Kajian Inspirasi Iman di TVRI “Rumah Tanggaku Surgaku”

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh,

Ujian kualifikasi semester ini udah beres, tapi saya masih belum bisa nyaman baca paper buat riset. Alhasil nonton video kajian deh. Cari-cari di Youtube Alhamdulillah ketemu sama video ini. Judul kajiannya “Rumah Tanggaku Surgaku” dan kajian ini menghadirkan narasumber seorang konsultan pernikahan. Karena sumbernya cukup kompeten saya pun yakin akan dapat knowledge lebih dari kajian ini, dan bisa jadi bekal buat saya yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki kehidupan tersebut.

Beluuuuuummmmmmm. Buat yang bertanya-tanya apakah Ludi bikin tulisan seperti ini karena sudah ada calon dan diam-diam sedang mempersiapkan pernikahan? Apakah ini hint? Apakah ini tulisan tersirat untuk si calon? Silahkan saja kalau mau dianggap demikian. Tapi, ya, Alhamdulillah si calon masih disimpan sama Allah SWT dan belum ketemu sama saya, jadi tulisan ini ceritanya ya hanya memperkaya knowledge, yang lain-lain buat bonus saja.

Bila ingin mendapatkan ilmunya dengan lebih jelas, sebaiknya memang nonton sendiri videonya, tapi disini akan saya review sedikit supaya poin-poinnya (dalam versi saya) lebih jelas. Jadi si konsultan pernikahan yang bernama Pak Indra Noveldy ini bercerita, bahwa bahkan untuk menjalani pernikahan, kita harus punya knowledge dan skill yang cukup? Mengapa? Agar saat kita menghadapi masalah ditengah jalan, paling tidak kita bisa tenang sehingga bisa berpikir dengan jernih dan punya pegangan yang bisa dirujuk saat ingin menyelesaikannya. Jadi intinya, istilah “go with the flow” ini tidak bisa sepenuhnya diterapkan, karena kalau kita bekerja keras tapi nggak tahu tujuan/hasilnya apa bisa membuat kita kehabisan bahan bakar dan berujung pada disaster ending. Pernikahan yang langgeng banyak, tapi apa mereka sudah bahagia? Nah, hal-hal seperti ini yang saya pelajari dari kajian tadi.

Trik-trik mudah untuk menciptakan keromantisan dengan pasangan dijelaskan oleh Pak Indra dalam acara tersebut sebagai contoh, walaupun saya pribadi agak sulit membayangkan karena belum berpengalaman. Sudah umum terdengar sih tips-tipsnya di banyak artikel, seperti jangan memberi energi sisa pada keluarga, keluar berdua untuk tujuan keromantisan, peka terhadap perasaan yang mulai memudar dan hal-hal semacam itu. Tapi (sekali lagi) karena saya masih lajang nih, ada beberapa poin yang kena banget dan Alhamdulillah pas untuk dimasukkan ke “ransel” saya sebagai bekal. Ini dia catatan pribadi buat saya:

 

Karena Allah.

Jadi konsepnya sudah jelas, bila keduanya saling mencintai karena Allah maka mereka akan menemukan cara untuk selalu hidup rukun, harmonis dan bahagia di jalan Allah. Mencintai karena Allah itu berarti Allah dulu yang dicintai baru pasangan kita. Pasangan itu termasuk harta benda di dunia, dan akan menjadi ujian cinta kita kepada Allah. Hal ini akan membantu sifat posesif (yang umum ada pada wanita) untuk berkurang. Terlebih lagi, akan membuat kita mempercayakan segala masalah kepada Allah dan menghindarkan kita untuk curcol pada sesama, yang mungkin bikin masalah kita makin berlarut-larut.

 

Bertanggung jawab dengan apa yang dipilih dan bukan menyalahkan keadaan.

Papa saya selalu berpesan bahwa melarikan diri dari masalah (menjadi pengecut) itu adalah perbuatan bodoh, karena itu malah akan memperburuk keadaan terutama setelah masalah-masalah baru muncul. Intinya, kita itu kalau hidup ya selalu ketemu masalah, masa mau lari sampai mati? Nah, begitu juga dengan menikah. Menikah itu bagian dari hidup dan tentu saja, masalah akan selalu ada untuk dihadapi. Ketika kita mulai ngeh bahwa ternyata pasangan kita memiliki kekurangan atau sesuatu yang tidak kita sukai, maka kita nggak bisa mundur begitu saja. Tapi bukan berarti kita juga harus serta merta mengaplikasikan konsep “Terima saya apa adanya”. Menerima apa adanya dan membiarkan kekurangan tersebut sampai berlarut-larut bukan lagi cinta. Itu akan menjebak kedua pasangan tersebut kedalam sebuah rutinitas yang bernama rumah tangga, sehingga ketika kesalahan atau kekurangan tersebut muncul, si pasangannya hanya bilang “Ah, dari dulu memang sudah begitu”. Hal semacam ini yang mengundang ketidak bahagiaan dan bisa jadi memancing perselingkuhan. Bila hal ini memang bisa dirubah, mengapa tidak? Kedua belah pihak pasti memiliki kekurangan, oleh karenanya keduanya harus tumbuh dan berubah ke arah yang lebih baik. Bukan berarti mereka menjadi orang lain, mereka tetap pasangan yang sebelumnya but in better version. Nah, siapa yang nggak mau?

