Selamat 12 Desember Mama

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh.

“Jadi Mama itu sedih lho mbak, kalau anak-anaknya sukses pasti dibilang ‘Wah, anaknya Pak XX pintar-pintar ya?’ tapi kalau anak-anaknya nakal pasti orang-orang bilang ‘Mbok e sopo to? Nakal men’”

Baiklah, saya akui, saya menjadi sedikit melankolis dan keingat hal beginian karena ini adalah ulang tahun kesekian (saya sudah berhenti menghitung) dari Almarhumah Mama. Mind me please, just wanna do something on my mom’s birthday 😛

Dialog yang menjadi pembuka tulisan ini kerap kali terjadi semenjak saya kecil sampai ABG. Bukan mau membuka aib bahwa Mama saya hobi mengeluh atas perannya dalam membesarkan kami. Hanya saja, entah mengapa terkadang saya merasa itu benar adanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa peranan wanita dalam membangun keluarga sangat besar. Tapi, penghargaannya apakah sebesar itu juga?

Bagi yang membaca tulisan ini dengan nada sinis, tolong sabar dulu, semoga lanjutan berikut ini dapat “mengademkan” kesinisan tadi.

Saya sadar, sepeninggal Mama, saya mengemban nama dan reputasi dari generasi Papa. Jujur, saya suka stress (pake banget, pake super, tingkat dewa,etc) kalau orang-orang memuji Papa (atau kakek atau yang lebih tua lagi) saya dan berharap saya bisa melakukan hal yang kurang lebih sama atau bahkan lebih. Bukankah hidup masing-masing orang berbeda-beda? Kalau belum-belum nasib orang sudah dipaksa, minimal di-judge, apa kabar qodo’ dan qodar?

Namun demikian, walau Papa yang selalu dipandang sebagai simbol kesuksesan dalam keluarga kami, entah mengapa segala macam pujian yang tulus selalu datang untuk Mama saya.

Ketika saya berkumpul dengan istri-istri kakak sepupu saya dari keluarga Sulawesi, yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri, mereka selalu mengatakan. “Saya dulu dikasih tahu Ibu (Mama) seperti ini lho, supaya bisa bergaul di masyarakat, supaya tidak kaku. Saya ingat-ingat betul itu Mbak! Besar sekali jasa-jasa Ibu itu sama saya, sudah seperti Ibu saya sendiri” atau ketika salah satu sepupu saya istrinya hamil anak pertama dan sedang ikut suaminya di Gresik, dia mengatakan, “Mamanya Ichan to, kasih tau sa, kalau hamil di Jawa paling enak pas ada Ibu itu! Kita dijaga betul-betul itu di. Kalau sekarang? daripada saya kasih repot Mamanya Ichan dengan Mamanya Fafa, lebih baik sa merengek dengan Mamaku to!”. Haha, langsung miris, besok-besok eike kalau hamil begimane? 😛

Atau ketika saya bertemu dengan tetangga-tetangga, dan mereka mengatakan, “Masya Allah, kalau ngeliat Mbak Ludi sama adik-adik selalu ingat sama Almarhumah. Kalau ketawa sama, ngomong juga sama, halus-halusnya juga sama”. Walaupun sebenarnya saya pribadi nggak terima disebut demikian, karena Mama pasti jauh lebih halus dan supel daripada saya. Hehe.

Atau ketika saya bertemu dengan orang lain diluar sana, kemudian ternyata saya tahu tips-tips kecil dalam memasak, membersihkan rumah atau jamu-jamu tradisional dan mereka bertanya, darimana saya tahu. Saya selalu menjawab Mama yang ngajarin kayak gini atau gitu. Mama bilang perempuan nggak baik kalau gini, walaupun tomboy tapi yang kayak gini harus tahu. Dan mereka akan terkagum-kagum karena walaupun Mama meninggal saat saya masih muda tapi sempat mengajari begitu banyak hal.

Atau saat bertemu dengan teman-teman lama Mama, mulai cerita lucu sampai mengharukan selalu saya dengar. Dan kerap kali terdengar ungkapan terima kasih atau penghargaan yang besar dari mereka untuk Mama. Yang Mama lakukan bukan hal besar seperti menyelamatkan dunia atau semisalnya. Beliau hanya sedikit berempati dan memberikan solusi tanpa banyak bicara.

Walaupun tidak semua ajaran beliau bisa saya terapkan, karena terkadang ada yang salah juga (Mama saya hanya manusia biasa) atau ada ajaran beliau yang bertentangan dengan syariat islam, namun Alhamdulillah, bekal yang beliau berikan sudah cukup membantu. Saat ngomel bahwa nama seorang Ibu jarang disebut atas kesuksesan anak-anaknya, Mama lupa, bahwa kebaikan-kebaikan kecil itu bertahan selamanya. Mama lupa bahwa kami tahu semua hal dari Mama. Mama yang menjadi guru kami pertama kali dan Mama melupakannya. Bukan salah Mama juga sih, sebagian besar adalah salah kami karena kurang bisa memberi penghargaan yang pantas atas semua ajaran dan pengorbanan beliau.

Mama lupa bahwa ada yang disebut dengan amal jariyah, dan itu merupakan investasi jangka panjang. Mama lupa bahwa Allah SWT tidak menggunakan kalkulator yang sama dengan manusia untuk mengukur amalan tersebut. Dampaknya mungkin tidak lagi dirasakan oleh Mama, namun lihatlah kami bertiga. Sepeninggal Mama kami tidak makin terpuruk malah sebaliknya. Kami tidak makin nakal malah sebaliknya. Kami tidak makin menjauh dari Allah malah sebaliknya. Mama lupa, bahwa penilaian dari Allah jauh lebih penting daripada perkataan manusia. Ya, beliau melupakan itu semua karena beliau hanya manusia, sama seperti Papa dan kami bertiga.

Kebaikan itu bahasa hati. Dan hanya hati yang bisa menyentuh hati. Dan siapa yang lebih baik dalam mengenali hati manusia selain Allah SWT. Do’a Mama yang tulus telah mengetuk pintu Arsy dan membuat Allah SWT berkenan menurunkan semua karunia dan anugerah sehingga posisi kami seperti saat ini. Apa-apa yang membekas di hati orang-orang itu pun, membekas juga akhirnya di hati kami.

Dan semoga Mama bisa melihatnya sekarang, betapa kami bangga dan bersyukur, bahwa Mama-lah yang menjadi ibu kami.

Mama, Kalau Mama masih bisa melihat dan mendengar, Mama pasti akan kagum sendiri dengan apa yang Mama lakukan buat orang-orang itu. Bekas seperti apa yang tertinggal dalam hati mereka pasti akan membuat Mama terharu.

Selamat ulang tahun, Ma. Sampai ketemu di kebahagiaan yang abadi

-Ludi-

Advertisements

2 thoughts on “Selamat 12 Desember Mama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s