Ludi dan Galak ^_^

Assalamualaikum warrahmatullah wabarakaatuh,

Mihihi,,numpang ketawa dulu. Gila? Dikit. Agak takjub melihat reaksi teman-teman atas ke-online-an saya di dunia maya hari ini. Padahal sudah berusaha nggak memasang status galau, tapi tetap diartikan galau. Maafkan saya yang sudah membuat khawatir *bow 900

Jadi, sebenarnya waktu itu saya sedang makan malam sambil nonton drama korea, judulnya “Flower Boys Next Door”, dimana tokoh utamanya seorang pencipta game yang sangat terkenal. Dalam adegan yang tempo hari saya tonton, si tokoh utama ini diteror oleh seorang ibu paruh baya. Pasalnya anak remaja dari si ibu itu kecanduan main game dan jadi suka mengurung diri dikamar. Nah, terasa nggak anehnya dimana? Si ibu ini menyalahkan keberadaan si pencipta game atas ke-introvert-an anaknya dan meneror si pencipta game, alih-alih mencoba memahami aktivitas dan kesukaan anaknya akan game atau menasehati anaknya supaya nggak seperti itu. Disitu si heroine, mbak yang jadi tokoh utama, bilang ke mas pencipta game tadi,

“manusia, kalau udah nggak bisa nahan sakit/luka yang dia rasakan, cenderung suka menyalahkan orang lain hanya untuk membuat perasaannya lebih baik. Nggak nyelesaiin masalah sih, tapi, ya, manusia itu lemah”

Langsung terinspirasi untuk dijadikan status. Dan berakhir dengan hujan support dari mana-mana. Maaf (lagi) *bow

Inget nggak, hadist bilang apa?

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609)

Well, seperti halnya yang disebutkan dalam adegan drama tadi, manusia itu lemah. Makanya manusia itu susah buat berhenti mengeluh, nggerundel, ngambek, meratap, dan sebagainya. Makanya kita diajarkan untuk menahan amarah dan menjadi lebih kuat. Dimana-mana yang lebih kuat yang disenangi kan?

Marah, ngambek, menyalahkan orang lain apalagi sampai mencak-mencak di depan umum (Naudzubillah) itu nggak menyelesaikan masalah. Efeknya memang bikin perasaan lebih baik. Tapi ujungnya? Masalah jadi makin panas dan akhirnya pecah perang. Belum lagi kalau sebenarnya masalahnya ada di diri kita dan bukan salah orang lain gimana? Makin sombong dan nggak mau introspeksi diri sendiri dong?! (Naudzubillah, lagi).

Emang ludi bisa gitu nggak marah-marah?

Lah, saya ini terkenal sekali dengan predikat galak. Dari kecil sampai besar. Dari yang muda sampai yang tua. Laki-laki atau perempuan. Hampir semua orang pernah merasakan kegalakan saya. Walau Papa, Mama dan duo jengs sudah meminta saya supaya nggak galak-galak lagi, tapi tetep aja, kalau nggak suka saya jadi cenderung galak. Misalnya: janjian jam 7 datang jam 8, saya nggak suka dong, jadilah saya marah-marah. Terus lagi, waktunya orang tidur malah ada yang nelpon di kamar dan berisik sampai orang sekamar nggak bisa tidur, saya juga nggak suka, jadilah saya ngomel. Apakah keluarnya itu berupa kata-kata atau hanya sebatas tatapan tidak suka, intinya saya itu galak.

Tapi bukan berarti saya nggak berusaha buat berubah kan? Jangan khawatir, saya berusaha banget buat sembuh. Sejauh ini, progress saya lumayan sih. Masih nggak bisa menyembunyikan ekpresi wajah nggak suka (manyun dan merengut itu seperti punya auto-pilot mode, heran!), tapi paling tidak saya nggak gampang kalap dan teriak-teriak “Woi!! Punya otak gak sih??!”. << pembelaan 😀

Sebagai seorang manusia, saya pengen jadi lebih baik. Dan sebagai seorang muslim, saya berlomba dengan yang lain dalam mencapai kebajikan. Mau nggak mau, harus dicoba yang namanya menahan amarah ini. Selain istighfar yang banyak, menghindari sarana-sarana kegalauan juga wajib perlu saya coba supaya nggak kalap dan keceplosan. Kalau sudah pintar mengendalikan emosi dan tentunya nggak gampang terlena sampai ngelupain riset nih, barulah berselancar lagi.

Eh eh, saya nggak “mengharamkan” gaul di dunia maya lho. Sama sekali enggak.

Semua teman-teman saya yang super sibuk, hanya sempat bergaul di dunia maya karena memang nggak ada cara lain. Dan saya pun sempat menjadi penghuni tetap disitu karena memang, terasa bener manfaatnya (enteng di ongkos daripada sms, telpon, atau berkunjung langsung). Menurut pengalaman pribadi, nggerundel di dunia maya itu juga sarana untuk mengalihkan emosi, supaya yang kudu dimarahi nggak langsung kena semprot atau sebagai sarana, supaya yang dimarahin secara nggak langsung “kerasa” (yang setuju angkat tangan). Tapi, kalau sudah terlacak (seperti kasus saya) kalau gaul di dunia maya nggak membantu untuk jadi lebih baik dan malah memperparah ke-oon-an, mau nggak mau harus dikurangi to? Ibaratnya diet, si dunia maya ini coklat dan keju, kalau nggak mau gendut dan jerawatan, dikurangi dulu. Kalau teman-teman yang lain butuh “coklat dan keju” agar tetap “Sehat”, nggih monggo, kan kebutuhan “gizi” tiap orang berbeda-beda tergantung prioritasnya.

Saya ini manusia, dan saya punya kelemahan. Dan menggalau di dunia maya membuat kelemahan saya tambah lama tambah kelihatan. Apalagi, tangan saya ini pintar sekali nulis kata-kata yang menyakiti orang. Huhuuu, ngeri sendiri euy. Biarlah “tweet makjleb” saya yang biasanya hanya dinikmati oleh orang yang bersangkutan langsung. Nggak diumbar bebas, supaya orang lain juga nggak bebas mengartikan. Masalah nggak tambah panjang dan aib (baik milik saya ataupun orang lain) tetap terjaga, Insya Allaah.

Jadi, tweet saya yang kemarin sifatnya umum yaa, rekans, bukan curhat atau nyindir. Maaf kalau dianggap galau atau menyebabkan galau. Hehe.

Salam- maghriban dulu yes ^_^

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s