Curhat Ph.D (1): Kehidupan Ber-Sosial Media, sedang dikorbankan atau sedang dikembangkan?

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh,

Buhuuu, nyolong waktu sejam buat nulis di blog itu rasanya sesuatu. Karena udah nggak sempet lagi nge-fesbuk atau nge-twit. Baca news feed atau timeline sekarang ini seperti tindakan kriminal buat saya. Pahit memang, tapi ya sesakit inilah kehidupan ber-sosial saya sekarang. Ini adalah konsekuensi. Ini adalah pilihan hidup. Yang terpenting, ini murni keputusan saya, jadi saya bertanggung jawab sepenuhnya.

Like “The Birds” but don’t need it, hate “The Blues” but they make me need it.

Rasanya beberapa hari lalu saya pernah ngetwit sesuatu yang sebelas dua belas dengan quote diatas. Tidak menuai hujan mention memang, tapi japri saya penuh tiap kali saya hidupkan. Bertanya, “Ludi, are you OK?” atau “What’s wrong?” atau “Aku mengkhawatirkanmu” atau “Ayo, beli es krim!”. Saya jadi merasa berdosa karena membuat teman-teman khawatir. Padahal saya nggak dalam posisi ingin loncat dari lantai 6 atau lebih parah lagi, ingin ngedorong professor saya dari lantai 5 (Naudzubillah). Saya bilang gitu murni semata-mata karena saya sedang tidak bisa berinteraksi dengan teman-teman di media sosial. Mari kita telaah satu-satu:

The Birds: Twitter

The Blues: Facebook

Dengan maksud tidak ingin menyebut merk, saya ingin mengatakan:

“Suka Twitter tapi nggak butuh, benci Facebook tapi mereka bikin saya butuh”

Mereka ini siapa? Siapa lagi kalau bukan teman-teman dan keluarga yang saya sayangi. Even my lovely Dad has Facebook page now. Saya suka twitter karena tampilannya yang simple dan karakter yang terbatas, belum lagi saya tidak harus mem-follow tiap link untuk membaca informasi yang saya butuhkan. Sedangkan Facebook sebaliknya, ribet, penuh, dan beberapa teman yang tadinya hanya personal page biasa mulai berubah jadi online shop, good for you dear friends, tapi saya jadi capek scroll down-nya, lama, lemot, dan sebagainya. Biasanya saya pakai Tweetdeck untuk melihat semuanya sekaligus, sayang, tidak bisa menambahkan fitur message FB disitu (atau saya yang tidak tahu caranya). Intinya, social life saya jadi pindah dan berpusat disitu, dan semakin lama, semakin banyak waktu yang saya habiskan untuk mengecek ini itu dan teman-temannya di kedua benda itu. Akhirnya, waktu untuk belajar atau setidaknya “mengembalikan konsentrasi saya ke jalan yang benar” jadi terpotong.

Untuk apa ke sia-sia an ini? Kenapa saya ada disini? Apa iya saya sudah mabuk koneksi sehingga kepinginnya terus-terusan buka ini itu?

Saya pun mulai evaluasi diri. Sejak setahun belakangan saya sudah membiasakan diri tidak mengeluh di Facebook dan memperbanyak “kalimat bersayap yang positif” di Twitter. Dengan kondisi saya yang sekarang (terhitung sejak dimulainya liburan winter Desember kemarin) saya sudah tidak punya waktu sama sekali untuk membuat “kalimat bersayap yang positif” untuk meramaikan dunia per-sosmed-an. Dan yang paling tidak saya sukai, kalau ternyata teman-teman saya di kedua media sosial tersebut seakan punya telepati dan mulai mengeluh berjamaah. Capek dan sedih bacanya. Sungguh. Tiap kali membaca yang terbersit di benak saya adalah “Malu ih, mo ngegalau, hidup saya nggak ada apa-apanya dibanding mereka, apa yang mau dikeluhin?” dan saat akhirnya ingin menasehati secara implisit, benak saya berkata “Mm, dinasehati macam mana ya? Tiap orang beda-beda sih cara mikirnya” dan setelah lama berpikir (dan biasanya berujung pada nggak nulis apa-apa), saya memutuskan, tiap orang pasti dapat masalah beserta solusinya masing-masing. Teman-teman saya sudah dewasa, bukan saatnya lagi “disuapin” solusi, apalagi pengalaman saya yang ecek-ecek, pasti ga butuhlah. Mereka pasti lebih “berkembang” bila dibiarkan berpikir sendiri.

Akhirnya, dengan didukung oleh hape lokal saya yang bukan smartphone, suka ninggal hape pinter dibawah bantal sebagai alarm dan sebaris prinsip bahwa “bumi bakal terus berputar walau saya nggak ada di FB atau twitter” saya pun menguatkan hati untuk meninggalkan pesan kepada khalayak di Facebook untuk menghubungi saya pakai japri bila membutuhkan saya. Dan saya resmi mencicil untuk keluar dari dunia maya demi mempertahankan kontinuitas kerjaan.

Sacrificing quality time with my far-away friends is actually hurt me deep.

Pasti tidak percaya bahwa saya susah mencari teman. Sejak kecil, saya ini egois dan susah bergaul. Saya memang bisa melucu, tapi bila tidak ada bahan pembicaraan saya akan diam sama sekali. Keegoisan saya sudah sangat terkenal di kalangan teman-teman. Dan hanya karena kebaikan Allah SWT semata-lah saya tetap punya teman sampai sekarang dengan sifat saya yang sejelek ini. Sebagai bentuk terima kasih saya kepada teman-teman saya yang nun jauh disana namun tetap mempercayakan cerita-cerita hebat dan rahasia kecil mereka kepada saya, saya bermaksud me-maintain hubungan tersebut dengan chatting secara kontinyu.

