Curhat Ph.D (3): Ga to the lau :P

Assalamualaikum warrahmatullah wabarakaatuh,

Alhamdulillah, akhirnya bisa galau riset juga. haha.

Kalau kemarin-kemarin riang banget ngerjain riset, sampai-sampai nangis haru karena saya akhirnya merasa seperti mahasiswa, sekarang saya sudah mulai kerasa mual-mual, mules, susah tidur, susah makan, dan rasanya pengen jalan-jalan aja (entah mengapa terdengar seperti orang ngidam).

Sembari nulis kerasa lucu aja, saya bisa segininya sama riset. Nggak kebayang bener kalau saya bisa kayak gini, sampai disini dan ngerjain beginian. Saya nggak pernah ngebayangin diri saya bisa ada dibelakang meja dan menekuni kertas (baik paper atau oret-oretan) setekun ini. Sekitar dua sampai tiga tahun yang lalu saya takut beneeerrrr sama yang namanya kuliah phd. Serius, ngeliat semua orang bekerja dibawah tekanan seperti itu, saya rasanya pengen nangis. Pengen nangis karena berempati dengan mereka. Nah, ngeliat aja rasanya pengen nangis, apalagi membayangkan saya ada di stage ini.

Tapi seperti kata Pak Jamil Azzaini, kalau nggak dicoba dan dilatih, kita nggak akan pernah tahu kalau kita bisa. Rantai Gajah saya adalah “saya takut saya nggak bisa ngelaluinnya”. Padahal bukan itu alasan yang seharusnya saya pakai untuk memutuskan, jadi kuliah phd atau nggak. Setelah bertanya kesana kemari, minta nasehat sama para sesepuh, istikharah dan khususnya main jujur-jujuran sama hati saya, saya yakin, ini adalah salah satu jalan saya untuk meraih mimpi.

Jadi, karena sudah diputuskan, harus bertanggung jawab to? Harus dikerjakan dengan tekun, penuh kesabaran dan yang pasti dengan ikhlas. Mama selalu mengingatkan, apa gunanya mengerjakan pekerjaan berat-berat sampai keringat habis, kalau hatinya nggak ikhlas. Cuma dapat capek sama imbalan (duit atau ijasah) saja, pahala dan manfaat nggak ada.

Dan bertanggung jawab itu berat, sungguh berat.

Melihat teman-teman sebaya sudah punya rumah, mobil, pasangan atau anak sedangkan saya masih sibuk ngurus FRS/KRS/KHS dan ijasah itu rasanya lumayan nyesek. Kasihan sama Papa yang tambah tua, tapi menimang cucu aja belum. Jangan tanya apa kata keluarga besar soal kondisi saya, saya sudah kebal sama suara sumbang. Belum lagi, akibat kesibukan saya yang menuntut fokus 1000% kadang bikin saya kehilangan teman-teman. Seringkali saya takjub ketika teman atau sepupu saya sudah melahirkan, sedangkan saya nggak tahu, mereka kapan nikahnya. Seolah saya sudah nggak berada lagi di dunia yang sama seperti mereka.

Tapi kan saya nggak sendirian. Di dunia ini buanyyaaakk sekali yang senasib atau lebih berat daripada saya. Nggak usah jauh-jauh membandingkan diri sama saudara-saudara di Palestina, yang pasti seujung debu aja saya nggak pantas untuk dibandingkan dengan mereka. Ambil saja sample sesama mahasiswa di korea, banyak dari mereka yang lebih berat karena bawa keluarga, atau banyak juga di usia sekian masih single, atau atau gampang-gampangan aja, yang labnya jaaauuuhhh lebih “mbencekno” dari lab saya itu berjibun. Jadi, masih enak to saya?

Bertanggung jawab itu bagian dari bersyukur. Bersyukur karena diuji atau bersyukur karena mendapat sebuah anugrah? Yang manapun, yang penting bersyukur. Karena karunia itu memang datangnya ya dari dua jalan itu tadi. Seperti yang Papa selalu ingatkan, untuk naik kelas, ya harus diuji, karena itu patutlah kita bersyukur saat diuji karena kita mau naik kelas. Entah kelasnya naik di dunia atau di akhirat (lebih milih yang di akhirat sih). Insya Allah kalau mau bersabar akan memetik hasil buahnya yang manis.

Nanya lagi deh ke diri sendiri,

Dulu jaman SD kebayang bisa kuliah sampai seperti sekarang? Padahal berangkat les males-malesan dan sering bolos sekolah karena sakit, kebayang bisa kayak sekarang?

Dulu jaman SD waktu dijanjiin sama Papa bakal dikuliahin ke luar negeri dan akhirnya cuma tinggal janji (belakangan baru tahu kalau itu trik supaya saya mau berangkat les bahasa inggris), kebayang nggak kalau akhirnya kamu justru berangkat dari beasiswa?

Dulu jaman cuti waktu kuliah semester pertama dan pengen keluar aja dari kampus, kebayang nggak kamu bakal lulus dan terus lanjut dan lanjut aja sampai di tempat seperti ini?

Nah, Ludi! Kalau gitu udahan galaunya, sekarang kerja lagi. Memang nggak ada yang bisa ngasih tahu kamu masa depan itu kayak apa, tapi bukan berarti kamu berhenti berusaha. Cemen itu namanya! Cuma kamu yang tahu gimana caranya ngerjakan benda ini sampai selesai, karena ini tanggung jawabmu. Buntu? Ya berdo’a yang banyak supaya ditunjukkan jalan keluarnya. Kamu sudah pernah membuktikan kekuatan do’a dan kamu akan membuktikannya lagi. Yakinlah apa yang sudah ditakdirkan oleh Allaah nggak akan bisa ditebak apalagi diubah oleh manusia.

Ayok, dipantesin lagi dirinya supaya doa didengar. Ayok, digenjot lagi usahanya supaya cepet kelar. Yoookkkkk…

 

Salam-pengen video call-an sama Papa.

 

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s