Sisi melankolis saya (fufufu..)

Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakaatuh,

Jauh di dalam lubuk hati saya, saya percaya, bahwa saya adalah orang yang melankolis. Walaupun, saya sadar saya melankolis untuk hal yang berbeda. Ah, pasti teman-teman yang mengenal saya tertawa membaca kalimat pertama tersebut, karena saya memang tidak suka melihat drama, jatuh tertidur saat melihat film romantis, dan seringkali mengeluarkan komentar tentang suatu adegan, dan membuat scene yang saya komentari tersebut menjadi scene komedi.

Saya pun penasaran, mengapa saya tidak bisa seperti perempuan normal pada umumnya, yang sensitif dan perasa, yang seketika galau melihat adegan tertentu atau dengan mudahnya bilang “aaww, so sweeettttt..” dengan tulus.

Lantas?

Saya tersentuh oleh hal-hal yang berbeda. Sedari kecil, saya tidak suka ketidak adilan, dan ketidak adilan mampu membuat hati kecil saya menangis. Saat kecil saya pernah dinyanyikan oleh Mama lagu “sepasang rusa”, ada yang tahu? Singkat cerita dari lagu tersebut, sepasang rusa yang kasmaran dua-duanya mati. Yang satu mati karena ditembak pemburu, yang satu mati karena kesepian. Saya tidak tega membayangkan si rusa yang tidak salah apa-apa ini ditembak pemburu sampai mati, padahal dia sedang asyik bermain. Saya juga tidak tega membayangkan rusa satunya yang dengan bodohnya masuk jurang karena patah hati. Kan di hutan masih banyak rusa yang lain? Kenapa tidak main saja dengan rusa yang lain? Tapi ya, hewan memang seperti itu, beda dengan manusia, kurang akal.

Saya juga menangis saat melihat film Kingkong di bioskop, karena Kingkong dibawa dari rumahnya yang nyaman ke kota dan jadi barang tontonan. Saat ia mulai berbahaya, ia diburu sampai mati. Salah siapa pergi ke rumah Kingkong padahal orang lain sudah melarang? Ngapain monyet segede gaban itu dibawa ke kota nggak pakai pawang? Terus kalau dia bikin keributan karena memang dia risih hidup disitu salah dia? (Maaf, tiba-tiba terbawa suasana).

Tidak hanya sebatas binatang-binatang yang diperlakukan dengan tidak adil saja, saya juga tersentuh saat ada adegan anak yang terpaksa putus sekolah karena keadaan. Atau melihat orang yang sudah berusaha keras dengan jujur, diperlakukan tidak adil dan diberhentikan misalnya seperti di film Ainun Habibie saat adegan di IPTN saat pak Habibie baru saja mundur dari jabatan presiden. Saya sedih sekali saat pesawat itu dielus-elus oleh Pak Habibie.

Tapi kan cerita romantis kebanyakan seperti itu? Misalkan di Perahu Kertas, mereka harus menahan perasaan sampai lama dan berlarut-larut sampai akhirnya mereka harus menyakiti orang lain sampai bisa bersatu. Atau film korea dimana si cowok harus tetap mengejar mimpi, dan si cewek harus merelakan si cowok tadi. Sama-sama tidak adil kan? Cinta mereka tulus, murni, tanpa keinginan untuk menyakiti, mengapa nasib harus berlaku tidak adil kepada mereka? >> pembelaan teman-teman saya.

Masalahnya saya tahu, kalau jalan yang mereka pilih tidak benar-benar lurus. Kalau memang salah, fair dong kalau diperlakukan tidak adil?! 😀 (Untuk urusan yang satu itu-baca: cinta2an- saya memang “bodoh” amit-amit). Kalau tidak bisa bersama, ya tinggalkan. Sesimpel itu. Sakit hati, tidak rela, dan tercabik-cabik itu lumrah. Tapi kalau memang jalannya tidak diridhoi Allah, maka itu bukan jalan yang benar, Insya Allah ada jalan keluar yang lebih baik. Ibaratnya nih, mau dapat sekolah gratis tapi nggak mau berusaha ngasih yang terbaik buat mendapatkan gratisan tersebut. Berarti si nasib adil dong kalau jalan tersebut berujung sakit tak terkira? Kalau sudah berusaha pakai jalan yang benar tapi tetap ada rintangan, dianggap ujian saja, berarti setelah ini kita naik kelas. Tinggal perspektifnya saja ditaruh mana dan seberapa besar hati kita mau jujur dengan kebenaran yang kebanyakan memang pahit. You are not smart enough if you think I can easily said it because I have no experience. Karena saya nggak bisa cerita secara gamblang di blog (demi menjaga aib orang banyak), then let’s say I know enough to make those statements. Pisau itu tajam karena terus diasah, benar? Hehe.

Jadi apakah saya cewek tomboy yang menganggap hal-hal romantis itu cheesy?

Nggak juga. Saya suka bunga (lihat saja background blog saya). Saya suka memberi dan menerima hadiah, apapun itu. Saya suka momen-momen dimana saya duduk di coffee shop dan menemani teman-teman atau adik-adik saya melalui saat galaunya. Saya suka mendukung orang lain meraih impian-impian (bukan obsesi) mereka. Saya suka semua hal-hal cheesy tersebut dengan segenap hati dan perasaan saya dengan satu syarat, yaitu pada tempat dan porsinya. Kalau tidak yaaa..sekedar dihargai saja. Cuma lewat di kepala saya. Tega? kudu gitu atau saya yang sakit hati karena empati tidak pada tempatnya. Hehe.

Nah, benar kan? Sebenarnya jauh didalam lubuk hati saya, saya ini orang yang melankolis dan perasa. Walaupun tidak bisa dibuktikan melalui kata-kata manis atau dari kemampuan saya menonton film drama, tapi saya yakin, karakteristik tersebut tetap ada meski dalam bentuk yang berbeda.

Alhamdulillah, ternyata saya memang seorang wanita, bukan hanya bro semata. 😉

salam-sudah ditulis sejak jaman farewell Zouxin (Februari 2013), tapi baru publish sekarang karena selalu geli sendiri habis baca-

-Ludi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s