?

Jangan terlena dengan ucapan salah satu pengunjung dari negeri sakura yang bertanya “Kapan mobil ini akan diekspor ke Jepang?”. Karena rasanya itu cenderung terdengar seperti olok-olok. Pengunjung tersebut adalah pemain lama dalam bisnis otomotif di Jepang, dan sudah mengetahui bahwa mobil tersebut adalah rakitan, dan masih tidak mau memberikan kritik? Hoho, itu seperti penjajahan model baru buat saya. Kita dibiarkan bermimpi indah dan merasa aman dengan satu kalimat manis. Pikirkan juga, kenapa dia berkata “Saya tidak tahu apa bedanya mobil ini dengan mobil buatan jepang”. Kalau karena kualitas yang serupa, bolehlah bangga. Kalau bukan?

Pun, kalau proyek ini berhenti, jangan sedih dan putus asa. Balaskanlah sakit hati dengan mencari tahu lebih banyak lagi. Mandiri dan berani. Bukankah bila ingin menang pada akhirnya kita harus menjadi hard worker sejati? 😀

Last but not least, mengenai kurikulum yang berubah, saya percaya ilmu pengetahuan model apapun itu pasti bermanfaat, sebanyak apapun porsinya. Dan pasti Kemendiknas tidak “ngawur” dalam menetapkan kurikulum melainkan dengan pertimbangan yang banyak. Bukannya saya pro-pemerintah atau menunjukkan nasionalisme saya. Tapi saya percaya, anak Indonesia adalah anak-anak cerdas dan ingin maju. Jadi, bagaimanapun bentuk kurikulumnya, mereka pasti tidak akan segan untuk belajar dan bekerja keras. Dan saya penasaran, dengan kurikulum yang baru mereka menjadi generasi yang seperti apa.

Walau ini bukan hari pendidikan nasional atau hari anak nasional, tapi saya ingin berkata,

“Semangat terus dalam belajar. Tidak ada mimpi yang tidak terwujud bila kita bekerja keras”

 

Salam-ayo-jadi-lebih-cerdas

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s