Curhat Ph.D (2) : Bertarung dengan homesick

Assalamualaikum warrahmatullah wabarakaatuh,

Current position: nyicil nulis blog sambil leha-leha habis setor progress ke professor 😀 (senin, 21 januari 2012)

Usai menulis curhat #1, japri saya jadi makin sering penuh dengan pesan singkat bertema “Ludi fighting!”. Matur nuwun nggih, terharu lho.

Anyway, kali ini saya mau buka rahasia tentang bagaimana rasanya bertarung melawan homesick selama hampir satu tahun disini.

For your information, saya tuh cengeng. Bukan rahasia buat teman-teman jaman di asrama NTUST dulu kalau saya hobi nangis di tempat tidur karena homesick. Mana keras dan sampai ketiduran lagi nangisnya, pokoknya ganggu banget. Salah saya sih memang, berangkat dengan niat belajar yang nggak 100% jadilah masih kepikiran ini itu dan easy to feeling blue kalau ada masalah yang nggak ada jalan keluarnya.

Nah, disini, saya memang ingin belajar. Dan saya harus memaksa diri saya untuk yakin 300% dengan alasan tersebut. Tapi bohong berat kalau saya bilang bahwa saya bebas homesick. Walaupun saya belum punya suami atau anak yang dikangenin, tapi saya tetap berhak doonng kangen sama rumah, sama Gresik, sama Indonesia. Biasanya kangen ini memuncak kalau perasaan “ingin lari dari kenyataan” a. k. a mutung-nya sedang besar (melihat paper yang isinya hampir-hampir sama dan nggak tahu harus ngapain itu sesuatu lho. Rasanya pengen nyelundup ke pesawat dan ngilang dari sini untuk selamanya :P).

Siapa yang nggak kangen masakan rumah, atau jalan-jalan ke mall yang ada tempat sholat yang bersih-lega-wangi, atau dengan mudah beli novel terbaru, atau nyobain masakan-masakan ajaib yang halal, atau beli kosmetik halal/aman dengan harga murah, atau belanja kain dan setor ke tante buat dijahitin, atau main sama kucing dirumah, atau olahraga dengan nyaman tanpa dipandangin seperti alien, atau datang ke nikahan teman dan kelahiran bayi mereka. Tapi semua “kangen” itu bukan tanpa obat lho. Ini niiihhh, obat versi saya.

Happy Cooking Time

Papa bilang masak itu seperti relaksasi, dan isi masakan itu hampir sama seperti isi hati kita. Jujur. Kalau biasanya masak dengan bumbu yang nggak ditakar terasa enak, kalau sedang gundah masak apapun walau bumbu ditakar tetap terasa kurang sedap. Ibunya Dewi (teman saya di NTUST) bilang, kalau masak nggak dikasih bumbu cinta, nggak bakal enak. Intinya masak itu harus senang dan bahagia, supaya bisa memberikan yang terbaik untuk yang menikmati masakannya. Masak jadi obat homesick saya, karena bisa membuat saya konsentrasi dan berpikir “gimana supaya makanan ini jatuhnya enak”. Perasaan gundah tentu harus disingkirkan dan resep tercocok harus dicari. Kondisi badan yang makan juga harus diukur, supaya makanan itu nggak hanya enak di lidah tapi juga enak di badan. Belum lagi, masak juga jadi obat kangen saya dengan masakan rumah. Walaupun parende, pindang, ikan bakar dan sebagainya nggak seenak bikinan Papa, namun memakan masakan tersebut memberikan rasa bahagia di hati saya walau sedikit. Apalagi kalau makannya sambil nonton film kartun dan ketawa-tawa, lebih bahagia deh.

Happy Talking Time

Wanita itu lebih suka didengarkan, daripada dinasehati. Tapi, saya agak nggak suka kalau hanya didengarkan dan ditanya “terus maunya gimana?” karena saya nggak suka hidup dengan perspektif saya kalau itu salah. Nah, disaat seperti itu saya harus memanggil partner mengobrol saya yang paling kompeten. Papa. Saya bersyukur, punya Papa yang bisa diajak diskusi tentang hampir semua masalah saya. Bila beliau terlalu lelah untuk berpikir maka beliau akan mengingatkan kepada saya untuk kembali pada Allah SWT dan meminta pertolongan. Bila saya mengeluh sedang buntu beliau akan mengeluarkan nasehat panjang di YM dan bercerita tentang hal yang bisa membuat saya tertawa. Kalau tidak ingin membuat Papa khawatir dengan kondisi saya, misal sakit atau bokek padahal pengen beli-beli, saya akan telpon adik saya supaya dimarahi. Benar, saya sadar (setelah besar-besar gini) bahwa dimarahi itu juga bentuk kasih sayang. Ijeng, si tengah, itu mirip seperti Mama. Jadinya kalau dimarahi sama Ijeng itu seperti dimarahi sama Mama. Biasanya kalau lagi kangen sama Mama atau ingin diwejangi kami akan janjian nelpon untuk saling me-wejangi satu sama lain. Nggak hanya keluarga, tapi teman-teman yang hobi memarahi dan menegur saya juga banyak. Kalau yang jauh-jauh biasanya saya jangkau dengan telpon atau chatting. Kalau yang dekat entah kenapa saya lebih nyaman untuk datang mengunjungi (karena saya yang butuh) lalu mengobrol berpanjang-panjang ria. Alhamdulillah, sampai saat ini banyak pilihan kalau ingin dimarahi. Hoho.