Bila kita menemukan pasangan kita memiliki kesalahan, kita nggak boleh “menuntut” mereka untuk berubah, tapi menuntun. Nah, itu gunanya poin pertama tadi, saling mencintai karena Allah. Kalau nggak punya ilmu atau pedoman, susah kan ngajarin pasangan kita untuk berubah? Tapi bukan berarti setiap kali pasangan kita lupa atau salah kita langsung membombardir dengan ayat dan dalil. Itu namanya intimidasi. Apa enaknya punya pasangan tapi mengintimidasi? Skill untuk menyampaikan dengan baik juga harus dipelajari supaya kebaikan tadi bisa sampai ke hati dengan baik pula.

Disini saya banyak belajar, lebih tepatnya banyak menyadari. Manusia itu dinamis, bisa berubah. Tadinya saya takut, kalau saya punya pasangan yang saya pikir sudah ideal tapi ternyata ada sifat-sifat yang tidak bisa saya terima gimana? Saya nggak bisa mundur dong? Tapi dengan ilmu yang seperti ini, saya jadi sadar kalau yang seperti itu bisa diusahakan. Insya Allaah

 

Mengalah tidak menyelesaikan segalanya

Peribahasa “mengalah untuk menang” itu bisa sangat menyesatkan kalau dimaknai dengan berbeda. Pak Indra mengatakan, mengalah itu seperti pegas yang ditekan. Perasaan mengalah itu hanya memendam ego kita untuk akhirnya meledak. Mengalah untuk menang bisa berarti menyimpan dendam bila yang disembunyikan adalah perasaan tidak suka. Jadi ketika kita disakiti kita akan diam saja dan mengumpulkan semua perasaan tersebut sampai akhirnya suatu ketika ledakan amarah akan keluar begitu saja dan meluluh lantakkan segalanya. Mungkin amarah itu tidak meledak keluar, tapi kedalam, memancing segala macam penyakit dan akhirnya menggerogoti sampai kita meninggal. Naudzubillah. Lalu solusinya? Mengerti. Jadi, kita lebih disarankan untuk berempati, berpikir dari sudut pandang pasangan, merasakan dari posisi pasangan sehingga bersama-sama bisa mencari solusi dari masalah yang dihadapi. Segala hal dapat dikomunikasikan dengan baik, karena kalau mengalah maka ujung-ujungnya diam. Kemudian, apakah dengan diam masalah bisa dengan sendirinya selesai? Yakin? 😀

Harus dikomunikasikan dengan baik, agar suami istri tetap solid dan rumah tangga tetap berjalan di jalan yang semestinya. Ini membuat saya berpikir lebih banyak, karena saya harus mulai bisa mengikis keegoisan saya sedikit demi sedikit and make my future life works. Insya Allaah.

 

Suami + Istri = kita

Benar, haram hukumnya dalam pernikahan menyebutkan “Anakmu” atau “Ibumu”, karena itu menandakan kita mulai mengambil posisi yang memisahkan diri dari pasangan kita. Ketika menikah, orang tua dia akan menjadi orang tua kita juga. Apalagi anak-anak. Ketika mertua “ikut campur” dalam keluarga, maka suami istri harus solid dalam menyelesaikan masalah tersebut. Jangan sampai malah saling menyalahkan dan membuat pasangan memilih antara kita atau orang tuanya. Demikian juga dengan anak. Bila kita tidak sepaham dengan pasangan kita akan suatu hal, maka selesaikan terlebih dahulu baru diberitahukan didepan anak. Kesalahan kecil seperti itu yang akan terekam dalam kepala anak-anak kita dan dapat menyebabkan trauma. Suami dan istri harus berada di tim yang sama agar rumah tangga bisa tetap bersatu. Itu kuncinya.

 

Masa lalu itu penting.

Bibit, bebet, bobot itu bukan sekedar takhayul dan harus dimaknai bukan dari segi materi saja, tapi dari segi psikologi juga. Kepribadian seseorang terbentuk dari apa yang sudah dilaluinya. Ibaratnya papan kayu, kita harus tahu kayu jenis apa, tinggal di daerah mana, kelembapannya seberapa, sebelum bisa kita pakai papannya sudah dipoles sama apa, kalau kita nggak tahu dan salah dalam menggunakan, maka papan kayu yang harusnya bisa dipakai sebagai pintu selama 5 tahun bisa rusak dalam 5 hari karena kita nggak sengaja membuatnya terbakar. Masa lalu itu penting bukan untuk mencari senjata agar pasangan “takluk” sama setiap omongan kita, tapi agar kita bisa berempati, agar bisa mencari solusi, agar kita tahu bagaimana sebaiknya pasangan ini kita perlakukan. Masa lalu itu penting sebagai input kita untuk menghadapi masa depan.

 

Well, walau baru ilmunya doang dan nggak bisa langsung dipraktekkan tapi lumayan lah bisa nambah wawasan. Alhamdulillah nggak galau sama sekali setelah nonton, malah bersyukur saya masih dikasih kesempatan sama Allah untuk memperbaiki diri agar saya mampu dan siap menjadi seorang istri dan ibu. Saya nggak berharap bisa menjadi sosok yang sempurna (menurut standard orang kebanyakan) dan saya juga yakin pernikahan saya nantinya nggak mulus-mulus saja jalannya. Tapi saya yakin, semua itu pasti bisa dihadapi asalkan saya dan pasangan mempunyai tujuan pernikahan yang jelas dan matang sebagai patokan dan ilmu yang banyak sebagai alat untuk melaluinya. Insya Allaah.

Buat kakak-kakak yang mau nambahin supaya bisa jadi masukan yang bermanfaat bagi yang lain, boleh lhoo..;)

Salam-mari menikmati udara spring diluar

 

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s