But, I have small weakness. I put too much empathy on them. Jadi ya, kalau mereka sedih saya ya sedih. Mereka marah saya ya marah. Mereka bingung, saya carikan solusi. Dan kalau mereka salah, ya saya marahi. Macam full-time supporter? Hehe. Begitulah. Papa saya sudah sering memperingatkan untuk mengurangi hal tersebut, karena sesungguhnya, saya ini perasa. Sehingga, ber-empati itu sejatinya berkontribusi banyak dalam menghabiskan energi saya lahir dan batin. Saya jadi tidak bisa konsentrasi, saya jadi tidak bisa kerja, baca apapun (bahkan komik) juga nggak ngerti. Kepikiran. Dan Alhamdulillah, lagi-lagi atas kebaikan Allah SWT saya memiliki teman-teman yang mengerti keadaan saya. Ketika saya sudah memutuskan untuk fokus pada kerjaan mereka sungguh pengertian. Rela chatting-nya saya jawab berjam-jam kemudian atau bahkan berhari-hari kemudian atau bahkan tidak sama sekali karena saya lupa. Dan mereka men-support saya sehingga saya tidak merasa bersalah. Toh, hidup mereka pun akan terus berjalan walau tidak ada saya. Dan suatu saat, mau atau tidak, saya pun akan pergi dari kehidupan mereka. Well, I hope this arrangement will make our relationship healthier ya! ^_^

Having more quality time with myself

Hampir semua teman saya tahu, bahwa kondisi terburuk saya adalah saat saya suntuk. “Aura membunuh” atau dalam bahasa gaul lokal disebut dengan “senggol bacok mode on” milik saya, mampu membuat satu rumah resah, nggak bisa tidur nyenyak, pengen pindah rumah dan ingin membunuh saya. Biasanya kondisi terburuk itu muncul saat saya buntu di lab atau merasa nggak berguna atau tidur terganggu padahal lagi sakit ataaauuuu ada orang yang melanggar teritori saya (semacam kucing :P). Ini aib, jadi sebaiknya tidak saya ceritakan lebih banyak. Hehe.

It’s a common knowledge, bahwa ketika anda sedang suntuk maka anda membutuhkan “me time” untuk menenangkan anda. Selama 20 sekian tahun hidup saya, saya sudah mencoba banyak hal untuk mengembalikan mood, dari mulai memanjakan tubuh di salon, belanja, curhat, dan sebagainya. Tapi buat saya, “me time” terbaik adalah ber-munajat. Saya teringat sebaris kalimat bahwa “Terputusnya munajat merupakan bencana besar” dan itu terjadi pada saya. Saya mengalami cranky yang tidak teratasi selama setahun belakangan dan membuat saya tidak bisa terhubung sama sekali ketika ber-munajat. What a huge-terrible disaster. Dan setelah saya memiliki kesibukan ini, saya jadi lebih bisa berkonsentrasi dan memikirkan segalanya pelan-pelan. Saya masih punya “aura membunuh” tapi saya berhasil mengontrolnya se-minim mungkin. Karena terbiasa fokus dengan kerjaan di lab, saya jadi lebih mudah fokus saat beribadah dan lebih mudah melihat “goal” yang saya tuju. Saya jadi lebih positif dan lebih “on track”, dan yang pasti lebih menahan diri untuk mengumbar kegalauan. Hehe.

Sacrificing or Developing?

Kita semua paham bahwa hidup adalah pilihan, dan setiap keputusan pasti diambil atas pertimbangan masing-masing. Saya sudah banyak mendengar kalimat “Sejak jadi mahasiswa Ph.D, si A jadi aneh” dan sebagainya. Saya siap menerima konsekuensi pahit tersebut, karena saya yakin giliran saya akan tiba untuk dikatain seperti itu. Setiap mahasiswa Ph.D akan menemukan sesuatu yang akan membuat mereka jadi aneh, both positively and negatively.

Saya juga belajar dari kejadian yang lalu-lalu, bahwa rasa sakit, baik lahir maupun batin, akan lebih sakit bila terus menerus disebut dan disebut. Apa kabar dengan sabar kalau kita terus mengeluh? Apa kabar dengan syukur kalau kita terus protes?

Tidak berarti saya harus menjadi gila karena memendam semuanya sendirian dan berakhir menjadi silence serial killer juga kali. Alhamdulillah lagi dan lagi, saya memiliki banyak sekali tempat curhat yang tidak melibatkan FB atau twitter. Ada papa dan adik-adik, ada partner in crime, ada bro(s), dan ada far-away friends yang selalu siap untuk mendengarkan dan siap menampar saat dibutuhkan

Saya sedang mengembangkan diri dan resiko pahit ini adalah proses. Saya tidak tahu, Allah SWT mau menjadikan saya apa, namun saya percaya, suatu saat “jatuh bangun” ini pasti berguna.

Saya mengorbankan kehidupan ber-sosmed saya agar saya bisa mencapai tujuan. Dan terakhir kali saya cek, tujuan itu belum berubah. If you are really my friends, you’ll know what I mean.

Salam-eh, ada salju lagi << pamer 😛

-Ludi-

Advertisements

4 thoughts on “Curhat Ph.D (1): Kehidupan Ber-Sosial Media, sedang dikorbankan atau sedang dikembangkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s