Happy Reading Time

Nggak asal membaca lho ini, tapi baca berita tentang Indonesia atau tentang Gresik. Dari info-info tersebut saya bisa tahu bagaimana kondisi tanah air dan kampung saat ini. Terancam tidak ada kesempatan untuk pulang sebelum lulus membuat saya harus memutar otak agar saat pulang bisa segera adaptasi. Jadilah saya baca-baca. Tapi membaca berita tentang Indonesia nggak melulu untuk kepentingan adaptasi saya atau sekedar agar nyambung kalau diajak ngobrol oleh teman-teman, tapi saya jadi bisa mencari tahu posisi saya sebagai warga negara ada dimana. Saya sering mendengar kalimat “orang pintar itu nggak dihargai di Indonesia” tapi bukan berarti saya nggak bisa cari posisi saya dimana to? Saya masih percaya dalam lubuk hati saya, kalau yang seperti itu tidak bisa digeneralisir. Dengan ijin Allaah SWT, saya akan menemukan tempat mengabdi saya. Widiww, berat omongannya. Udah ah, ganti topik.

Happy Gaul Time

Benaaaarrrrsss, berkumpul dengan teman-teman sesama perantauan itu obat yang ampuh juga buat homesick. Kumpul bareng, masak bareng, dan makan bareng. Biasanya agendanya seputar itu-itu saja sih. Entah kumpulnya di kampus, rumah, atau masjid. Tapi kalau dari sudut pandang saya tempat paling enak buat gaul adalah di masjid. Hehe. Kok gitu? Karena setiap kali ketemu mbak-mbak pahlawan devisa itu rasanya saya keciiiiilllllll banget. Kok bisa? Dipikir aja, beliau-beliau ini kerja dari muda untuk menghidupi keluarganya dan rela berjauh-jauhan sama mereka selama bertahun-tahun demi menyambung hidup. Lha saya? Seujung kukunya saja nggak ada mungkin. Bergaul sama mbak-mbak ini mengingatkan saya untuk nggak sombong dan mengingatkan saya untuk tekun belajar baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Mempelajari kedewasaan mereka dalam menghadapi tiap masalah dan berusaha memahami posisi mereka sehingga saya bisa lebih menempatkan diri. Semacam simulasi kalau suatu saat saya lepas dari Papa dan terjun ke masyarakat, biar nggak malu-maluin kalau ntar ngedampingi suami *ups.

Happy Du’a Time

Setuju to kalau nggak ada yang mengalahkan kekuatan berdoa? Karena memang hanya Tuhan yang bisa mengubah segala kesulitan kita jadi mudah. Baca qur’an dengan tartil, bangun malam, doa sepenuh hati, dan berpuasa sunnah itu juga obat hati yang efeknya kerasa dalam hitungan hari. Homesick pun demikian. Kangen dan do’a itu bisa berkesinambungan, bersambung, saling membutuhkan. Dengan do’a, selain hati jadi lebih ringan, kita juga bisa lebih ikhlas menjalani esok hari dan esoknya lagi. Langkah kaki lebih enteng, pikiran lebih tenang, konsentrasi pun jadi lebih tinggi.

Happy Diary Time

Coret-coret segala macam perasaan untuk dibaca lagi juga menenangkan kok. Semacam supplementary method dari FB dan Twitter dan mengembalikan curhatan-curhatan galau ke lembah asalnya.  Haha. Mungkin sekarang masih masa-masanya saya buat nggak bisa asal cerita lagi di sosmed, nanti kalau sudah “lupa daratan” mudah-mudahan tulisan ini bisa mengingatkan.

Homesick itu cuma satu dari sekian banyak penyakit yang ada solusinya. Papa bilang, jangan lebay kalau lagi homesick. Karena kalau bukan diri sendiri yang nolong, siapa lagi? Hoho. Begitulah.

“Hatinya dikuatin, kalau ada apa-apa ngomong sama Papa, jangan dipendam saja, kalau Papa bisa bantu pasti Papa bantu. Papa selalu berdoa setiap selesai Sholat supaya anak-anak diberi kemudahan selalu dalam menempuh pendidikan. Papa sudah bangga dengan apa adanya kalian” (Papa, 2012)

Salam-baru selesai setelah dicicil nulis selama seminggu 😛

-Ludi-

Advertisements

5 thoughts on “Curhat Ph.D (2) : Bertarung dengan homesick

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s