Galaufull name, Saini.

Assalamualaikum Warrohmatullohi wabarokaatuh.

Siapalah saya ini pagi-pagi sudah bicara tentang romantisme. Apa coba yang mau dibahas tentang romantisme? Film? Drama? Lagu? Komik? Kucing dormitory yang suka ngeong-ngeong manja sama orang yang kasih makan? *salah fokus nih yang terakhir.

Saya nggak bisa mengatakan, bahwa saya adalah orang paling nggak romantis di dunia. Kalau lihat film, saya bisa membedakan kok, mana yang romantis, mana yang enggak. Saya juga paham kalau lihat teman saya lagi “digombalin” itu tanda bahwa pasangannya sedang berbuat romantis. Saya hanya lemot kalau semua yang difilm itu dipraktekan ke saya. Pasti nggak ngefek atau parahnya, saya nggak nyadar. Emang dari sononya agak ribet, kalau bermaksud bikin saya bilang “Aww, coo cwiiittt!”

Jadi, apakah hubungannya kata romantis ini dengan SAINI? *tatapan mata seperti presenter SILET.

Yap, SAINI memang nama orang.

Yap, SAINI memang biasanya nama cowok.

Yap, SAINI memang nama belakang papa saya.

Nope~ nggak ada hubungannya sama calon.

Oo, lagi cari sensasi toh? *hayo ngaku, sapa yang mikir gitu?! 😀

Sesungguhnya tulisan ini dibuat karena saya galau, enaknya pakai nama SAINI atau nggak dibelakang nama saya. Karena sebenarnya sudah lama saya ingin menghapus nama depan saya dari sosial media. Hasrat ini dipicu oleh banyaknya kasus penipuan dengan menggunakan nama orang (terutama yang unik dan gampang dikenali *tsah) yang berhubungan dengan jual beli. Tindakan pencegahan saja sebenarnya.

Lalu, kenapa harus SAINI? Kenapa nggak nunggu suami terus belakangnya dikasih nama belakang suami? Jadi kayak orang-orang barat gitu, sekeluarga nama belakangnya sama semua.

Ya, Alhamdulillah saya bukan orang barat. Saya muslim. Tinggal di negara yang plural, keluarga yang plural dan berkesempatan melancong ke negara minoritas muslim membuat saya terbiasa menjadi unik. Pakai nama belakang suami itu selain terlalu mainstream, juga nggak boleh dalam ajaran agama islam (monggo dirujuk ke Qur’an, Hadist dan Tante Google). Karenanya saya pengen ganti nama di FB atau twitter jadi Ludiansari binti Nu**rdin Saini. Tapi kok arab banget ya? Kan saya orang Indonesia ya?

Karena nggak penting, kebingungan ini kemudian terpendam dan mendekam di sudut otak saya yang paling dalam, sampai suatu hari papa saya nge-chat:

“Mbak, Papa cari di google, nama Saini ternyata ada banyak. Asalnya ternyata dari daerah India atau Gujarat sana. Dan mereka kayak punya komunitas nama Saini gitu. Saini korea juga ada. Kamu nggak pakai nama saini juga?”.

Ngakak dong.

Saya pernah mendengar bahwa keluarga papa yang di Sulawesi bukan turunan Sulawesi murni. Tapi ada darah Gujarat atau Persia-nya. Makanya mayoritas sepupu saya yang di Sulawesi hidungnya mancung semua (dan saya hanya kebagian hidung kucing Persia, kecil dan pesek). Sedangkan nama Saini ini, sudah berasal dari kakek saya, Saini Konde. Nah, nama itu turun temurun to, berarti?! Walaupun nggak bisa dibuktikan dengan teori, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa golongan Saini yang di India itu berhubungan dengan keluarga papa di Sulawesi. So, why don’t I use this name? *kemudian ada lampu neon nyala di kepala.

Kalau minus kali minus jadi positif, nah dalam logika saya saat itu nggak penting (versi saya) kali nggak penting (versi papa) sama dengan PENTING. Muncullah ide untuk pakai nama SAINI dibelakang nama saya. Dan kombinasi paling pas yang terlintas untuk nama di sosial media adalah LUDIANSARI SAINI. Cucok nggak tuh.

Terus yang bikin galau?

Setelah saya banyak browsing, saya menemukan bahwa sebenarnya SAINI itu bukan nama. Melainkan suatu golongan dari kasta ksatria di India yang dihormati. Nah, rata-rata didalam golongan itu memakai nama shoorsaini dibelakang nama mereka dan kemudian disingkat menjadi Saini. Ok, keyword “kasta” dan “ksatria” cukup membuat saya ngeri, karena saya nggak mau dikira orang hindu yang berkasta. I am a moslem, and my position in this world is same with other people. I don’t want to change that status, ever! Kalau besok-besok pas dihisab Rasulullah nggak mau ngakui saya sebagai umatnya gimana? Bayangan tersebut entah mengapa lebih ngeri daripada bayangan professor yang ngejar-ngejar paper SCI.

Kalau dengar nama, kita pasti kebayang orangnya kayak gimana kan ya? Sama, saya juga pasti langsung kebayang orangnya seperti apa, sifatnya kayak gimana, dan apa saja kontribusi mereka untuk orang banyak, kalau dengar nama kakek dan papa. Rasanya keren aja kalau pakai nama begituan. Apalagi, karena papa nggak punya anak cowok, nama itu nggak bakal diturunkan lagi. Stop di generasi kami aja, aku dan para jengs. Sayang sekali kalau nggak dilestarikan. Sungguh-sungguh nggak penting ya?! Tapi apa boleh buat. Kalau Allah jadi nggak cinta dan Rasulullah jadi benci, apa gunanya? Ya sudahlah, direlakan saja. Sementara yang nggak penting biarlah tetap jadi hal nggak penting.

“Ya Rabb, walaupun aku ingin sekali memakai nama keren itu, dan berharap menjadi seperti mereka, namun aku takut Engkau tidak akan mengenaliku sebagai kaum Muhammad, Ya Rabb. Aku nggak pede. Bila ternyata tindakan remeh ini jadi dosa besar, sedangkan amalan-amalanku masih di level cemen, maka aku takut adzab-Mu, Ya Rabb. Walaupun sedih karena nggak jadi pakai nama keren, aku relakan, agar Engkau ridha denganku”

salam-jangan tersinggung yak, saya cuma pengen bikin cerita lucu

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s